Oleh: Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc

Suatu waktu, saya mendapat amanah mengajarkan Pendidikan Agama Islam di sebuah perguruan tinggi negeri. Kelas itu dijadwalkan tepat setelah waktu Ashar, dimulai kira-kira lima belas menit kemudian. Suatu hari, segerombolan mahasiswa laki-laki, delapan sampai sepuluh orang, masuk terlambat secara bersamaan.

Kebetulan hari itu saya menguraikan tentang tingkatan shalat: pertama, sekedar shalat; kedua, shalat di awal waktu; ketiga, shalat di awal waktu berjamaah; keempat, shalat di awal waktu berjamaah di masjid; dan kelima, shalat di awal waktu berjamaah di masjid dan ditambah kekhusyukan hati. Lalu saya bertanya, “Adik-adik semua sudah shalat Ashar?” Kelas terdiam. Saya lanjutkan, “Kalau ada yang berbohong, dosanya berlipat ganda. Dosa kepada diri sendiri, dosa menipu saya sebagai dosen, dan dosa kepada Allah SWT, padahal mustahil menipu Yang Maha Mengetahui. Bahkan, kalian bisa lebih licik dari syaitan, sebab syaitan pun tak berani berdusta di hadapan Allah.” Beberapa mahasiswa akhirnya mengacungkan tangan, mengakui belum shalat Ashar, termasuk yang terlambat masuk tadi dan saya izinkan mereka keluar dahulu untuk menunaikannya.

Kejadian serupa juga saya saksikan ketika menjadi pembina mahasiswa baru pada masa Ospek (orientasi pengenalan kampus). Saat apel pagi, saya berbincang dengan beberapa peserta, menguji bacaan Al-Qur’an mereka, sekaligus menanyakan di mana mereka shalat Subuh. Betapa mengejutkan, ‘banyak’ juga yang mengaku belum shalat Subuh karena bangun kesiangan dan terburu-buru datang ke kampus. Fenomena ini masih saya jumpai hingga hari ini.

Data yang Menampar Kesadaran Kita
Kegelisahan saya ternyata bukan tanpa dasar. Survei Indonesia Moslem Report (2019), yang diterbitkan Avara Research menemukan bahwa hanya sekitar 38,9 persen umat Islam Indonesia yang rutin menunaikan shalat lima waktu, baik sendiri maupun berjamaah. Yang lebih memprihatinkan, riset tersebut menunjukkan pola berdasarkan usia: semakin tua seseorang, semakin tertib shalatnya; sebaliknya, semakin muda, khususnya generasi Z dan milenial muda, semakin “bolong-bolong” pelaksanaan shalatnya. Survei lain yang pernah dilakukan Lembaga Survei Indonesia bersama Goethe Institute juga mencatat bahwa kaum muda muslim yang selalu menunaikan shalat lima waktu hanya berkisar 28,7 persen. Angka-angka ini bukan hanya statistik, melainkan cermin retak dari generasi yang kita titipkan padanya masa depan.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Allah SWT juga memerintahkan agar kita menjaga keluarga dari kelalaian shalat: “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat, dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Taha: 132)

Bahkan Allah SWT mengingatkan tentang generasi yang menyia-nyiakan shalat sebagai jalan menuju kesesatan dan kerugian: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)

Rasulullah SAW bersabda tentang batas antara keimanan dan kekufuran. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Beliau SAW juga memerintahkan agar shalat ditanamkan sejak dini. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah (dengan pukulan mendidik) bila mereka meninggalkannya pada usia sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud).

Dan tentang kedudukan shalat sebagai amal yang pertama dihisab, Rasulullah SAW bersabda, “Amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; jika rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi)

Shalatlah Nak!
Wahai ayah bunda, bagaimana dengan anak-anak kita di rumah? Bagaimana pula dengan mereka yang tengah merantau jauh dari pandangan kita, menuntut ilmu atau bekerja di negeri orang? Jangan biarkan jarak membuat kita lupa menitipkan nasihat yang paling penting: “Anakku, shalatlah, Nak!”

Sebab kehancuran hidup seseorang sering kali dimulai dari satu titik sederhana, meninggalkan shalat. Bahkan sekedar menganggap remeh dan menunda-nunda shalat pun sudah menjadi celah bagi rapuhnya iman. Shalat bukan hanya ritual lima waktu, melainkan tiang yang menyangga seluruh bangunan kehidupan seorang muslim. Bila tiang itu roboh, apa pun capaian duniawi yang diraih anak-anak kita, akan berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Marilah kita jadikan rumah sebagai madrasah pertama pengajaran shalat, dan doa sebagai jembatan yang menyusul mereka ke mana pun melangkah. Sampaikan pesan itu berulang kali, dengan lembut namun tegas, karena boleh jadi kalimat sederhana itulah yang kelak menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a comment

Tokoh

Quote of the week

“Pendidikan adalah pangkalan kehidupan, tidak peduli di mana Anda berada.”

– Malcolm X