BANDA ACEH 18 Mei 2026 – Provinsi Aceh dilaporkan menjadi daerah dengan temuan kasus malaria knowlesi atau yang dikenal sebagai “malaria monyet” tertinggi di Indonesia. Kondisi ini memicu perhatian serius dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya warga yang tinggal atau sering beraktivitas di kawasan hutan dan wilayah vegetasi lebat.

Peringatan tersebut muncul setelah meningkatnya laporan kasus malaria knowlesi di beberapa wilayah Aceh dalam beberapa waktu terakhir. Penyakit ini dinilai perlu mendapatkan perhatian karena berpotensi menyebabkan infeksi berat apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Menurut IDAI, malaria knowlesi disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi yang umumnya hidup pada monyet ekor panjang dan beruk. Penularan terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang telah terinfeksi parasit tersebut. Berbeda dengan malaria biasa, penyakit ini tidak menular langsung antar-manusia, melainkan melalui perantara nyamuk dari hewan ke manusia.

Gejala malaria knowlesi umumnya menyerupai malaria pada umumnya, yakni demam tinggi, menggigil, tubuh berkeringat, sakit kepala, lemas, hingga nyeri otot. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi komplikasi serius apabila penderita terlambat mendapatkan pengobatan.

Pemerintah dan tenaga kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala demam setelah beraktivitas di area hutan atau perkebunan. Pemeriksaan dini melalui tes darah menjadi langkah penting untuk memastikan diagnosis serta mencegah kondisi yang lebih parah.

Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Aceh, investigasi terhadap kasus malaria knowlesi juga melibatkan lembaga internasional untuk menelusuri pola penyebaran penyakit tersebut di sejumlah wilayah. Lingkungan hutan tropis Aceh yang masih luas dinilai menjadi salah satu faktor meningkatnya interaksi antara manusia, nyamuk, dan habitat primata pembawa parasit.

Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian masyarakat Aceh masih menggantungkan aktivitas ekonomi pada kawasan hutan, seperti berkebun, berburu, mengambil hasil hutan, maupun bekerja di sektor perkebunan dan pertambangan.

Seorang tenaga kesehatan di Aceh menyebutkan bahwa masyarakat yang sering berada di kawasan hutan memiliki risiko lebih tinggi terkena malaria knowlesi, terutama apabila tidak menggunakan perlindungan diri dari gigitan nyamuk.

“Banyak warga yang bekerja hingga malam hari di kebun atau hutan tanpa pelindung tubuh yang memadai. Ini meningkatkan risiko tergigit nyamuk pembawa malaria,” ujarnya.

Untuk mencegah penyebaran penyakit, masyarakat diimbau melakukan sejumlah langkah preventif, antara lain menggunakan losion anti-nyamuk atau repelen saat beraktivitas di luar ruangan, memakai pakaian lengan panjang dan celana panjang berwarna terang ketika memasuki area hutan, serta menggunakan kelambu saat tidur, khususnya di wilayah rawan malaria.

Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi genangan air juga dinilai penting untuk menekan populasi nyamuk penyebar penyakit.

Kalangan akademisi kesehatan menilai meningkatnya kasus malaria knowlesi harus menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem surveilans penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan. Perubahan lingkungan, pembukaan hutan, serta meningkatnya aktivitas manusia di sekitar habitat satwa liar dinilai turut meningkatkan potensi penularan penyakit dari hewan ke manusia.

Fenomena ini juga memperlihatkan pentingnya pendekatan kesehatan terpadu atau One Health, yaitu kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan dalam mencegah penyebaran penyakit menular.

Masyarakat diharapkan tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Jika mengalami demam setelah bepergian atau bekerja di kawasan hutan, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan pemeriksaan laboratorium dan penanganan medis sedini mungkin.

Pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan juga diharapkan terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya malaria knowlesi serta langkah pencegahannya, terutama di daerah pedalaman dan wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Sumber terkait:

Leave a comment