
Jakarta, Senin, 2 Maret 2026 — Ketegangan militer yang memuncak antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah mengguncang pasar energi global, mendorong harga minyak mentah melambung tajam dalam beberapa hari terakhir. Konflik berskala besar ini bukan hanya menjadi sorotan geopolitik, tetapi juga berimplikasi luas pada ekonomi internasional serta pasar energi di Indonesia.
Serangan udara dan militer gabungan AS dan Israel terhadap fasilitas strategis di Iran dalam akhir pekan lalu telah memicu reaksi keras dari Teheran, yang dilaporkan menutup sementara jalur pelayaran di Selat Hormuz — salah satu rute transit minyak paling vital di dunia. Sekitar 20 % dari total pasokan minyak global biasanya melewati selat ini.
Pakar energi dan analis pasar menyatakan bahwa langkah tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak mentah secara signifikan, sehingga memicu lonjakan harga dalam perdagangan komoditas global. Brent crude, acuan minyak dunia, disebut sempat naik lebih dari 10 % ke level tertinggi beberapa bulan terakhir.
Dampak dari konflik ini langsung terlihat pada harga minyak global yang meroket — Brent crude diperdagangkan di atas US$ 80 per barel, dengan beberapa prediksi memperingatkan harga bisa menembus US$ 100 per barel apabila Eskalasi berlanjut dan pasokan benar-benar terganggu.

Lonjakan energi ini juga memengaruhi pasar keuangan global, di mana indeks saham utama mengalami tekanan, sementara harga saham sektor energi dan logam safe-haven seperti emas justru meningkat.
Pemerintah Indonesia telah mengakui dampak potensial dari lonjakan harga minyak ini terhadap pasar domestik. Menteri terkait menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri berpotensi naik, terutama untuk produk non-subsidi, jika harga minyak dunia terus naik akibat ketidakpastian konflik.
Selain itu, dampak ekonomi lain yang diantisipasi adalah meningkatnya beban subsidi energi pemerintah Indonesia serta potensi tekanan inflasi yang lebih luas akibat biaya transportasi dan logistik yang naik, terutama bagi sektor industri yang sangat bergantung pada energi impor.
Para pengamat ekonomi menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak juga dapat mendorong revisi asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026, yang sebelumnya diasumsikan stabil pada level tertentu.
Sentimen pasar global menunjukkan volatilitas tinggi akibat konflik ini, dengan para investor mencari aset yang dianggap aman sementara menghindari instrumen berisiko tinggi. Ekonom memperingatkan bahwa apabila konflik berkepanjangan, dampak inflasi global dapat semakin terasa pada bahan pokok, energi, dan biaya produksi industri.
Namun, sejumlah analis juga menekankan bahwa pasokan minyak global dalam jangka pendek masih didukung oleh kapasitas cadangan dan produksi negara-negara penghasil lain, yang bisa meredam dampak ekstrem.
Penutup
Eskalasi perang antara AS, Israel, dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak dunia akibat ancaman gangguan pasokan melalui rute strategis Selat Hormuz. Lonjakan ini berdampak pada pasar energi global dan menimbulkan kekhawatiran kenaikan harga BBM di Indonesia, tekanan inflasi, serta beban fiskal tambahan. Pemerintah dan pelaku pasar bersiap menghadapi ketidakpastian yang berlanjut terkait konflik ini.

Leave a comment