Dalam perjalanan hidup manusia, ada empat jalan takdir yang sering kita temui tanpa kita sadari. Jalan-jalan ini lahir dari pertemuan antara niat, tindakan, dan respons semesta. Ada orang yang mendapat kebaikan dari kebaikan orang lain; ada yang mendapat keburukan dari keburukan orang lain; ada yang mendapat kebaikan dari keburukan orang lain; dan ada pula yang mendapat keburukan dari kebaikan orang lain. Empat kondisi ini bukan sekadar teori moral, tetapi kenyataan yang hidup, tumbuh, dan terlihat jelas di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan bernegara.

Kampus adalah ruang mini dari kehidupan sosial bangsa—tempat karakter dibentuk, konflik diuji, dan nilai diuji. Di kampus kita melihat bagaimana kebaikan seseorang berbalas kebaikan. Seorang mahasiswa yang rajin membantu temannya memahami materi kuliah sering kali mendapat teman yang setia, dosen yang menghargai, atau jalan rezeki yang terbuka. Lingkungan akademik yang sehat tumbuh ketika sebuah kebaikan kecil menjadi mata rantai panjang yang menguatkan ekosistem pendidikan. Di sinilah kita belajar bahwa kebaikan, sesederhana apa pun, tidak pernah benar-benar kecil. Ia bisa menjadi cahaya yang menuntun langkah banyak orang.

Namun kampus juga menunjukkan wajah sebaliknya—ketika keburukan berbalas keburukan. Plagiarisme dibalas dengan sanksi, kecurangan dibalas hilangnya kepercayaan, fitnah dibalas hilangnya kehormatan. Dalam dinamika organisasi mahasiswa, laboratorium, hingga senat kampus, kita melihat bahwa tindakan buruk tak pernah berhenti pada pelakunya. Ia mengalir keluar, menciptakan lingkaran ketidakpercayaan, mencemarkan iklim akademik, dan pada akhirnya kembali menghantam orang yang melakukannya. Keburukan seperti asap: ia mungkin dihembuskan keluar, tetapi arah angin pada akhirnya dapat membawa kembali ke wajah kita sendiri.

Tetapi hidup tidak selalu sesederhana balasan setimpal. Ada saat ketika seseorang justru mendapat kebaikan dari keburukan orang lain. Di kampus, tidak sedikit mahasiswa yang tumbuh menjadi pribadi kuat setelah dihina, diremehkan, atau disisihkan. Keburukan yang ditujukan kepada mereka justru menjadi api yang menempa karakter, mendorong belajar lebih baik, bekerja lebih keras, dan membuktikan bahwa luka bisa menjadi pelajaran, bukan alasan untuk menyerah. Seorang dosen yang difitnah namun tetap tenang sering kali justru dihormati karena kebijaksanaannya. Sebab terkadang, keburukan yang diarahkan kepada seseorang justru membuka jalan rezeki, membuka mata publik, dan memperlihatkan siapa yang benar-benar dewasa.

Hidup memang penuh kejutan moral. Keburukan bisa menjadi guru, kritik bisa menjadi motivasi, dan hinaan bisa menjadi doa yang terbalik. Dalam konteks yang lebih luas, sebuah negara pun kadang mendapatkan kemajuan setelah mengalami masa-masa kelam. Korupsi yang terungkap dapat membuka jalan reformasi. Pemimpin yang gagal dapat melahirkan gelombang perubahan dari masyarakat. Bahkan bencana bisa mempersatukan rakyat. Dari keburukan, dapat lahir kesadaran kolektif yang jauh lebih baik.

Namun ada satu jalan yang paling menyakitkan—ketika seseorang mendapat keburukan dari kebaikan orang lain. Tidak semua niat baik dihargai. Di kampus, kita melihat mahasiswa yang tulus membantu organisasi tetapi dihujat karena dianggap mencari panggung. Ada dosen yang memberi nilai objektif justru dituduh pilih kasih. Ada staf yang bekerja keras demi pelayanan mahasiswa tetapi difitnah oleh mereka yang tidak puas. Kebaikan kadang dibalas prasangka, dan ketulusan bisa berujung pada luka.

Dalam kehidupan bernegara, pejabat yang ingin memperbaiki sistem bisa ditentang oleh mereka yang nyaman dengan kekacauan. Pegiat hak asasi bisa dianggap pembuat onar. Aparat yang bersih bisa ditekan oleh kolega yang korup. Kebaikan dalam dunia politik kadang justru mengundang serangan, bukan apresiasi. Tetapi begitulah jalan sunyi para pembawa perubahan: kebaikan mereka tidak langsung dipahami, namun sejarah kelak yang mencatat.

Pada akhirnya, empat jalan takdir ini mengajarkan satu hal mendalam: kehidupan tidak selalu bergantung pada apa yang kita lakukan, tetapi pada bagaimana hati kita menyikapinya. Kita tidak bisa mengatur balasan dari manusia, tetapi kita dapat mengatur niat dan keteguhan diri.

Di kampus maupun dalam kehidupan bernegara, kebaikan tetap perlu dijaga meski kadang tidak dibalas, dan keburukan tetap harus dihindari meski kadang tampak menguntungkan. Sebab nilai sejati seseorang bukan terletak pada apa yang ia dapatkan, tetapi pada apa yang ia pertahankan.

Kita belajar bahwa kebaikan adalah investasi jangka panjang, sedangkan keburukan adalah hutang yang suatu hari akan jatuh tempo. Kita belajar bahwa tidak semua luka perlu dibalas, dan tidak semua kebaikan harus diumumkan. Kampus dan negara adalah cermin: ia memantulkan siapa kita sebenarnya.

Jika empat jalan takdir itu terus berjalan, maka pilihlah untuk tetap berada di jalan pertama—menebar kebaikan dan menerima kebaikan. Dan jika takdir menghadapkan kita pada tiga jalan lainnya, semoga kita tetap kuat: mengambil hikmah dari keburukan orang lain, dan tetap tulus meski kebaikan kita dibalas dengan keburukan. Sebab seorang manusia yang berjiwa besar tidak ditentukan oleh perlakuan orang lain, tetapi oleh keteguhan hatinya sendiri.

Pada akhirnya hanya ada satu prinsip yang benar-benar bertahan: apa pun yang terjadi, jangan berhenti menjadi baik.

Leave a comment