
BANDA ACEH 21 Februari 2026 – Malam ketiga Ramadhan 1447 H menghadirkan suasana yang begitu khidmat di Masjid Jamik Universitas Syiah Kuala. Ratusan jamaah yang terdiri atas mahasiswa, dosen, serta masyarakat umum memadati ruang utama masjid untuk menunaikan shalat tarawih berjamaah. Sebelum shalat dimulai, jamaah terlebih dahulu mendapatkan siraman ruhani melalui tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc.
Dalam penyampaiannya yang hangat dan menyentuh, Prof. Rahmat menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan madrasah spiritual yang membentuk karakter takwa. Bulan suci ini adalah momentum emas untuk memperbaiki kualitas diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
“Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk kembali menyusun ulang prioritas hidup kita. Jangan biarkan ia berlalu tanpa perubahan berarti,” pesan Prof Rahmat yang juga merupakan Ketua BKM Al Wustha, Jeulingke itu di hadapan jamaah.
Lima Amalan Utama Ramadhan
Di hadapan jamaah, beliau merangkum lima amalan fundamental yang seyogianya menjadi fokus setiap Muslim selama Ramadhan.
Pertama, Menjaga Shalat Lima Waktu Berjamaah dan Menambah Shalat Sunnah. Shalat fardhu, tegas beliau, adalah pondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Ramadhan harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas, kekhusyukan, dan ketepatan waktu shalat.
Beliau mengajak jamaah, khususnya kaum laki-laki, untuk lebih mengutamakan shalat berjamaah di masjid. Selain itu, Ramadhan juga menjadi ruang terbaik untuk memperbanyak shalat-shalat sunnah, baik qabliyah, ba’diyah, dhuha, tahajud, maupun witir.
“Jika di bulan Ramadhan saja kita tidak mampu menjaga shalat dengan baik, bagaimana mungkin di bulan-bulan lain kita bisa lebih baik?” ujarnya penuh refleksi.
Kedua, Menghidupkan Interaksi dengan Al-Qur’an. Ramadhan adalah Syahrul Qur’an —bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, interaksi dengan Al-Qur’an harus menjadi prioritas utama. Prof. Rahmat mendorong jamaah untuk menargetkan setidaknya satu kali khatam selama Ramadhan.

Beliau mengingatkan, jika di bulan yang penuh keberkahan ini saja seseorang belum mampu mengkhatamkan Al-Qur’an, maka akan semakin sulit melakukannya di luar Ramadhan. Lebih dari sekadar membaca, beliau juga mengajak jamaah untuk mentadabburi dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, Memperbanyak Istighfar. Ramadhan adalah bulan ampunan. Lisan yang basah dengan istighfar menjadi tanda kerendahan hati seorang hamba. Prof. Rahmat mengisahkan cerita tentang Imam Ahmad dan seorang penjual roti yang senantiasa dimudahkan urusannya oleh Allah SWT karena rutinitas istighfarnya.
“Istighfar bukan sekadar ucapan, tetapi pengakuan bahwa kita penuh kekurangan dan sangat membutuhkan ampunan Allah,” jelasnya. Istighfar, lanjut beliau, juga menjadi pintu datangnya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka serta pembuka berbagai kemudahan hidup.
Keempat, Menguatkan Doa. Ramadhan menghadirkan banyak waktu mustajab, terutama saat berbuka puasa dan di sepertiga malam terakhir. Pada waktu-waktu inilah seorang hamba dianjurkan untuk memperbanyak doa.
“Minta apa saja kepada Allah SWT,” tutur beliau. “Ketika kita meminta, itu menunjukkan bahwa kita adalah hamba dan Allah adalah Rabb kita.”
Doa-doa tentang rezeki yang halal, anak yang shalih dan shalihah, kemudahan urusan, kesehatan, hingga keberkahan umur adalah bentuk pengakuan ketergantungan total kepada Sang Pencipta.
Kelima, Memperhebat Sedekah. Menutup tausiyahnya, Prof. Rahmat mengajak jamaah meneladani kedermawanan Rasulullah SAW yang semakin meningkat di bulan Ramadhan. Sedekah bukan hanya membantu sesama, tetapi juga membersihkan harta dan menyucikan jiwa.
“Berbagilah dari apa yang Allah titipkan kepada kita. Di dalam harta kita, ada hak orang lain,” pesannya dengan penuh ketegasan.

Beliau menekankan bahwa keberkahan tidak terletak pada banyaknya harta, melainkan pada sejauh mana harta itu membawa manfaat bagi orang lain.
“Lima amalan ini adalah kunci untuk meraih derajat takwa. Jika kita mampu konsisten menjaganya di bulan ini, insya Allah kita akan keluar sebagai pemenang di hari yang fitri,” ujar Prof. Rahmat di penghujung ceramahnya.
Usai tausiyah, jamaah melaksanakan shalat tarawih dan witir berjamaah yang diimami oleh Ust. Takdir Feriza Hasan, seorang qari internasional asal Aceh. Lantunan ayat suci yang merdu semakin menambah kekhusyukan malam Ramadhan di kampus yang dikenal sebagai Jantong Hate Rakyat Aceh tersebut.
Semoga semangat spiritualitas yang tumbuh di lingkungan Universitas Syiah Kuala ini terus terjaga hingga akhir Ramadhan, dan melahirkan pribadi-pribadi yang lebih dekat dengan Allah SWT serta lebih peduli terhadap sesama.

Leave a comment