Banda Aceh 2 Maret 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Mushalla Al Muhajirin, Kompleks Perumahan Universitas Syiah Kuala (USK), saat kajian subuh digelar dalam rangka menghidupkan bulan suci Ramadhan. Meski sempat terjadi pemadaman listrik, jamaah tetap bertahan dalam suasana temaram, menjadikan momen tersebut terasa semakin syahdu dan penuh makna.

Kajian subuh kali ini menghadirkan Ustadz Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc., MA., seorang akademisi dan ulama asal Aceh yang dikenal luas atas kontribusinya dalam mendokumentasikan sejarah ulama Nusantara. Beliau merupakan doktor lulusan Universitas Bakhtiar Al-Ruda, Sudan, dan juga dosen di Institut Ilmu Al-Qur’an. Selain aktif dalam dunia akademik, Ustadz Nurkhalis juga dikenal melalui karya monumentalnya 55 Ulama Kharismatik Aceh serta berbagai kajian keislaman yang diasuhnya.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Nurkhalis mengawali dengan mengingatkan keistimewaan bulan Ramadhan. Beliau menekankan bahwa Ramadhan adalah momentum tarbiyah ruhiyah, pendidikan jiwa, yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membentuk karakter takwa.

Beliau menjelaskan bahwa Ramadhan memiliki fase-fase penting. Sepuluh hari pertama sebagai fase rahmat, sepuluh hari kedua fase ampunan, dan sepuluh hari terakhir sebagai pembebasan dari api neraka. Pada fase akhir inilah umat Islam dianjurkan memperbanyak munajat dan i’tikaf, karena Allah SWT membuka seluas-luasnya pintu penerimaan doa.

“Perbanyaklah bermunajat. Jangan lelah mengetuk pintu langit. Allah tidak pernah lelah mendengar doa hamba-Nya,” ungkapnya di hadapan jamaah yang duduk khidmat meski dalam kondisi cahaya seadanya.

Kajian kemudian berlanjut pada pembahasan tentang Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Mengutip penjelasan ulama besar Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ustadz Nurkhalis menyebutkan bahwa di antara tanda Lailatul Qadr adalah suasana malam yang tenang, tidak panas dan tidak pula dingin, serta matahari pagi harinya terbit dengan cahaya yang lembut tanpa sinar menyilaukan.

Beliau juga menekankan amalan utama pada malam tersebut, yakni memperbanyak doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku). Doa tentang “maaf” ini, menurutnya, menjadi inti dari perjalanan spiritual Ramadhan—memohon pengampunan agar kembali dalam keadaan bersih.

Meski listrik sempat padam, suasana gelap justru menambah kekhusyukan. Cahaya dari lampu darurat menjadi simbol kecil bahwa dalam kegelapan pun, cahaya iman tetap menyala.

Kajian subuh di Mushalla Al Muhajirin ini menjadi bukti bahwa semangat menuntut ilmu dan memperdalam agama tidak surut oleh kondisi. Ramadhan dimaknai bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai perjalanan ruhani untuk mendekat kepada Allah, memperbaiki diri, dan menjemput kemuliaan Lailatul Qadr.

 Doa Mohon Agar Mendapat Cinta Allah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

Transliterasi:
Allahumma inni as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal ‘amalalladzi yuballighuni hubbaka.
Allahumma aj‘al hubbaka ahabba ilayya min nafsi wa ahli wa minal maa’il baarid.

Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, juga cinta orang-orang yang selalu mencintai-Mu, serta amalan yang dapat membawaku menuju cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih aku cintai daripada cintaku kepada diriku sendiri, keluargaku, dan air yang dingin.” (HR. At-Tirmidzi)

Leave a comment