
Darussalam, Banda Aceh 6 Januari 2026 — Banjir besar yang berulang di wilayah Sumatera tidak lagi dapat dipandang sebagai peristiwa alam semata, melainkan hasil dari pertemuan berbagai krisis yang saling memperkuat, mulai dari perubahan iklim global, degradasi ekosistem hutan, hingga lemahnya tata kelola risiko bencana. Hal tersebut disampaikan dalam Live Webinar “Mitigasi Jangka Panjang Banjir Sumatera: Perspektif Integratif dari Ekoregion, Pengelolaan Hutan, Manajemen Risiko, dan Adaptasi Iklim” yang di pandu oleh Zhatoer Rayhan selaku MC digelar oleh Program Studi Magister Pengelolaan Lingkungan Universitas Syiah Kuala, Selasa (6/1/2026).
Antusiasme peserta kegiatan webinar berasal dari beragam latar belakang instansi, lembaga, dan satuan pendidikan yang mencerminkan tingginya minat serta relevansi tema mitigasi banjir di Sumatera bagi berbagai sektor. Secara umum, peserta didominasi oleh kalangan perguruan tinggi, baik dosen maupun mahasiswa, dengan partisipasi terbanyak berasal dari Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai institusi tuan rumah, serta IPB (Institut Pertanian Bogor) yang juga memberikan kontribusi signifikan melalui sivitas akademika dari berbagai program studi dan pusat studi terkait lingkungan.
Partisipasi juga datang dari instansi pemerintah, seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Dinas Kehutanan Sulawesi Barat, BPSDM Provinsi Bengkulu, serta Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, yang memperkuat dimensi kebijakan dan implementasi lapangan dalam diskusi yang berlangsung. Tidak hanya dari kalangan akademik dan pemerintahan, kegiatan ini juga diikuti oleh peserta dari sekolah menengah (SMA/MA/MAN), lembaga swadaya masyarakat (YFA, IESA dan Mata Iklim) serta media nasional (Kompas.com), yang menegaskan bahwa isu banjir dan perubahan iklim merupakan perhatian bersama lintas jenjang pendidikan dan sektor.
Foto Bersama Pemateri dan Peserta Webinar
Prof. Dr. Efi Yuliati Yovi, dalam materinya menekankan pentingnya pendekatan ekoregion dalam memahami risiko banjir di Sumatera. Menurutnya, karakteristik wilayah Sumatera yang kompleks mulai dari pegunungan Bukit Barisan, hutan hujan tropis, lahan gambut, hingga kawasan pesisir menuntut strategi mitigasi yang tidak seragam.
Prof. Yovi menjelaskan bahwa banjir ekstrem yang dipicu oleh Siklon Tropis langka “Senyar” pada akhir 2025 merupakan contoh nyata bagaimana curah hujan ekstrem yang terjadi secara bersamaan di banyak daerah aliran sungai (DAS) menyebabkan banjir bandang di wilayah hulu dan hilir secara serentak. Kondisi ini diperparah oleh kehilangan tutupan hutan yang signifikan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam tiga dekade terakhir, yang berdampak pada menurunnya kemampuan tanah dalam menyerap air hujan .
Pemaparan materi dari Prof. Dr. Efi Yuliati Yovi (IPB)
Dalam pemaparannya, Prof. Yovi menegaskan bahwa hutan tetap memegang peran kunci dalam mitigasi banjir, terutama dalam menurunkan debit puncak aliran sungai dan memperpanjang waktu respon banjir. Namun, ia juga mengingatkan bahwa hutan bukanlah “silver bullet”. “Hutan merupakan solusi berbasis alam yang sangat penting, tetapi tidak cukup jika berdiri sendiri. Diperlukan solusi berlapis yang mengombinasikan konservasi hutan, infrastruktur pengendali banjir, penataan ruang berbasis risiko, serta kesiapsiagaan masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai krusial mengingat kejadian hujan ekstrem dengan intensitas sangat tinggi dapat melampaui kapasitas alami ekosistem dalam menahan limpasan air.
Sementara itu, Dr. Boedi Tjahjono menyoroti pentingnya pergeseran paradigma dari disaster management menuju risk management, sebagaimana ditekankan dalam Sendai Framework for Disaster Risk Reduction. Ia menjelaskan bahwa selama ini sebagian besar anggaran kebencanaan masih difokuskan pada respons dan pemulihan pascabencana, padahal investasi pada pencegahan jauh lebih efektif dan efisien secara ekonomi.
Pemaparan Materi dari Dr. Boedi Tjahjono (IPB)
Berdasarkan kajian yang dipaparkan Dr. Boedi, biaya pencegahan bencana banjir dapat jauh lebih rendah dibandingkan biaya pemulihan pascabencana, yang mencakup kerugian ekonomi, gangguan layanan publik, hingga dampak sosial jangka panjang terhadap masyarakat terdampak.
Dalam pemaparan Prof. Dr. Ir. Prabang Setyono, menekankan bahwa perubahan iklim telah mengubah pola hidrologi secara signifikan, ditandai dengan musim hujan yang semakin basah dan musim kemarau yang semakin kering. Kondisi ini menuntut strategi adaptasi iklim yang terintegrasi dalam perencanaan pembangunan dan tata ruang wilayah.
Pemaparan Materi dari Prof. Dr. Ir. Prabang Setyono
Prof. Prabang menegaskan bahwa penguatan tata kelola lintas sektor antara kehutanan, tata ruang, kebencanaan, dan lingkungan menjadi kunci keberhasilan mitigasi banjir jangka panjang di Sumatera. Selain itu, keterlibatan masyarakat melalui sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, dan jalur evakuasi yang jelas juga menjadi bagian penting dari upaya membangun ketahanan wilayah.
Prof. Ichwana dalam kalimat penutupnya menegaskan bahwa mitigasi banjir Sumatera memerlukan pendekatan multi-skala dan multi-aktor, mulai dari level lanskap dan ekoregion hingga komunitas lokal. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dinilai menjadi pondasi utama dalam membangun sistem pengelolaan risiko banjir yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim di masa depan. Dari keberagaman latar belakang peserta ini diharapkan dapat memperkaya perspektif serta mendorong kolaborasi berkelanjutan dalam upaya mitigasi banjir jangka panjang di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera. [zr].

Leave a comment