
ASKARA 25 Mei 2026 – Tak banyak yang menyangka ribuan ayam kampung mampu melahirkan sistem pertanian organik terpadu yang produktif. Namun itulah yang dipaparkan Rochmad Taufiq dalam asesmen fasilitator organik nasional di BBPP Lembang. Berawal dari kebiasaan sederhana memelihara ayam, ia berhasil membangun pupuk organik fermentasi, kebun pisang organik, hingga konsep ekonomi sirkular berbasis peternakan rakyat yang dinilai aplikatif dan relevan bagi pertanian masa depan.
Suasana aula Balai Besar Pelatihan Pertanian BBPP Lembang, Bandung Barat, Kamis 21 Mei 2026 mendadak berubah hangat ketika Rochmad Taufiq mulai memaparkan pengalamannya membangun pertanian organik terpadu. Forum asesmen fasilitator organik nasional yang biasanya berlangsung formal justru dipenuhi gelak tawa saat ia memperkenalkan istilah sederhana yang disebutnya sebagai “teori gara gara”. Meski terdengar ringan, teori tersebut menyimpan gagasan besar tentang hubungan antara ternak, pupuk, tanah, mikroba, dan tanaman dalam satu ekosistem pertanian berkelanjutan.
Keberadaan BBPP Lembang sebagai pusat pelatihan pertanian nasional sendiri merupakan lembaga resmi di bawah Kementerian Pertanian yang selama ini aktif mengembangkan pelatihan pertanian dan penyuluhan bagi masyarakat. Validitas keberadaan lembaga ini tercantum dalam dokumen resmi PPID BBPP Lembang tahun 2023 yang dipublikasikan Kementerian Pertanian.
Dalam forum tersebut, Rochmad menceritakan bahwa seluruh sistem pertanian yang ia bangun bermula dari kebiasaan sederhana memelihara ayam kampung. Awalnya ia hanya memiliki 10 ayam betina dan satu ayam jantan. Dengan pola ternak alami dan disiplin menetaskan telur, populasi ayam berkembang secara bertahap hingga mencapai ribuan ekor dalam waktu sekitar tiga tahun.
“Awalnya saya hanya berpikir bagaimana ayam bisa berkembang. Lama lama saya sadar, dari ayam muncul kotoran, dari kotoran lahir pupuk, lalu dari pupuk tumbuh kebun pisang organik,” ujar Rochmad di hadapan peserta asesmen.
Cerita tersebut terdengar sederhana, tetapi justru menjadi inti dari konsep ekonomi sirkular yang kini semakin banyak dibicarakan dalam sektor pertanian modern. Limbah peternakan yang selama ini dianggap masalah diubah menjadi sumber daya produktif. Kotoran ayam difermentasi menjadi pupuk organik, sementara hasil pupuk digunakan untuk menopang budidaya pisang kepok kuning atau kepok tanjung.

