BANDA ACEH — Menyambut momentum tahun baru Islam 1448 Hijriah, Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc., menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya introspeksi diri (muhasabah) dan kesyukuran. Pesan tersebut disampaikannya dalam ceramah Subuh di Masjid Jamik Al Wustha, Dusun Rawasakti Jeulingke, Banda Aceh, Senin (22/6/2026).

Dalam ceramahnya, Prof. Rahmat Fadhil mengingatkan jamaah bahwa nikmat terbesar yang sering kali luput dari perhatian adalah kesempatan hidup dan kesehatan. Menurutnya, rezeki paling berharga bukan sekadar harta melimpah atau rumah mewah, melainkan ringannya langkah kaki untuk senantiasa taat kepada Allah SWT.
“Meskipun jasad terasa lelah dan fisik terasa berat dalam melakukan kebaikan, ruh orang-orang yang beriman sebenarnya merasa bahagia dan gembira atas ketaatan tersebut,” ujarnya di hadapan para jamaah subuh.

Memasuki hari ketujuh di bulan Muharram 1448 H, ia menekankan bahwa bergantinya tahun berarti berkurangnya jatah usia manusia di dunia. Merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 18, Prof. Rahmat memaparkan tiga pesan utama yang harus diresapi setiap muslim.

Pertama, Integrasi Iman dan Takwa. Perintah takwa ditujukan khusus kepada orang beriman. Mengutip Tafsir Ibnu Katsir, takwa harus direalisasikan secara beriringan, yaitu menjalankan perintah Allah SWT sekaligus menjauhi larangan-Nya.

Kedua, Mempersiapkan “Hari Esok” (Ghad). Para ulama memaknai “hari esok” dalam tiga dimensi: masa depan di dunia, hari kiamat saat sangkakala ditiup, dan hari kebangkitan (Yaumul Hisab) untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan.

Ketiga, Kesadaran akan Pengawasan Allah (Khabir). Ayat tersebut ditutup dengan penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatan manusia. Kedudukan seorang hamba di sisi-Nya tercermin dari kesibukan sehari-harinya—apakah dipenuhi ketaatan atau justru kelalaian.

Di akhir ceramahnya, Prof. Rahmat mengajak jamaah untuk mengoptimalkan sisa hari di bulan mulia ini dengan memperbanyak amal saleh. Salah satu yang sangat dianjurkan adalah menunaikan ibadah puasa sunnah, seperti Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram).

Selain ibadah ritual, ia juga mendorong penguatan dimensi sosial melalui Ukhuwah Islamiyah. Kegiatan positif seperti menggelar buka puasa bersama, baik di rumah maupun di lingkungan masyarakat, dinilai sangat efektif untuk menggairahkan semangat ibadah sekaligus mempererat kebersamaan antar-keluarga dan jamaah masjid.

Leave a comment