
Di halaman banyak rumah di kampung, sering kita temukan bunga kelapa yang kering tergantung di pelepahnya. Awalnya, ia mekar dengan harapan: menjadi tanda awal dari buah yang kelak menghidupi banyak orang. Namun tidak semua bunga kelapa berubah menjadi buah. Ada yang mengering, gugur, dan hilang, seolah tak pernah ada.
Namun apakah ia sia-sia? Tidak.
Bunga kelapa yang kering tetap punya peran. Ia melindungi bunga muda, menopang pertumbuhan buah sebelum akhirnya pergi. Ia mungkin tidak berubah menjadi kelapa yang segar, tapi ia menjadi bagian dari proses kehidupan pohon kelapa itu sendiri.
Begitu pula kehidupan rumah tangga.
Banyak dari kita memasuki gerbang pernikahan dengan penuh bunga—janji manis, penuh cinta, senyum dan harapan. Namun perjalanan tak selalu tentang bunga yang mekar. Ada masa ketika hati kering, emosi mengeras, bahkan amarah yang tak terduga muncul.
Cinta yang matang bukan hanya kesiapan menerima pelukan dan perhatian, tapi juga kesiapan menghadapi badai kecil dalam rumah. Bukan hanya siap menerima kasih sayang pasangan, tapi juga memahami kemarahan dan kekurangannya. Karena rumah tangga tidak hanya tumbuh di tanah cinta—ia juga tumbuh dari air sabar, pupuk maaf, dan matahari pengertian.
Bunga kelapa yang kering mengajarkan kita bahwa tidak semua fase dalam keluarga akan segar dan sempurna. Ada momen ketika kita merasa kering, lelah, dan ingin menyerah. Tapi selama akar tetap kuat—selama niat untuk bertahan dan saling memperbaiki tetap terjaga—buah akan tetap tumbuh.
Kesempurnaan bukan tujuan rumah tangga.
Yang kita butuhkan adalah kedewasaan: untuk tidak menyerah di fase kering, untuk tidak melupakan janji di masa berbunga. Untuk tidak hanya menghitung hal-hal manis yang kita terima, tetapi juga mengakui perjuangan yang kita lewati bersama.
Karena cinta bukan berarti tak pernah marah.
Cinta berarti pulang setelah marah.
Cinta bukan selalu tentang memberi senyum.
Cinta juga tentang menghapus air mata dan belajar dari penyebabnya.
Bila hari ini rumah tanggamu terasa seperti bunga kelapa yang kering—ingatlah: itu bukan akhir. Itu bagian dari proses, bagian dari perjalanan menuju buah yang lebih manis di kemudian hari.
Selama kita menjaga akarnya—keikhlasan, komitmen, dan doa—maka rumah tangga akan tetap hidup, tumbuh, dan berbuah.
Semoga kita mampu menjadi pasangan yang tidak hanya siap dicintai, tapi juga siap memperbaiki diri ketika salah.
Semoga kita bukan hanya berharap bunga mekar terus, tetapi juga bersyukur pada fase kering yang menguatkan akar cinta.
🌴
Karena dalam rumah tangga, yang terpenting bukan hanya bunga yang terlihat indah, tetapi buah yang tumbuh dari luka yang disembuhkan dan hati yang terus diperbarui.

Leave a comment