BANDA ACEH, 2 Desember 2025 — Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah, tetapi juga berdampak pada terganggunya aktivitas masyarakat di Kota Banda Aceh. Salah satu dampak terberat adalah pemadaman listrik bergilir yang kini dirasakan oleh warga Dusun Rawasakti–Jeulingke.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi darurat tersebut, pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Jamik Al-Wustha mengumumkan pembukaan pelayanan fasilitas darurat untuk membantu warga sekitar yang mengalami kesulitan akses listrik dan air bersih. Pengumuman resmi disampaikan langsung oleh Ketua BKM, Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP, M.Sc.

Dalam keterangan resminya, Prof. Rahmat Fadhil menyampaikan bahwa masjid memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir dan membantu masyarakat di saat kesulitan, terutama ketika fasilitas dasar terganggu akibat bencana yang melanda wilayah Aceh.

“Bencana banjir dan longsor yang terjadi beberapa daerah di Aceh telah menyebabkan banyak masyarakat kehilangan tempat tinggal, kehilangan akses untuk bekerja, dan juga mengalami keterbatasan listrik. Di Dusun Rawasakti–Jeulingke sendiri, warga menghadapi pemadaman listrik bergilir. Karena itu, kebijakan layanan darurat di Masjid Jamik Al-Wustha diharapkan dapat mengurangi beban masyarakat sekitar,” ujar Prof. Rahmat Fadhil.

Melalui pengumuman yang telah diedarkan kepada warga, BKM Jamik Al-Wustha menyampaikan beberapa ketentuan layanan darurat yang diberlakukan selama masa tanggap bencana.

Masjid menyediakan akses listrik untuk pengecasan perangkat elektronik selama kurang lebih satu jam pada setiap waktu shalat. Untuk malam hari, layanan dibuka lebih panjang, yakni sejak sebelum Magrib hingga setelah Isya. Hal ini dilakukan sebagai upaya memastikan warga tetap dapat mengakses komunikasi penting, terutama terkait informasi kebencanaan dan koordinasi bantuan.

Selain itu, penggunaan air untuk kebutuhan wudhu dan MCK hanya dilayani pada waktu-waktu shalat, mengingat pasokan air yang sangat terbatas. Air yang tersedia di masjid juga harus dikelola secara ketat agar dapat memenuhi kebutuhan jamaah.

Dalam masa darurat ini, pengurus masjid juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin berkontribusi dalam bentuk pendanaan. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli bahan bakar (BBM) guna mengoperasikan genset, serta membeli air dari mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan jamaah. BKM menyampaikan bahwa kebutuhan operasional harian untuk BBM dan pasokan air mencapai Rp600.000 per hari.

“Kami berterima kasih atas dukungan warga. Semoga segala kontribusi dan bantuan yang diberikan menjadi amal jariah dan mendapat balasan berlipat ganda dari Allah SWT,” tutup Prof. Rahmat Fadhil.

Langkah Masjid Jamik Al-Wustha ini menjadi contoh solidaritas sosial yang kuat di tengah kondisi darurat. Di saat masyarakat menghadapi bencana dan keterbatasan fasilitas dasar, keberadaan masjid sebagai pusat layanan kemanusiaan memberikan harapan dan keringanan bagi warga yang terdampak.

Leave a comment