
Banda Aceh – Suasana hangat penuh kebersamaan mewarnai penutupan kegiatan Khanduri Kupi Al-Wustha yang berlangsung di halaman Masjid Jamik Al-Wustha, Dusun Rawasakti, Gampong Jeulingke, Banda Aceh. Tradisi minum kopi bersama masyarakat ini resmi berakhir pada malam 27 Ramadhan 1447 Hijriah setelah berlangsung secara rutin sepanjang bulan suci.
Kegiatan Khanduri Kupi ini dilaksanakan setiap Senin dan Kamis malam setelah shalat tarawih di halaman masjid. Jamaah, tokoh masyarakat, pemuda, anak-anak serta warga sekitar berkumpul menikmati kopi Aceh sambil berbincang santai dalam suasana penuh keakraban.
Tradisi sederhana ini menjadi ruang pertemuan sosial bagi masyarakat gampong. Selain mempererat silaturahmi antarjamaah, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat selama bulan Ramadhan.
Salah seorang warga sekaligus jamaah masjid, Musyu (45), mengaku sangat gembira dengan adanya kegiatan tersebut. Menurutnya, Khanduri Kupi menjadi momen yang dinanti oleh warga setelah menunaikan ibadah tarawih.

“Suasananya sangat hangat dan penuh kekeluargaan. Kami bisa berkumpul, berbincang, dan saling mengenal lebih dekat dengan sesama warga. Kegiatan seperti ini sangat baik untuk menjaga kebersamaan di gampong,” ujarnya.
Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al-Wustha, Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan Khanduri Kupi merupakan salah satu upaya masjid untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Menurut Guru Besar Universitas Syiah Kuala tersebut, masjid memiliki peran penting tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial umat.
“Masjid harus menjadi pusat kebersamaan masyarakat. Melalui Khanduri Kupi ini kita ingin menghadirkan ruang silaturahmi yang sederhana namun bermakna, sehingga jamaah semakin dekat satu sama lain dan hubungan sosial di lingkungan gampong semakin kuat,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan pada Ramadhan-Ramadhan berikutnya karena terbukti mampu menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat di tengah masyarakat.

Sementara itu, Keuchik Gampong Jeulingke, H. Zulhan Hanafiah, S.Kom, turut memberikan apresiasi atas inisiatif pengurus masjid dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut selama bulan Ramadhan.
Menurutnya, kegiatan seperti Khanduri Kupi memiliki nilai sosial yang kuat dalam mempererat hubungan antarwarga di gampong.
“Kegiatan ini sangat positif karena mampu mempertemukan masyarakat dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. Kami berharap tradisi seperti ini terus dilanjutkan karena dapat memperkuat silaturahmi serta kebersamaan warga Gampong Jeulingke,” ungkapnya.
Malam penutupan yang bertepatan dengan malam 27 Ramadhan juga terasa lebih istimewa. Selain menikmati kopi bersama, jamaah yang hadir turut memperbanyak doa dan ibadah di penghujung Ramadhan, mengingat malam-malam tersebut diyakini sebagai waktu yang penuh keberkahan dan keutamaan.
Dengan berakhirnya rangkaian Khanduri Kupi Al-Wustha pada malam 27 Ramadhan 1447 H, masyarakat berharap tradisi kebersamaan ini dapat terus dilaksanakan pada masa mendatang, sehingga semangat silaturahmi yang tumbuh selama bulan Ramadhan tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari warga Gampong Jeulingke.

Leave a comment