
BANDA ACEH 28 Mei 2026 — Pelaksanaan salat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Jamik Al-Wustha, Dusun Rawa Sakti, Gampong Jeulingke, berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan. Bertindak sebagai imam pada pelaksanaan shalat Id kali ini adalah Ustadz Mirza Nanda, S.Pd, yang merupakan Imam Rawatib Masjid Al-Wustha sekaligus Ulee Jurong Dusun Rawa Sakti.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA., hadir sebagai khatib untuk menyampaikan pesan mendalam mengenai hakikat ibadah kurban dalam kehidupan seorang muslim.
Dalam khutbahnya, Prof. Syahrizal menekankan bahwa ibadah haji dan kurban yang dirayakan setiap bulan Zulhijjah memiliki esensi kuat dalam membuka kesadaran umat akan pentingnya kebersamaan, kesetaraan, dan persaudaraan tanpa memandang sekat perbedaan ras, bangsa, maupun budaya.
Menukil sejarah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102, Prof. Syahrizal menjelaskan bahwa keteguhan hati, keikhlasan, dan kesabaran adalah fondasi utama ibadah kurban.
Secara harfiah, kurban berarti mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada ritualitas formal semata. “Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan nilai ketakwaan dan ketulusan batin kita. Penyembelihan hewan adalah simbolik, namun substansinya adalah kebersihan hati,” ujar Prof. Syahrizal.
Lebih lanjut, mantan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh ini menguraikan bahwa syariat kurban diturunkan untuk membangun dua dimensi kesadaran sekaligus, yaitu hubungan vertikal dengan pencipta dan hubungan horizontal antar-sesama manusia.

Kesalehan Individual (Vertikal), terwujud melalui ibadah ritual seperti salat, zikir, dan puasa yang tidak melibatkan harta benda secara langsung dalam ritualnya. Kesalehan Sosial (Horizontal), terwujud melalui pengorbanan harta benda yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya fakir miskin dan yang membutuhkan.
Ibadah kurban, lanjutnya, mendidik umat Islam agar tidak mencintai harta secara berlebihan yang dapat melahirkan sifat tamak dan bakhil. Rasulullah SAW bahkan mengecam keras orang-orang yang memiliki kemampuan secara materi namun enggan berkurban untuk membantu sesamanya. Kurban harus menjadi jembatan empati untuk ikut merasakan penderitaan orang lain.
Pelaksanaan shalat Idul Adha 1447 H yang berjalan lancar serta isi khutbah yang sarat akan pesan penguatan umat ini mendapat apresiasi tinggi dari pengurus masjid. Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Jamik Al-Wustha, Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc., menyampaikan rasa syukur dan bahagia terkait pelaksanaan ibadah tahun ini. “Alhamdulillah, pelaksanaan shalat Idul Adha tahun ini berjalan dengan sangat tertib dan khidmat. Pesan yang disampaikan oleh Khatib Prof. Syahrizal Abbas sangat menyentuh dan menjadi pemacu semangat bagi kita semua di lingkungan Dusun Rawa Sakti. Ini menjadi momentum penting bagi warga Gampong Jeulingke untuk terus memperkuat solidaritas, saling berbagi melalui ibadah kurban, serta menyeimbangkan antara kesalehan spiritual dan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” ungkap Prof. Rahmat Fadhil.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan umat, serta salam salaman dengan seluruh jamaah sholat Id yang hadir, serta dilanjutkan dengan persiapan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban oleh panitia masjid setempat.

Leave a comment