Aceh Tengah 24 Desember 2025 – Bencana banjir dan longsor yang melanda dataran tinggi Gayo selama dua puluh hari terakhir telah mengisolasi sejumlah ruas jalan dan memutus beberapa jembatan. Dampaknya, distribusi kopi dari kebun ke pasar nyaris terhenti, mengancam keberlangsungan ekonomi masyarakat. Pemulihan infrastruktur diperkirakan masih membutuhkan waktu sebelum kembali normal.

Dalam kondisi darurat ini, Ulunowih menggulirkan program penyerapan kopi petani dengan menghimpun dana dari investor dan mitra usaha. Program ini menjadi langkah penyangga sementara agar petani tetap memiliki penghasilan sambil menunggu akses jalan dan jembatan pulih.

Sabardi, perwakilan Ulunowih, menjelaskan bahwa banyak petani tidak dapat mengeluarkan hasil panennya akibat jalan yang terputus. “Jika menunggu kondisi normal sepenuhnya, perputaran ekonomi masyarakat berpotensi berhenti total. Karena itu, kami berinisiatif menghimpun dana dari mitra dan investor untuk membeli kopi petani agar mereka tetap punya penghasilan,” ujarnya.

Pelaksanaan program dilakukan melalui kerja sama dengan Aryadi, pengepul kopi lokal di Kecamatan Kute Panang, Aceh Tengah. Aryadi yang memahami kondisi lapangan dan memiliki jaringan langsung dengan petani memastikan proses pembelian, pengolahan, dan pengiriman berjalan seefisien mungkin, meski akses sangat terbatas.

Dana investor diputar secara bertahap untuk membeli kopi petani. Dalam satu siklus, proses pembelian hingga pengeringan membutuhkan waktu sekitar satu pekan, atau empat hari jika cuaca mendukung. Kopi yang telah diproses kemudian disalurkan ke perusahaan atau mitra besar yang masih membuka pembelian.

Meski margin usaha relatif tipis, upaya ini dilakukan agar kopi petani tidak rusak dan tetap terserap pasar. Bagi para petani, program ini menjadi penopang sementara di tengah keterbatasan. Setidaknya, hasil panen mereka tidak sepenuhnya tertahan dan roda ekonomi kampung masih dapat bergerak.

Langkah ini mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, M.Sc., peneliti kopi dan dosen Universitas Syiah Kuala, menilai inisiatif Ulunowih sebagai contoh nyata kolaborasi yang menyelamatkan rantai pasok kopi di tengah bencana.
“Kopi Gayo bukan hanya komoditas unggulan Aceh, tetapi juga identitas budaya dan sumber penghidupan ribuan keluarga. Saya mengajak semua pihak—pelaku usaha, akademisi, maupun masyarakat luas—untuk ikut mendukung petani Gayo dalam masa sulit ini. Bantuan bisa berupa pembelian langsung, dukungan logistik, atau penyediaan modal kerja. Dengan gotong royong, kita bisa memastikan kopi Gayo tetap mendunia meski menghadapi tantangan besar,” ungkapnya.

Ulunowih berharap kolaborasi antara petani, pengepul lokal, dan investor ini mampu menjaga keberlanjutan ekonomi kopi Gayo hingga akses infrastruktur pulih dan aktivitas perdagangan kembali berjalan normal.

Leave a comment