Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kembali mengguncang ruang publik Indonesia. Disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, film ini mengangkat kisah masyarakat adat Papua Selatan yang menghadapi gelombang proyek strategis nasional berskala raksasa.

Dokumenter berdurasi sekitar 95 menit itu menyoroti ekspansi perkebunan sawit, tebu bioetanol, hingga proyek pangan nasional yang disebut mencapai 2,5 juta hektare lahan konversi hutan di Papua.

Di balik angka-angka proyek tersebut, terdapat cerita masyarakat adat yang merasa kehilangan ruang hidupnya.

Yasinta Moiwend, perempuan dari suku Marind Anim, menjadi salah satu tokoh sentral dalam film ini. Ia menceritakan keterkejutannya ketika sebuah kapal besar membawa ratusan ekskavator dan dikawal aparat militer bersandar di kampungnya pada Juli lalu. Kedatangan alat berat itu menjadi awal perubahan besar di wilayah adat mereka.

Bagi masyarakat lokal, proyek yang diklaim sebagai bagian dari “ketahanan pangan” dan “transisi energi” justru dipandang sebagai ancaman terhadap hutan, tanah adat, sungai, dan identitas budaya mereka.

Cerita serupa datang dari Vincen Kwipalo, warga suku Yei, yang mendapati tanah marganya telah dipatok bertuliskan “Tanah Milik TNI AD”. Dalam waktu bersamaan, kawasan hutannya juga masuk dalam konsesi perkebunan tebu. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat adat menghadapi tekanan dari ekspansi industri dan kehadiran aparat keamanan secara bersamaan.

Di Boven Digoel, komunitas Awyu dan Muyu melakukan perlawanan simbolik melalui Gerakan Salib Merah. Mereka memasang ribuan salib merah di kawasan adat sebagai bentuk penolakan terhadap pembukaan lahan dan militerisasi wilayah. Setidaknya 1.800 salib disebut telah berdiri di berbagai titik Papua Selatan.

Meski menggunakan simbol agama, gerakan tersebut digambarkan sebagai bentuk solidaritas sosial dan pertahanan identitas adat.

Film Pesta Babi tidak hanya berbicara tentang konflik agraria, tetapi juga membedah relasi antara kepentingan politik, industri bioenergi, investasi, militer, dan kebijakan pembangunan negara. Dokumenter ini menyebut bahwa proyek-proyek besar di Papua berlangsung di tengah sejarah panjang operasi militer dan eksploitasi sumber daya alam di wilayah tersebut.

Sejumlah pihak menilai dokumenter ini berhasil membuka ruang diskusi baru mengenai arah pembangunan Indonesia di Papua. Namun di sisi lain, film tersebut juga memunculkan kontroversi.

Beberapa pemutaran nonton bareng di sejumlah daerah dilaporkan dibubarkan aparat atau dibatalkan kampus karena alasan keamanan. Di media sosial, perdebatan terkait isi film pun berlangsung sengit. Ada yang menganggap film ini penting sebagai suara masyarakat adat, sementara pihak lain mempertanyakan sudut pandang dan narasi yang dibangun.

Perdebatan semakin memanas setelah muncul pengakuan sejumlah tokoh adat yang merasa tidak mengetahui penggunaan pernyataan mereka dalam film tersebut.

Meski demikian, perhatian publik terhadap dokumenter ini terus meningkat. Film tersebut kini telah dirilis gratis melalui platform YouTube dan menjadi salah satu dokumenter investigatif Indonesia yang paling banyak dibicarakan sepanjang 2026.

Lewat Pesta Babi, publik diajak melihat Papua bukan hanya sebagai wilayah kaya sumber daya, tetapi juga sebagai ruang hidup manusia yang sedang mempertahankan identitas, hutan, dan masa depan mereka sendiri.

Bagi sebagian orang, film ini adalah kritik keras terhadap praktik kolonialisme modern. Bagi yang lain, ia dianggap sebagai karya kontroversial yang membuka luka lama tentang relasi negara dan Papua.

Namun satu hal yang sulit dibantah: Pesta Babi berhasil membuat isu Papua kembali dibicarakan secara luas di tengah masyarakat Indonesia.

Leave a comment

Tokoh

Quote of the week

“Pendidikan adalah pangkalan kehidupan, tidak peduli di mana Anda berada.”

– Malcolm X