
Pidie Jaya, 1 Mei 2026 — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Baitul Maghfirah, Gampong Blang Awee, Meureudu, Pidie Jaya, saat jamaah melaksanakan Shalat Jumat yang diisi khutbah oleh Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc. Dalam khutbahnya, beliau mengajak umat Islam untuk merenungi hakikat kehidupan melalui tadabbur sejumlah ayat Al-Qur’an, sekaligus menegaskan pentingnya ibadah kurban sebagai wujud ketakwaan.
Mengawali khutbah, Prof. Rahmat mengupas makna mendalam dari Surah Al-Mulk ayat 1 dan 2, yang menegaskan bahwa Allah adalah pemilik segala kerajaan dan yang menciptakan hidup serta mati untuk menguji siapa yang terbaik amalnya. Ia menekankan bahwa kehidupan bukan sekadar perjalanan tanpa arah, melainkan ujian yang menuntut kesadaran, keikhlasan, dan kualitas amal.
“Ukuran keberhasilan hidup bukan panjangnya usia atau banyaknya harta, tetapi seberapa baik amal yang kita lakukan,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Selanjutnya, beliau mengaitkan pesan tersebut dengan Surah At-Tin ayat 4, yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Namun, kemuliaan ini hanya akan bermakna jika manusia mampu menjaga iman dan amal saleh. Tanpa itu, manusia justru bisa jatuh ke derajat yang rendah.
Dalam penjelasannya terhadap Surah Fussilat ayat 33, Prof. Rahmat menyoroti pentingnya dakwah dan kontribusi nyata dalam kehidupan sosial. Menurutnya, sebaik-baik manusia adalah mereka yang menyeru kepada kebaikan, beramal saleh, dan menegaskan identitasnya sebagai muslim.
“Menjadi muslim bukan hanya identitas, tetapi komitmen untuk menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat,” tegasnya.
Khutbah semakin menyentuh ketika beliau mengulas Surah Al-Kautsar ayat 1 dan 2, yang menjadi landasan penting dalam menumbuhkan rasa syukur dan pengorbanan. Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat dan berkurban sebagai bentuk penghambaan.

Prof. Rahmat kemudian mengingatkan bahwa ibadah kurban tidak seharusnya dipandang sebagai amalan sekali seumur hidup. Bagi yang memiliki kemampuan, kurban seharusnya menjadi amalan yang dilakukan berulang kali sepanjang hidup.
“Kurban adalah simbol ketundukan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Ia bukan hanya ritual tahunan, tetapi bentuk nyata dari rasa syukur atas nikmat Allah,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa semangat berkurban mencerminkan kepekaan terhadap sesama, terutama dalam membantu mereka yang membutuhkan. Dalam konteks kehidupan modern, nilai kurban dapat diterjemahkan lebih luas sebagai kesediaan berbagi, berkorban waktu, tenaga, dan harta demi kemaslahatan umat.
Khutbah Jumat tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para jamaah. Pesan yang disampaikan tidak hanya menggugah kesadaran spiritual, tetapi juga mendorong aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan gaya penyampaian yang tenang namun penuh makna, Prof. Rahmat Fadhil berhasil menghadirkan khutbah yang tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif—mengajak umat untuk kembali pada esensi kehidupan: beribadah dengan ikhlas, berbuat baik dengan sungguh-sungguh, dan berkorban dengan penuh keimanan. Ibadah Jumat di masjid yang pernah banjir bandang beberapa waktu yang lalu itu di akhiri dengan imam yang sekaligus Khatib, yaitu Prof. Rahmat Fadhil.
Setelah Jumat Prof Rahmat yang juga Direktur Direktorat Kewirausahaan dan Alumni USK itu menyempatkan diri melihat kembali instalasi air bersih yang merupakan sumbangan USK melalui Rumah Amal beberapa bulan yang lalu. Sambil ditemani perangkat Gampong Blang Awee dan pengurus BKM Baitul Maghfirah, seperti Tgk. Masykur Murtala dan Tgk. Darlianis.

Leave a comment