Editor : Redaksi tribunaceh6

“Mengapa banyak dosen belum melanjutkan S3? Bukan karena tidak mampu. Kadang hanya belum sampai pada waktunya.”

Kalimat sederhana yang beredar di media sosial itu terdengar ringan. Namun jika dicermati lebih dalam, ia menyimpan realitas yang jarang dibicarakan secara jujur di lingkungan perguruan tinggi Indonesia.

Selama ini, masyarakat sering melihat dosen sebagai kelompok intelektual yang identik dengan pendidikan tinggi. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa dosen yang belum bergelar doktor (S3) adalah dosen yang kurang berprestasi atau kurang memiliki kemampuan akademik.

Benarkah demikian?

Jawabannya: tidak selalu.

Di balik belum bertambahnya gelar “Dr.” di depan nama seorang dosen, sering tersembunyi berbagai perjuangan yang tidak terlihat. Mulai dari keterbatasan ekonomi, tanggung jawab keluarga, beban administrasi kampus yang semakin berat, hingga sistem pendidikan tinggi yang terkadang lebih banyak menuntut daripada memfasilitasi.

Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah, “Mengapa dosen itu belum S3?” melainkan, “Mengapa banyak dosen yang sebenarnya mampu, tetapi belum memiliki kesempatan yang cukup untuk melanjutkan S3?”

Dosen Indonesia Sedang Berada di Persimpangan

Indonesia saat ini memiliki lebih dari 300 ribu dosen yang tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam beberapa tahun terakhir, jumlah dosen bergelar doktor memang terus meningkat, tetapi persentasenya masih relatif rendah dibandingkan kebutuhan nasional.

Di banyak perguruan tinggi daerah, terutama di luar Pulau Jawa, masih terdapat sejumlah program studi yang kekurangan dosen bergelar doktor.

Padahal regulasi dan tuntutan akreditasi semakin mengarah pada peningkatan kualitas sumber daya manusia akademik.

Di satu sisi dosen didorong untuk meningkatkan kualifikasi akademiknya. Namun di sisi lain mereka juga dibebani berbagai target dan pekerjaan yang tidak sedikit.

Akibatnya, banyak dosen berada dalam situasi dilematis.

Mereka ingin kuliah S3.

Mereka mampu secara akademik.

Tetapi mereka belum menemukan waktu dan kondisi yang tepat.

Mitos Besar: Belum S3 Berarti Tidak Mampu

Inilah salah satu stigma yang perlu diluruskan.

Masuk program doktor bukan hanya soal kecerdasan.

Banyak dosen yang telah menyelesaikan S2 dengan prestasi sangat baik. Mereka aktif meneliti, menulis artikel ilmiah, menjadi narasumber seminar, bahkan membimbing mahasiswa menghasilkan inovasi yang membanggakan.

Kemampuan akademik mereka tidak diragukan.

Namun studi doktoral bukan sekadar proses belajar.

S3 adalah proyek kehidupan.

Ia menuntut waktu, tenaga, pikiran, emosi, dan biaya yang tidak sedikit.

Karena itu, keputusan melanjutkan S3 tidak bisa disamakan dengan keputusan mengikuti pelatihan beberapa hari atau mengambil sertifikasi profesional.

Banyak dosen sebenarnya sudah memenuhi syarat akademik, tetapi sedang menunggu kesiapan pada aspek lainnya.

Ketika Keluarga Menjadi Prioritas

Mari berbicara jujur.

Tidak semua dosen hidup dalam kondisi yang ideal.

Ada dosen yang memiliki anak masih balita.

Ada yang sedang membiayai pendidikan anak-anaknya.

Ada yang harus merawat orang tua yang sakit.

Ada pula yang menjadi tulang punggung utama keluarga.

Dalam kondisi seperti ini, melanjutkan S3 sering kali menjadi keputusan yang sangat berat.

Meninggalkan keluarga selama tiga hingga empat tahun untuk studi di kota lain atau bahkan di luar negeri bukan perkara sederhana.

Banyak dosen yang memilih menunda mimpi akademiknya demi memastikan keluarganya tetap baik-baik saja.

Ironisnya, pengorbanan seperti ini jarang dihitung sebagai prestasi.

Padahal di balik keputusan menunda S3 terdapat bentuk tanggung jawab yang luar biasa.

Beban Administrasi yang Menggerus Energi Akademik

Dosen hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan satu atau dua dekade lalu.

Mereka tidak hanya mengajar.

Mereka harus menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS), menginput nilai, mengurus akreditasi, mengelola data mahasiswa, membuat laporan kegiatan, menyusun dokumen kinerja, hingga memenuhi berbagai kebutuhan administrasi kampus.

Belum lagi tuntutan publikasi ilmiah yang terus meningkat.

Banyak dosen menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar komputer untuk mengurus dokumen daripada membaca jurnal atau mengembangkan riset.

Pertanyaannya sederhana:

Kapan mereka punya waktu untuk mempersiapkan studi doktoral?

Ketika sebagian besar energi habis untuk pekerjaan rutin, maka keinginan melanjutkan pendidikan sering kali harus ditunda.

