Setiap kali Idul Fitri tiba, meja-meja makan di rumah-rumah Indonesia berubah menjadi ruang perayaan. Ketupat tersusun rapi, opor ayam mengepul hangat, rendang tersaji dengan aroma rempah yang menggoda, dan kue-kue kering berjajar seperti simbol kebahagiaan yang tak terucapkan. Namun, di balik kemeriahan itu, ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita: makanan tidak pernah lahir dari meja makan—ia lahir dari tanah, dari tangan-tangan yang sabar, dari keringat yang jatuh tanpa banyak sorotan.

Pesan yang disampaikan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia sesungguhnya bukan sekadar kampanye seremonial. Ia adalah panggilan kesadaran. Sebuah pengingat bahwa setiap suapan yang kita nikmati saat Lebaran adalah hasil dari perjalanan panjang yang melibatkan ribuan, bahkan jutaan, petani di seluruh negeri.

Mari kita mulai dari yang paling sederhana: ketupat. Makanan yang seolah wajib hadir di setiap rumah ini berbahan dasar beras. Menurut data Badan Pusat Statistik, produksi padi Indonesia pada tahun-tahun terakhir mencapai ratusan juta ton gabah kering giling setiap tahunnya. Di balik angka itu, ada petani yang bangun sebelum matahari terbit, yang berjibaku dengan lumpur sawah, yang menghadapi ketidakpastian cuaca, harga pupuk, dan ancaman gagal panen. Ketupat yang kita nikmati dengan santai sesungguhnya adalah simbol dari kesabaran panjang yang sering tidak kita lihat.

Lalu kita beralih ke opor ayam. Santan yang menjadi ciri khasnya berasal dari kelapa—komoditas yang juga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan berbuah. Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, sebagaimana dicatat oleh Food and Agriculture Organization. Namun, lagi-lagi, angka produksi tidak pernah menceritakan seluruh kisah. Ia tidak menceritakan petani yang harus memanjat pohon tinggi, yang menjaga kebun dari hama, yang menunggu musim panen dengan penuh harap.

Belum lagi rendang, yang oleh dunia diakui sebagai salah satu makanan terenak. Di balik kelezatannya, ada rantai panjang peternak sapi, petani cabai, bawang, lengkuas, dan berbagai rempah. Semua bekerja dalam sunyi, tanpa tepuk tangan, tanpa panggung. Mereka adalah aktor utama dalam sebuah perayaan yang sering kali hanya menampilkan “hasil akhir,” bukan prosesnya.

Padahal, jika kita jujur, yang paling layak dirayakan bukan hanya hidangannya, tetapi perjalanan panjang menuju hidangan itu sendiri.

Dalam konteks ini, Lebaran seharusnya tidak hanya menjadi momentum kemenangan spiritual setelah sebulan berpuasa, tetapi juga momentum kesadaran sosial. Kesadaran bahwa kita tidak pernah benar-benar mandiri. Bahwa ada begitu banyak tangan yang bekerja untuk memastikan kita bisa merayakan dengan layak.

Sering kali kita terlalu fokus pada rasa makanan—apakah opornya gurih, apakah rendangnya empuk, apakah ketupatnya pulen. Namun jarang sekali kita bertanya: dari mana semua ini berasal? Siapa yang memastikan beras itu tumbuh dengan baik? Siapa yang menjaga kelapa tetap produktif? Siapa yang merawat ternak agar bisa menjadi bagian dari hidangan kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting, bukan untuk membuat kita merasa bersalah, tetapi untuk menumbuhkan rasa syukur yang lebih dalam.

Karena syukur sejati bukan hanya tentang mengucapkan “Alhamdulillah” atas apa yang kita nikmati, tetapi juga tentang menyadari siapa saja yang menjadi perantara nikmat tersebut.

Dalam ajaran Islam, makanan bukan sekadar pemenuh kebutuhan fisik. Ia adalah bagian dari ibadah, bagian dari hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia. Ketika kita makan tanpa kesadaran, kita hanya mengisi perut. Tetapi ketika kita makan dengan kesadaran, kita sedang merayakan kehidupan—kehidupan yang saling terhubung satu sama lain.

Petani, dalam hal ini, adalah penjaga kehidupan itu sendiri. Mereka memastikan tanah tetap produktif, memastikan benih tetap tumbuh, memastikan pangan tetap tersedia. Tanpa mereka, tidak ada yang bisa kita rayakan.

Namun ironisnya, profesi ini sering kali berada di pinggiran. Data dari Badan Pusat Statistik juga menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Indonesia masih berada dalam kategori rentan secara ekonomi. Banyak dari mereka yang hidup dengan pendapatan terbatas, menghadapi ketidakpastian harga, dan minim akses terhadap teknologi modern.

Di sinilah letak refleksi kita sebagai masyarakat. Apakah kita hanya akan terus menjadi “penikmat hasil,” atau mulai menjadi bagian dari perubahan?

Mengapresiasi petani tidak harus selalu dalam bentuk besar. Ia bisa dimulai dari kesadaran kecil: tidak menyia-nyiakan makanan, menghargai setiap butir nasi, memilih produk lokal, hingga mendukung kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan petani.

Lebaran, dengan segala kemeriahannya, adalah waktu yang tepat untuk memulai itu semua.

Bayangkan jika setiap keluarga yang menikmati ketupat dan opor juga menyempatkan diri untuk mendoakan para petani. Bayangkan jika setiap suapan diiringi dengan kesadaran bahwa ada perjuangan panjang di baliknya. Maka Lebaran tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi ruang kontemplasi.

Kita akan mulai melihat makanan bukan hanya sebagai “hidangan,” tetapi sebagai “cerita.” Cerita tentang tanah yang diolah, tentang benih yang ditanam, tentang harapan yang dirawat, dan tentang doa yang tidak pernah putus.

Pada akhirnya, pesan dari Kementerian Pertanian itu sederhana, tetapi sangat dalam: jangan hanya menikmati, tetapi juga menghargai.

Karena di balik setiap meja makan yang penuh, ada sawah yang pernah sepi. Di balik setiap hidangan yang lezat, ada tangan yang pernah lelah. Dan di balik setiap kebahagiaan yang kita rasakan saat Lebaran, ada petani yang diam-diam memastikan semuanya tetap ada.

Maka mungkin, tahun ini, kita bisa merayakan Lebaran dengan cara yang sedikit berbeda. Tidak hanya dengan pakaian terbaik dan makanan terenak, tetapi juga dengan hati yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih bersyukur.

Karena sejatinya, keberkahan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang seberapa dalam kita menghargai.

Leave a comment

Tokoh

Quote of the week

“Pendidikan adalah pangkalan kehidupan, tidak peduli di mana Anda berada.”

– Malcolm X