Pasca banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, masyarakat Gampong Meunasah Teupin Raya menghadapi krisis air bersih yang cukup serius. Sebagian besar sumur warga tertimbun lumpur akibat endapan banjir, sehingga tidak lagi dapat digunakan untuk kebutuhan dasar seperti minum, memasak, dan sanitasi. Kondisi ini sangat dirasakan oleh kelompok rentan, terutama lansia dan keluarga kurang mampu, yang harus berjuang ekstra untuk mendapatkan air bersih.

Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab akademik terhadap persoalan lingkungan dan kemanusiaan, Tim Magister Pengelolaan Lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK) menginisiasi dan melaksanakan Program Air Bersih Berkelanjutan sebagai bagian dari implementasi donasi kemanusiaan untuk korban banjir Aceh.

Di Gampong Meunasah Teupin Raya, satu-satunya sumber air yang masih dapat dimanfaatkan berada di area meunasah. Namun, akses terhadap air tersebut tidaklah mudah. Warga harus mengambil air secara manual dari sumur dengan kedalaman sekitar 20 cincin, dalam kondisi fisik yang berat dan berisiko, terutama bagi lansia. Selain itu, kondisi sumur juga telah mengalami pendangkalan dan diduga masih mengandung endapan lumpur di bagian dasar, sehingga kualitas dan kontinuitas airnya tidak terjamin.

Menjawab kondisi tersebut, Tim Magister Pengelolaan Lingkungan USK melaksanakan program ini melalui beberapa tahapan utama. Tahap pertama adalah pembersihan dan normalisasi sumur di meunasah, dengan mengangkat lumpur dan endapan yang menutup dasar sumur. Langkah ini dilakukan untuk memulihkan kembali mata air agar debit dan kualitas air dapat kembali mendekati kondisi normal.

Tahap berikutnya adalah pemasangan toren air dan mesin jet pump. Sistem ini memungkinkan air dipompa dan ditampung secara aman sehingga warga tidak lagi harus mengambil air secara manual. Air yang tertampung di toren dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat sekitar meunasah dengan lebih layak, aman, dan manusiawi.

Selain fokus pada satu titik utama di meunasah, program ini juga diperluas melalui normalisasi sebanyak 60 sumur warga yang terdampak banjir. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi teknis dengan Pak Raden, dosen Teknik Mesin Universitas Al Muslim, guna memastikan proses normalisasi dilakukan secara aman, efektif, dan sesuai kaidah teknis.

Sebagai bentuk perhatian khusus terhadap kelompok paling rentan, pada salah satu sumur hasil normalisasi juga dipasang mesin pompa air permanen. Sumur ini diperuntukkan bagi warga kurang mampu, agar mereka memiliki akses air bersih yang lebih dekat, stabil, dan berkelanjutan tanpa harus bergantung pada tenaga fisik atau bantuan harian.

Program air bersih ini merupakan wujud nyata peran Magister Pengelolaan Lingkungan USK dalam mengintegrasikan keilmuan, kepedulian sosial, dan aksi nyata di lapangan. Program ini tidak hanya berorientasi pada bantuan darurat, tetapi juga dirancang sebagai upaya pemulihan pascabanjir yang berkelanjutan, dengan tujuan mengembalikan kemandirian masyarakat dalam mengakses air bersih, menjaga kesehatan lingkungan, serta mengurangi risiko penyakit akibat air tercemar.

Leave a comment

Tokoh

Quote of the week

“Pendidikan adalah pangkalan kehidupan, tidak peduli di mana Anda berada.”

– Malcolm X