Pernah merasa “dikacangin”?
Ya, kata yang ringan tapi dalam — istilah yang akrab di telinga anak muda, tapi juga sesungguhnya mencerminkan pengalaman universal manusia: diabaikan, tidak dianggap, tidak didengar. “Dikacangin” bisa datang dari siapa saja — dari teman, rekan kerja, bahkan dari orang yang paling kita percaya. Tapi tahukah kamu, dari kata itu, kita bisa belajar banyak hal — bahkan kalau kita mau, bisa sampai ke pelajaran tentang teknologi, kemasan, dan kehidupan.
Lucu, bukan? Bagaimana mungkin “dikacangin” bisa dikaitkan dengan “kemasan pintar”? Tapi justru di situlah menariknya. Karena kadang, hal-hal sederhana yang kita anggap sepele — seperti rasa diabaikan — justru memberi kita pelajaran paling jujur tentang bagaimana manusia seharusnya “peka”.
Dalam dunia teknologi pangan, kita mengenal istilah smart packaging — kemasan pintar. Sebuah inovasi yang tidak hanya berfungsi melindungi produk, tapi juga mampu merasakan perubahan di sekitarnya. Kemasan seperti ini bisa memberi sinyal jika makanan di dalamnya mulai rusak, berubah warna jika terpapar suhu yang salah, bahkan mengirim data tentang kesegaran produk. Ia tidak hanya diam, tapi merespons. Ia peduli terhadap kondisi di sekitarnya.
Nah, coba bayangkan kalau manusia bisa seperti itu — seperti kemasan pintar.
Mampu merespons lingkungan, mampu menangkap sinyal perubahan perasaan orang lain, mampu sadar ketika seseorang mulai merasa “dikacangin”.
Sayangnya, tidak semua dari kita punya “sensor hidup” seperti itu.
Kita hidup di zaman di mana banyak orang pintar, tapi tidak semua “peka”. Banyak yang cepat memahami data, tapi lambat memahami perasaan. Banyak yang bisa mendesain kemasan canggih, tapi lupa bagaimana membungkus kata-kata agar tidak melukai orang lain. Di sinilah sebenarnya, pelajaran smart packaging punya makna yang lebih dari sekadar teknologi — ia adalah cermin tentang bagaimana seharusnya kita hidup.
Saya sering berpikir, kehidupan sosial itu mirip dengan dunia kemasan. Ada orang yang tampil menarik dari luar, penuh warna, desainnya mewah — tapi ternyata isinya hampa. Ada juga yang kemasannya sederhana, tapi di dalamnya tersimpan nilai, ketulusan, dan rasa. Namun di tengah semua itu, ada yang paling penting: kemampuan untuk merespons. Itulah yang membedakan antara kemasan biasa dan kemasan pintar — antara manusia yang hidup dan manusia yang sekadar ada.
Ketika kita “dikacangin”, sebenarnya kita sedang diuji: apakah kita hanya ingin diperhatikan, atau kita siap menjadi pribadi yang juga bisa memperhatikan? Hidup tidak akan pernah nyaman saat diabaikan — itu pasti. Tapi dari rasa tidak nyaman itu, muncul kesadaran baru: bahwa perhatian adalah kebutuhan dasar, sama pentingnya dengan udara.
Seperti kacang yang jadi simbol dalam ungkapan “dikacangin”, sebenarnya ada filosofi yang menarik. Kacang itu kecil, sederhana, tapi bernilai tinggi. Ia mengandung protein, lemak sehat, dan energi yang luar biasa. Tapi dalam konteks sosial, “dikacangin” berarti tidak dianggap — padahal sesuatu yang kecil dan sederhana justru sering menjadi inti dari kehidupan. Persahabatan, empati, senyum, sapaan ringan — semua itu kecil, tapi menentukan.
Bayangkan kalau kemasan pintar di dunia industri pangan punya perasaan. Mungkin ia akan berkata, “Saya tidak ingin hanya diam melindungi isi, Saya ingin memastikan isinya baik-baik saja.” Ia punya kepekaan. Ia tahu kapan harus memberi peringatan. Ia tidak menunggu sampai semuanya rusak dulu baru bereaksi. Ia sadar lebih cepat, karena peduli lebih dalam.
