ACEH BESAR, 9 Februari 2026 – Suasana religius terasa hangat di Mushalla Al Muhajirin, Komplek Universitas Syiah Kuala (USK), Blang Kreung, Senin (9/2/2026). Sejumlah jamaah mengikuti Kajian Ramadan bertema “Kunci Sukses di Bulan Ramadan” yang disampaikan oleh Prof. Ilham Maulana, seorang akademisi sekaligus dai yang dikenal dengan gaya ceramah yang ilmiah namun menyentuh hati.
Dalam kajian tersebut, Prof. Ilham mengajak jamaah memahami bahwa kesuksesan di bulan Ramadan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ibadah, tetapi juga oleh kelapangan hati dan kesadaran penuh dalam menjalani kehidupan.
Mengaitkan Al-Qur’an dengan Rumus Fisika
Menariknya, dalam ceramahnya ia mengaitkan kehidupan manusia dengan rumus fisika terkenal, PV = nRT, yang biasa dipelajari dalam ilmu gas ideal.
Menurutnya, rumus tersebut dapat dimaknai secara filosofis dalam kehidupan manusia.
“Ketika volume hati kita besar, tekanan masalah akan terasa lebih kecil. Namun jika hati kita sempit, tekanan hidup akan terasa sangat berat,” jelasnya.
Analogi ini mengajak jamaah memahami bahwa kelapangan hati menjadi kunci menghadapi tekanan kehidupan.
Pelajaran dari Surah Ad-Duha dan Al-Insyirah
Dalam kajian tersebut, Prof. Ilham juga mengulas makna mendalam dari Surah Ad-Duha dan Surah Al-Insyirah.
Beliau menjelaskan bahwa dua surah ini memberikan pesan kuat bahwa kesulitan selalu diiringi kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Insyirah: “Fa inna ma’al ‘usri yusra.”
Menurutnya, ayat tersebut bukan hanya janji spiritual, tetapi juga penguatan psikologis agar manusia tetap optimis dalam menghadapi ujian hidup.
“Masalah sering kali menjadi besar bukan karena masalahnya, tetapi karena hati kita yang sempit. Ketika hati dilapangkan, masalah menjadi lebih mudah dihadapi,” ungkapnya.
Kisah Nabi Musa Menghadapi Firaun
Kajian juga menyinggung kisah Musa ketika menghadapi kekuasaan Firaun.
Menurut Prof. Ilham, Nabi Musa dikenal memiliki sifat tegas bahkan temperamental, sementara Firaun juga sosok yang keras dan penuh amarah. Dalam situasi itu, Allah mengajarkan Nabi Musa sebuah doa agar diberi kelapangan hati:
“Rabbi syrah li shadri, wa yassir li amri…”
(Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku).
Doa ini, katanya, menjadi pelajaran penting bahwa menghadapi masalah besar harus dimulai dari kelapangan hati dan kejernihan pikiran.
Teladan Nabi Muhammad: Hati yang Luas
Selain Nabi Musa, Beliau juga mengangkat keteladanan Nabi Muhammad yang dikenal memiliki kelapangan dada luar biasa dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Menurutnya, Nabi Muhammad tidak membalas keburukan dengan kemarahan, tetapi dengan kesabaran dan kebijaksanaan.
“Ketika hati kita lapang seperti Nabi Muhammad, masalah tidak akan mudah menghancurkan kita,” jelasnya.
Bahaya Hati yang Sempit
Dalam ceramahnya, Prof. Ilham juga mengingatkan bahwa hati yang sempit menjadi pintu masuk bagi godaan setan.
Ketika manusia terjerumus dalam kemaksiatan, katanya, sering kali diikuti dengan rasa penyesalan yang mendalam.
Karena itu, Ramadan menjadi momentum untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan kembali kepada Allah dengan kesadaran penuh.
Konsep Kesadaran Penuh dalam Kehidupan
Prof. Ilham juga memperkenalkan konsep kesadaran penuh (mindful awareness) dalam kehidupan spiritual.
Kesadaran penuh berarti menyadari setiap tindakan, pikiran, dan perasaan dengan kehadiran hati yang tenang dan terhubung kepada Allah.
Dalam praktiknya, kesadaran ini dapat dibangun melalui:
memperbanyak dzikir
memperbaiki niat dalam setiap amal
menjaga hati dari iri dan amarah
serta memperbanyak refleksi diri
“Ramadan adalah waktu terbaik untuk melatih kesadaran penuh. Ketika kita sadar akan diri dan hubungan kita dengan Allah, hidup menjadi lebih tenang,” tuturnya.
Belajar Menghadapi Masalah dengan Hati Lapang
Menutup kajian tersebut, Prof. Ilham mengajak jamaah meneladani cara para nabi menghadapi ujian hidup.
Nabi Musa menghadapi tekanan dengan doa dan keberanian, sementara Nabi Muhammad menghadapinya dengan kelapangan dada dan kesabaran. (BSP)

Leave a comment