
BANDA ACEH – Unggahan edukasi kesehatan dari Konsep Karnus yang mengajak orang tua untuk tidak memberikan telur dadar kepada anak memicu diskusi luas di media sosial. Dalam rangka Hari Anak Sedunia, unggahan tersebut menyoroti bahwa kualitas nutrisi telur tidak hanya ditentukan oleh jenis makanannya, tetapi juga cara pengolahannya.
Konsep Karnus merekomendasikan tiga metode memasak telur yang dinilai lebih baik, yaitu telur rebus, telur ceplok, dan telur kukus, karena dianggap mampu menjaga kandungan nutrisi telur lebih optimal dibandingkan telur dadar.
Telur Tetap Menjadi Sumber Gizi Penting
Terlepas dari perdebatan mengenai cara memasak, para ahli gizi sepakat bahwa telur merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik untuk anak.
Telur mengandung protein berkualitas tinggi, kolin untuk perkembangan otak, biotin, vitamin A, vitamin D, vitamin B12, zat besi, selenium, dan berbagai mineral penting lainnya yang dibutuhkan selama masa pertumbuhan.
Karena kandungan gizinya yang lengkap, telur sering disebut sebagai salah satu makanan dengan kepadatan nutrisi tertinggi yang mudah diperoleh masyarakat.
Mengapa Telur Dadar Dipersoalkan?
Menurut penjelasan dalam unggahan tersebut, ketika putih dan kuning telur dicampur melalui proses pengocokan sebelum dimasak, terjadi interaksi antara protein avidin dalam putih telur dan biotin yang banyak terdapat pada kuning telur.
Konsep Karnus menyebut bahwa kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas nutrisi telur. Selain itu, telur dadar umumnya dimasak pada suhu yang lebih tinggi dan waktu yang lebih lama sehingga berpotensi meningkatkan oksidasi komponen tertentu dalam telur.
Namun, sejumlah kajian ilmiah menunjukkan bahwa masalah utama avidin sebenarnya terdapat pada telur mentah. Ketika telur dimasak, panas akan merusak struktur avidin sehingga kemampuannya mengikat biotin menurun secara drastis. Dengan demikian, biotin justru menjadi lebih mudah diserap tubuh setelah telur dimasak.
Mengapa Telur Rebus, Ceplok, dan Kukus Direkomendasikan?
Dalam gambar lanjutan, Konsep Karnus menyatakan bahwa telur rebus, telur ceplok, dan telur kukus dinilai mampu menjaga nutrisi karena proses pemanasannya lebih sederhana.
Ketiga metode tersebut memang memiliki beberapa keunggulan:
- Tidak memerlukan banyak minyak tambahan.
- Risiko oksidasi lemak lebih rendah dibanding penggorengan yang terlalu lama.
- Kehilangan vitamin akibat panas relatif lebih kecil jika dimasak dengan suhu yang tepat.
- Protein telur tetap mudah dicerna tubuh.
Secara umum, metode memasak dengan panas sedang dan waktu yang tidak berlebihan memang lebih baik untuk mempertahankan kualitas nutrisi berbagai bahan pangan, termasuk telur.
Benarkah Avidin dan Biotin Harus Tetap Terpisah?
Salah satu poin dalam unggahan menyebutkan bahwa nutrisi lebih terjaga karena avidin dan biotin tetap terpisah.
Meski demikian, literatur ilmiah menunjukkan bahwa pengaruh avidin terhadap penyerapan biotin terutama terjadi pada kondisi telur mentah. Ketika telur dimasak hingga matang, avidin mengalami denaturasi sehingga tidak lagi mengikat biotin secara efektif. Oleh karena itu, baik telur rebus, ceplok, kukus, maupun telur dadar yang dimasak dengan benar tetap dapat menyediakan biotin bagi tubuh.
Yang Lebih Penting adalah Cara Memasaknya
Para ahli menilai bahwa kualitas nutrisi telur lebih dipengaruhi oleh suhu dan durasi memasak dibanding sekadar bentuk olahannya.
Telur dadar yang dimasak dengan api sedang dan tidak sampai gosong tetap merupakan makanan bergizi. Sebaliknya, telur rebus atau ceplok yang dimasak terlalu lama juga dapat mengalami penurunan sebagian kandungan nutrisi sensitif panas.
Karena itu, orang tua tidak perlu menghindari telur dadar secara mutlak. Variasi cara memasak justru dapat membantu anak tidak bosan sekaligus tetap memperoleh manfaat nutrisi telur secara optimal.
Kesimpulan
Unggahan Konsep Karnus mengingatkan masyarakat bahwa cara pengolahan makanan turut memengaruhi kualitas nutrisi. Telur rebus, telur ceplok, dan telur kukus memang termasuk metode memasak yang sederhana dan minim tambahan lemak sehingga sering dianggap lebih baik dalam menjaga kandungan gizi.
Namun, berdasarkan kajian ilmiah, telur dadar yang dimasak dengan benar tetap merupakan sumber protein dan nutrisi yang sangat baik bagi anak. Fokus utama seharusnya bukan pada larangan mengonsumsi telur dadar, melainkan pada penerapan teknik memasak yang sehat serta pola makan yang seimbang dan beragam.
Sumber: Materi edukasi Konsep Karnus, National Institutes of Health (NIH), serta berbagai publikasi ilmiah mengenai avidin, biotin, dan pengaruh metode memasak terhadap kualitas nutrisi telur.

Leave a comment