Oleh: Redaksi tribunaceh6

Idul Adha 1447 Hijriah datang kembali membawa gema takbir, aroma masakan di dapur keluarga, dan suara hewan kurban di halaman masjid. Di berbagai daerah Indonesia, masyarakat menyambut Hari Raya Qurban pada Rabu, 27 Mei 2026 dengan penuh suka cita. Ribuan sapi, kambing, dan domba dipersiapkan bukan sekadar sebagai hewan sembelihan, tetapi sebagai simbol ketaatan, solidaritas sosial, dan kemanusiaan.

Namun pada saat yang hampir bersamaan, publik Indonesia juga disuguhkan film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale. Film tersebut memperlihatkan bagaimana tanah Papua berubah menjadi arena perebutan kekuasaan, investasi, dan eksploitasi sumber daya alam atas nama pembangunan, energi hijau, dan proyek pangan nasional.

Dua peristiwa ini tampak berbeda. Yang satu adalah ritual keagamaan penuh nilai spiritual, sementara yang lain adalah dokumentasi konflik ekologis dan sosial di Papua. Tetapi jika dicermati lebih dalam, keduanya berbicara tentang satu hal yang sama: bagaimana manusia memaknai kehidupan, kekuasaan, dan pengorbanan.

Qurban dalam tradisi Islam lahir dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. Esensi qurban bukanlah darah atau daging semata, melainkan keikhlasan, pengendalian diri, dan keberanian menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan pribadi.

Karena itu, Idul Adha selalu identik dengan semangat berbagi. Daging dibagikan kepada tetangga, kaum miskin, dan masyarakat yang membutuhkan. Di banyak daerah, qurban bahkan menjadi simbol gotong royong sosial yang menyatukan masyarakat lintas kelas.

Menariknya, perayaan Qurban 1447 H tahun ini menunjukkan perubahan sosial yang cukup signifikan. Generasi muda mulai memanfaatkan platform digital untuk berkurban secara daring. Fenomena digital qurban berkembang pesat karena dianggap lebih praktis dan mampu menjangkau distribusi hingga ke pelosok daerah.

Lembaga-lembaga filantropi juga mulai mengusung konsep eco-qurban atau kurban minim sampah. Pemerintah daerah seperti Gunungkidul mendorong masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan pembungkus ramah lingkungan.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menerjunkan ribuan petugas kesehatan hewan untuk memastikan hewan kurban bebas dari penyakit seperti PMK, LSD, dan antraks. Semua dilakukan demi menjaga keselamatan masyarakat dan kualitas ibadah.

Ada nilai penting di sana: qurban bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap kehidupan.

Ironisnya, penghormatan terhadap kehidupan itu justru terasa kontras ketika melihat realitas dalam film Pesta Babi.

Di Papua Selatan, jutaan hektare hutan dibuka untuk proyek perkebunan tebu dan sawit demi mendukung biodiesel dan bioetanol. Ribuan alat berat masuk ke wilayah adat. Kampung-kampung berubah menjadi kawasan industri. Masyarakat adat kehilangan ruang hidup yang selama ratusan tahun menjadi sumber identitas mereka.

Bagi masyarakat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, hutan bukan sekadar pohon. Ia adalah rumah, dapur, sekolah, apotek, bahkan tempat berdoa. Ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya kayu dan tanah, tetapi juga ingatan kolektif dan masa depan komunitas.

Di titik inilah istilah “Pesta Babi” menjadi metafora yang sangat tajam.

Dalam budaya tertentu di Papua, pesta babi adalah simbol kebersamaan dan ritual adat. Tetapi dalam film ini, “pesta” justru menggambarkan pesta kekuasaan dan investasi yang berlangsung di atas penderitaan masyarakat lokal.

Ada ironi besar yang muncul.

Di Hari Raya Qurban, manusia diajarkan untuk menahan nafsu dan berbagi kepada sesama. Tetapi dalam praktik pembangunan modern, manusia justru sering mempertontonkan kerakusan atas tanah, hutan, dan sumber daya alam.

Qurban mengajarkan pengorbanan diri. Sedangkan kolonialisme modern sering kali mengorbankan orang lain demi keuntungan ekonomi.

Qurban mendidik manusia agar lebih peduli terhadap kaum lemah. Sedangkan ekspansi industri sering kali membuat masyarakat adat menjadi pihak yang paling rentan kehilangan hak hidupnya.

Film Pesta Babi memperlihatkan bagaimana masyarakat adat memasang salib merah sebagai simbol perlawanan terhadap perusahaan dan militer. Sedikitnya 1.800 salib merah telah berdiri di Papua Selatan sebagai tanda bahwa ada masyarakat yang merasa sedang dipinggirkan di tanahnya sendiri.

Pertanyaannya kemudian: pembangunan untuk siapa?

Jika pembangunan menghadirkan kemajuan tetapi sekaligus menghancurkan ruang hidup masyarakat adat, apakah itu benar-benar kemajuan?

Jika transisi energi hijau dilakukan dengan merusak hutan dan menggusur komunitas lokal, apakah itu masih bisa disebut ramah lingkungan?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat film Pesta Babi terasa penting untuk direnungkan, terutama di momentum Idul Adha.

Karena sesungguhnya, Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan. Idul Adha adalah tentang menyembelih keserakahan, egoisme, dan hasrat menguasai secara berlebihan.

Di tengah dunia yang semakin materialistik, manusia sering lupa bahwa kekuasaan tanpa empati dapat berubah menjadi bentuk kolonialisme baru. Bukan lagi penjajahan dengan senjata klasik, tetapi dengan investasi, proyek industri, dan jargon pembangunan.

Papua hari ini menjadi cermin besar tentang bagaimana negara, korporasi, militer, agama, dan masyarakat adat saling berhadapan dalam perebutan masa depan.

Dan mungkin, di tengah gema takbir Idul Adha tahun ini, ada satu pesan penting yang perlu kembali dihidupkan: bahwa nilai tertinggi dalam kehidupan bukanlah seberapa banyak yang bisa kita kuasai, melainkan seberapa besar kita mampu menjaga kehidupan orang lain.

Sebab pada akhirnya, qurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih. Qurban adalah tentang kemanusiaan yang seharusnya tetap hidup di tengah ambisi pembangunan dan pesta kekuasaan manusia modern.

Leave a comment

Tokoh

Quote of the week

“Pendidikan adalah pangkalan kehidupan, tidak peduli di mana Anda berada.”

– Malcolm X