
BANDA ACEH 30 Januari 2026 — Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh kembali menunjukkan peran strategisnya dalam agenda pemulihan pascabencana di tingkat nasional. Sebanyak 21 proposal dari kampus tertua di Aceh ini dinyatakan lolos seleksi Program Mahasiswa Berdampak Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana Sumatra Tahun 2026.
Program tersebut merupakan inisiatif Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), yang bertujuan mengintegrasikan inovasi akademik dengan kebutuhan riil masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatra.
Berdasarkan surat pengumuman resmi nomor 0156/C3/AL.04/2026 tertanggal 26 Januari 2026, USK tercatat sebagai salah satu dari 82 perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya untuk menjalankan program pengabdian berbasis pemulihan masyarakat tersebut.
Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan, menyampaikan bahwa keberhasilan ini membuka ruang partisipasi luas bagi mahasiswa dalam kerja-kerja kemanusiaan dan pembangunan pascabencana. Sebanyak 1.000 mahasiswa USK akan diterjunkan ke berbagai wilayah terdampak di Aceh selama satu bulan penuh.
“Mahasiswa akan disebar ke tujuh kabupaten dan kota di Aceh, sesuai kebutuhan dan karakter wilayah terdampak,” ujar Prof. Marwan.
Wilayah sasaran meliputi Pidie Jaya dengan delapan kegiatan, Bireuen enam kegiatan, Aceh Tengah dan Bener Meriah masing-masing dua kegiatan, serta Aceh Utara, Aceh Timur, dan Gayo Lues masing-masing satu kegiatan.
Pelaksanaan program berlangsung mulai 28 Januari hingga 28 Februari 2026. Selama periode tersebut, mahasiswa USK akan fokus pada dua agenda utama, yakni tanggap darurat sektor pangan, energi, dan kesehatan, serta pemulihan ekonomi masyarakat melalui pendekatan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Selain capaian USK, Prof. Marwan juga mengungkapkan bahwa secara keseluruhan terdapat 84 proposal dari berbagai perguruan tinggi di Aceh yang memperoleh pendanaan, dari total 203 proposal terpilih pada tingkat regional Sumatra.
Universitas Samudra (Unsam) Langsa tercatat menyumbang 18 proposal, disusul Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh dengan delapan proposal, serta Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen sebanyak lima proposal. Sejumlah kampus lainnya, seperti Institut Seni Budaya Aceh (ISBI) Aceh, Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Pidie, dan Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, masing-masing meloloskan tiga proposal.
Sementara itu, beberapa institusi lain berkontribusi dengan satu hingga dua proposal, di antaranya Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh Besar dan Universitas Iskandar Muda (Uniki) Bireuen.
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) menjelaskan bahwa mekanisme pencairan dana hibah akan dilakukan dalam satu tahap penuh (100 persen) melalui kontrak dengan masing-masing perguruan tinggi. Skema ini diterapkan untuk memastikan kelancaran operasional mahasiswa selama berada di lokasi pengabdian.
Menurut Prof. Marwan, keterlibatan aktif USK dalam program ini merupakan bagian dari komitmen universitas dalam menghadirkan solusi nyata bagi persoalan sosial dan ekonomi pascabencana.
“Melalui kreativitas dan kapasitas akademik mahasiswa, kami berharap proses pemulihan masyarakat di wilayah terdampak dapat berlangsung lebih optimal, inklusif, dan berkelanjutan,” tutupnya.

Leave a comment