Dalam paparannya, Rochmad menjelaskan bahwa pertanian organik tidak cukup hanya mengganti pupuk kimia dengan pupuk alami. Menurutnya, pertanian organik harus membangun hubungan yang saling terhubung antara ternak, tanah, tanaman, mikroba, dan lingkungan sekitar.
Ia kemudian memaparkan pola budidaya pisang organik yang diterapkan di lahannya. Pada area sekitar 3.000 meter persegi digunakan jarak tanam 3 x 3 meter dengan populasi sekitar 333 pohon. Setiap lubang tanam diisi kompos matang, serabut kelapa, dan mineral alami untuk memperkuat akar tanaman sekaligus membantu mengurangi gangguan hama tanah.
Di sela pemaparan, Rochmad juga memperlihatkan bagaimana limbah ternak diolah menggunakan sistem fermentasi kandang litter. Lapisan ranting, sekam, kotoran kambing, dan kotoran sapi disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan proses fermentasi alami di dalam kandang. Sistem tersebut tidak hanya membantu mengurangi bau, tetapi juga menghasilkan mikroba alami yang berguna bagi kesehatan ternak dan kesuburan tanah.
Dalam waktu sekitar tiga bulan, seluruh lapisan litter berubah menjadi pupuk organik yang siap digunakan di kebun pisang. Pendekatan ini menarik perhatian peserta asesmen karena dinilai mampu menekan biaya produksi petani secara signifikan.
Konsep tersebut sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap pertanian berkelanjutan dan pengurangan ketergantungan pada pupuk kimia. Pemerintah sendiri dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong penguatan sektor peternakan dan pertanian rakyat sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional. Peningkatan populasi peternakan ayam rakyat bahkan sempat disoroti Kementerian Pertanian pada 2026 karena tingginya minat masyarakat mengembangkan usaha ternak mandiri.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Rochmad menjelaskan konsep “Bank Allah”. Menurutnya, menabung tidak selalu harus berbentuk uang di lembaga keuangan. Menabung bisa dilakukan melalui aset produktif seperti ayam, kambing, maupun tanaman pisang.
“Kalau menabung ayam, ayam berkembang biak. Kalau menabung pohon pisang, nanti muncul anakan baru. Semuanya tumbuh karena keberkahan alam yang Allah berikan,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan dengan gaya sederhana dan penuh humor, tetapi mengandung filosofi ekonomi kerakyatan yang kuat. Ia ingin menunjukkan bahwa masyarakat desa sebenarnya memiliki banyak potensi ekonomi produktif apabila mampu mengelola sumber daya yang ada di sekitarnya secara konsisten.
Tidak hanya fokus pada pupuk dan ternak, Rochmad juga memperkenalkan ramuan fermentasi herbal bernama KUTEJA yang dibuat dari kunyit, temulawak, dan jahe. Bahan bahan herbal tersebut dicampur dengan air kelapa dan gula merah untuk mendukung kesehatan ternak serta tanaman secara alami.

Pendekatan berbasis bahan lokal itu memperlihatkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus mahal atau bergantung pada produk industri besar. Banyak solusi justru dapat lahir dari pengetahuan lokal yang diwariskan masyarakat desa dan dipadukan dengan pemahaman pertanian modern.
Asesor nasional Dr. Isma Puji Ruwaida tampak beberapa kali tersenyum dan tertawa mengikuti jalannya diskusi. Forum asesmen yang biasanya berlangsung serius berubah menjadi ruang berbagi pengalaman yang hidup dan komunikatif. Para peserta terlihat antusias karena teori “gara gara ayam” yang dipaparkan Rochmad ternyata memiliki logika ekonomi dan ekologis yang mudah dipahami.
Di balik kesederhanaan cerita tersebut, terdapat pelajaran penting mengenai masa depan pertanian Indonesia. Ketika petani mampu mengintegrasikan peternakan, pupuk organik, mikroba alami, dan tanaman dalam satu sistem terpadu, maka ketergantungan terhadap bahan kimia dan biaya produksi tinggi dapat ditekan secara perlahan.
Model seperti itu juga membuka peluang lahirnya pertanian yang lebih mandiri, sehat, dan berkelanjutan di tingkat desa. Pertanian tidak lagi sekadar aktivitas produksi, tetapi menjadi sistem kehidupan yang saling mendukung antara manusia dan alam.
Kegiatan asesmen di BBPP Lembang akhirnya bukan hanya menjadi ruang penilaian kompetensi fasilitator organik nasional. Forum tersebut berubah menjadi panggung inspirasi tentang bagaimana sebuah ide sederhana mampu berkembang menjadi gerakan pertanian terpadu yang aplikatif.
Di tangan Rochmad Taufiq, ayam bukan sekadar ternak. Dari ayam lahir pupuk organik, dari pupuk tumbuh kebun pisang, dan dari proses sederhana itu muncul keyakinan bahwa pertanian masa depan bisa dibangun dari langkah kecil yang dikerjakan secara konsisten dan penuh kesabaran.

Leave a comment