Masalah Finansial Masih Nyata

Ada anggapan bahwa semua dosen memiliki kondisi ekonomi yang mapan.

Faktanya tidak demikian.

Banyak dosen, khususnya di perguruan tinggi swasta kecil dan perguruan tinggi daerah, masih menghadapi tantangan ekonomi yang cukup besar.

Meskipun tersedia berbagai program beasiswa seperti LPDP, Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI), maupun beasiswa luar negeri lainnya, proses mendapatkan beasiswa tidak selalu mudah.

Persaingan sangat ketat.

Persyaratan terus berkembang.

Kuota terbatas.

Belum lagi kebutuhan biaya hidup keluarga yang tetap berjalan selama masa studi.

Akibatnya, banyak dosen memilih menunggu kondisi ekonomi yang lebih stabil sebelum mengambil langkah besar menuju pendidikan doktoral.

Ironi Dunia Akademik

Ada satu ironi yang sering terjadi.

Perguruan tinggi menuntut dosennya menjadi doktor.

Tetapi pada saat yang sama, kampus sering kesulitan melepaskan dosen untuk studi lanjut karena kekurangan tenaga pengajar.

Akibatnya muncul situasi paradoks.

Kampus membutuhkan dosen S3.

Tetapi dosen yang akan S3 sulit meninggalkan kampus.

Lingkaran ini terjadi di banyak perguruan tinggi Indonesia.

Bukan karena tidak ada kemauan.

Melainkan karena sistem belum sepenuhnya siap mendukung percepatan peningkatan kualifikasi dosen.

Budaya Membandingkan yang Tidak Sehat

Media sosial memperlihatkan banyak kisah sukses.

Hari ini seseorang wisuda doktor.

Besok ada yang lulus dari universitas ternama dunia.

Lusa ada yang menjadi profesor muda.

Semua itu tentu membanggakan.

Namun tanpa disadari, fenomena tersebut juga menciptakan tekanan psikologis bagi sebagian dosen.

Mereka mulai merasa tertinggal.

Merasa gagal.

Merasa kurang produktif.

Padahal setiap orang memiliki titik start yang berbeda.

Ada yang memperoleh kesempatan studi pada usia 25 tahun.

Ada yang baru mendapatkan kesempatan pada usia 45 tahun.

Tidak ada yang salah dengan keduanya.

Kesuksesan akademik tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat, melainkan oleh siapa yang mampu terus bertumbuh.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Sudah saatnya kita berhenti menilai dosen hanya dari gelarnya.

Gelar memang penting.

Tetapi kualitas seorang akademisi tidak hanya ditentukan oleh huruf-huruf yang melekat di depan atau belakang namanya.

Ada dosen S2 yang menghasilkan inovasi luar biasa.

Ada dosen S2 yang mengabdikan hidupnya untuk membangun pendidikan di daerah terpencil.

Ada dosen S2 yang melahirkan ribuan lulusan berkualitas.

Kontribusi mereka tetap bernilai.

Tentu saja peningkatan kualifikasi menuju S3 tetap penting dan harus didorong.

Namun dorongan tersebut perlu disertai empati dan dukungan nyata.

Solusi yang Perlu Didorong

Jika Indonesia ingin meningkatkan jumlah doktor secara signifikan, maka solusi tidak boleh berhenti pada slogan.

Beberapa langkah yang perlu diperkuat antara lain:

Pertama, memperluas akses beasiswa doktoral yang lebih inklusif bagi dosen daerah.

Kedua, mengurangi beban administrasi dosen sehingga mereka dapat lebih fokus pada pengembangan akademik.

Ketiga, memberikan skema studi lanjut yang fleksibel tanpa mengorbankan kebutuhan kampus.

Keempat, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dalam penyediaan dosen pengganti selama studi lanjut.

Kelima, membangun budaya akademik yang menghargai proses, bukan sekadar hasil akhir.

Karena pada akhirnya, investasi terbaik dalam pendidikan tinggi adalah investasi pada manusianya.

Penutup

Banyak dosen belum melanjutkan S3 bukan karena mereka tidak mampu.

Banyak di antara mereka justru memiliki kapasitas, pengalaman, dan semangat akademik yang sangat kuat.

Mereka hanya sedang menjalani fase kehidupan yang berbeda.

Sebagian sedang membangun keluarga.

Sebagian sedang mengabdi kepada kampus.

Sebagian sedang berjuang menjaga stabilitas ekonomi.

Dan sebagian lainnya sedang menunggu kesempatan yang tepat.

Maka ketika kita melihat seorang dosen yang belum bergelar doktor, jangan terburu-buru mempertanyakan kemampuannya.

Sebab bisa jadi ia bukan sedang tertinggal.

Ia hanya sedang berjalan di jalurnya sendiri.

Dan ketika waktunya tiba, bukan tidak mungkin ia akan melangkah lebih jauh daripada yang pernah dibayangkan banyak orang.

Karena dalam dunia akademik, yang paling penting bukan siapa yang paling cepat mencapai garis akhir, melainkan siapa yang terus bergerak maju meski jalannya tidak selalu mudah.

Leave a comment