
JAKARTA 8 Juni 2026 – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat, menyerukan pentingnya pertobatan ekologis sebagai langkah bersama untuk menghadapi krisis lingkungan yang semakin nyata di Indonesia maupun dunia. Seruan tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa kerusakan lingkungan tidak lagi dapat dianggap sebagai persoalan biasa, melainkan ancaman serius bagi keberlangsungan kehidupan manusia.
Dalam pernyataannya, Jumhur menegaskan bahwa kondisi bumi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Menurutnya, perubahan iklim, pencemaran lingkungan, deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya frekuensi bencana alam merupakan tanda bahwa hubungan manusia dengan alam perlu diperbaiki secara mendasar.
“Untuk itu kita bersama-sama perlu melakukan pertobatan ekologis,” demikian pesan yang disampaikan Menteri LH sebagaimana dikutip dalam materi yang beredar luas di media sosial dan pemberitaan nasional.
Krisis Lingkungan Bukan Ancaman Masa Depan, Tetapi Sudah Terjadi
Berbagai indikator menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukan lagi ancaman yang akan datang, melainkan sedang berlangsung saat ini. Fenomena cuaca ekstrem, banjir, kekeringan berkepanjangan, abrasi pantai, serta penurunan kualitas udara dan air menjadi kenyataan yang dirasakan masyarakat di berbagai daerah.
Di Indonesia, tantangan lingkungan semakin kompleks akibat tekanan pembangunan, pertumbuhan penduduk, dan eksploitasi sumber daya alam yang belum sepenuhnya berkelanjutan. Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya dampak aktivitas manusia terhadap penurunan kualitas ekosistem perairan dan kawasan pesisir.
Apa Itu Pertobatan Ekologis?
Istilah pertobatan ekologis tidak hanya bermakna menjaga kebersihan lingkungan atau menanam pohon. Konsep ini mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap alam, dari yang semula berorientasi pada eksploitasi menjadi hubungan yang lebih harmonis dan bertanggung jawab.
Pertobatan ekologis mencakup berbagai tindakan nyata, seperti:
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
- Menghemat energi dan air.
- Mengelola sampah secara bertanggung jawab.
- Mendukung pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati.
- Mengembangkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.
- Meningkatkan kesadaran lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Tanggung Jawab Bersama
Pengamat lingkungan menilai bahwa upaya mengatasi krisis ekologis tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat umum memiliki peran penting dalam membangun budaya ramah lingkungan.
Perguruan tinggi, misalnya, dapat menjadi pusat inovasi teknologi hijau dan edukasi lingkungan. Sementara masyarakat dapat memulai perubahan dari hal-hal sederhana di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun ruang publik.
Momentum untuk Bertindak
Seruan Menteri LH menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan agar generasi mendatang tetap memiliki lingkungan yang sehat dan layak huni.
Krisis lingkungan mungkin tidak selalu terlihat secara langsung setiap hari. Namun dampaknya perlahan menyentuh seluruh aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, ketahanan pangan, ekonomi, hingga masa depan anak cucu.
Karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab bersama bukan lagi apakah krisis lingkungan sedang terjadi, melainkan apa yang sudah kita lakukan untuk mengatasinya.
“Bumi tidak membutuhkan manusia untuk bertahan. Manusialah yang membutuhkan bumi untuk tetap hidup.” Sebuah pengingat sederhana bahwa menjaga lingkungan sesungguhnya adalah menjaga masa depan kita sendiri. 🌱🌍
Editor: Redaksi tribunaceh6


Leave a comment