Banda Aceh 2 Februari 2026 — Sebanyak 50 mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) resmi dilepas untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka pemulihan dampak bencana hidrometeorologi di Desa Rancong, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen. Kegiatan pelepasan dilaksanakan pada Senin, 2 Februari 2026, bertempat di Halaman Kantor Pusat Administrasi USK, dan menjadi penanda dimulainya pengabdian mahasiswa yang akan berlangsung selama 20 hari.

Program ini merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026, yang berfokus pada penyediaan air bersih dan penguatan kapasitas masyarakat terdampak. Melalui pendekatan kolaboratif lintas disiplin, mahasiswa diharapkan tidak hanya menghadirkan solusi teknis, tetapi juga membangun ketahanan sosial dan keberlanjutan layanan dasar di desa sasaran.

Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan, menyampaikan dukungan penuh serta apresiasi tinggi atas pelaksanaan KKN Berdampak ini. Ia menegaskan bahwa program tersebut sejalan dengan misi USK sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.

“Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat untuk menjawab persoalan riil. KKN Berdampak ini menjadi wujud konkret tridarma perguruan tinggi dan komitmen USK dalam pemulihan pascabencana,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rektor berharap para mahasiswa mampu menjaga etika, memperkuat kolaborasi dengan aparatur gampong dan masyarakat, serta memastikan keberlanjutan hasil program setelah masa KKN berakhir.

Ketua tim pelaksana, Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc., menjelaskan bahwa program ini dirancang berbasis kebutuhan lapangan. “Desa Rancong menghadapi tantangan serius terkait akses air bersih pascabencana. Mahasiswa akan terlibat langsung mulai dari pemetaan kebutuhan, instalasi sederhana, hingga edukasi pengelolaan air bersih agar manfaatnya berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc., menekankan pentingnya pendekatan pemberdayaan. “Kami mendorong mahasiswa untuk bekerja bersama masyarakat, bukan sekadar untuk masyarakat. Transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas lokal menjadi kunci agar program ini benar-benar berdampak,” tuturnya.

Dosen pelaksana lainnya, Hendra Halim, M.E., menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. “Mahasiswa belajar mengintegrasikan keilmuan dengan empati sosial. Ini penting untuk membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap isu kemanusiaan dan pembangunan,” katanya.

Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa akan menjalankan rangkaian program mulai dari penyediaan dan perbaikan sarana air bersih, edukasi kesehatan lingkungan, hingga pendampingan masyarakat dalam pengelolaan fasilitas. Program ini diharapkan mampu mendukung pemulihan kualitas hidup warga Desa Rancong sekaligus memperkuat ketahanan desa menghadapi risiko bencana di masa depan.

Dengan pelepasan ini, USK kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang hadir, peduli, dan berdampak bagi masyarakat Aceh dan Indonesia.

Leave a comment

Tokoh

Quote of the week

“Pendidikan adalah pangkalan kehidupan, tidak peduli di mana Anda berada.”

– Malcolm X