Bukankah seharusnya kita juga begitu?
Tidak menunggu seseorang terluka baru kita bertanya, “Kamu kenapa?” Tidak menunggu hubungan membeku baru kita mencoba mencairkan suasana. Tidak menunggu teman merasa sendirian baru kita datang.
Kampus, tempat kita belajar teknologi, ilmu, dan inovasi, seharusnya juga menjadi ruang untuk belajar empati yang cerdas. Ketika kita membahas smart packaging, kita sebenarnya sedang belajar bagaimana menjadi manusia yang aware — sadar, tanggap, dan peduli. Tidak hanya pada produk, tapi juga pada kehidupan di sekitar.
“Dikacangin” ternyata bukan sekadar masalah hubungan sosial — itu juga panggilan untuk menyadari kembali rasa kemanusiaan kita.
Kita semua ingin direspons. Kita ingin dilihat, didengar, dan dihargai. Tapi jarang yang mau memulai untuk melSayakan hal yang sama kepada orang lain. Padahal hidup, sebagaimana prinsip sensor pada smart packaging, selalu bekerja dua arah: memberi dan menerima.
Coba bayangkan hidup seperti sistem sensor aktif: ketika ada perubahan suhu di sekitar, kita ikut menyesuaikan. Ketika seseorang di dekat kita sedih, kita juga merasa perlu hadir. Ketika suasana sosial mulai “rusak”, kita menjadi alarm yang memberi tanda. Bukankah itu bentuk hidup yang lebih bermakna?
Kita bisa belajar dari teknologi yang kita ciptakan. Smart packaging tidak menunggu rusak dulu untuk sadar. Ia bereaksi lebih awal, dengan tujuan menjaga kualitas. Begitu juga manusia: jangan tunggu hubungan memburuk untuk memperbaikinya, jangan tunggu seseorang pergi baru kita menyesal tidak pernah mendengarkan.
Saya percaya, setiap orang memiliki “sensor hidup” di dalam dirinya — tapi sering tertutup oleh kesibukan, ambisi, atau gengsi. Sensor itu bisa aktif lagi kalau kita mau membuka hati, mau mendengar, mau memperhatikan. Dan di situlah kehidupan menjadi lebih manusiawi.
“Dikacangin” mungkin menyakitkan. Tapi justru dari rasa itu, kita belajar pentingnya keberadaan orang lain. Seperti kacang yang diolah menjadi berbagai bentuk makanan — dari yang sederhana hingga mewah — pengalaman “dikacangin” pun bisa menjadi bahan bSaya kehidupan yang bergizi, kalau kita tahu bagaimana mengolahnya.
Mungkin hidup tidak selalu penuh perhatian dari orang lain. Kadang kita memang harus melewati fase di mana kita merasa tidak dianggap. Tapi di situlah justru kesempatan untuk menjadi “kemasan pintar” bagi diri sendiri — belajar membaca perubahan, memahami situasi, menjaga diri agar tidak “basi” oleh rasa kecewa, dan tetap berfungsi dengan baik walau lingkungan tidak mendukung.
Karena pada akhirnya, dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang ingin diperhatikan. Dunia butuh lebih banyak orang yang mau memperhatikan. Orang-orang yang peka seperti kemasan pintar — yang tidak hanya menjaga isi sendiri, tapi juga memastikan sekelilingnya tetap baik-baik saja.
Dan jika suatu hari kamu merasa “dikacangin”, jangan buru-buru sedih. Anggap saja hidup sedang melatih sensor empati di dalam dirimu. Supaya nanti, ketika kamu bertemu seseorang yang sedang diabaikan, kamu tahu rasanya. Kamu tahu bagaimana datang pada waktu yang tepat, tanpa diminta. Seperti kemasan pintar yang tahu kapan harus memberi tanda sebelum segalanya terlambat.
Hidup memang tidak enak kalau dikacangin. Tapi justru dari situ, kita belajar menjadi manusia yang tidak akan pernah “mengacangin” orang lain.

Leave a comment