Di depan sebuah toilet kampus, enam pasang sandal diletakkan berjajar rapi. Tapi anehnya, ada beberapa yang kehilangan pasangannya. Sebagian berdiri kokoh berdua, sebagian lain seperti menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Sebuah pemandangan sederhana, tapi menyimpan banyak makna tentang kehidupan — terutama kehidupan kampus kita.
Kampus, layaknya barisan sandal di depan pintu itu. Ada yang datang berpasangan, ada yang melangkah sendiri. Ada yang saling melengkapi, ada pula yang kehilangan bagian terbaiknya di tengah perjalanan. Kadang karena takdir, kadang karena pilihan. Namun semuanya tetap memiliki satu tujuan: menapaki jalan menuju kebersihan — bukan sekadar fisik, tapi juga pikiran dan hati.
Sandal-sandal itu tidak mempersoalkan siapa pemiliknya. Mereka hanya tahu satu hal: tugas mereka sederhana — melindungi kaki dari lantai yang dingin dan kotor. Begitu pula mahasiswa. Ada yang datang dengan cita-cita besar, ada yang hanya mengikuti arus. Tapi pada akhirnya, semuanya punya peran kecil yang bisa menjaga langkah orang lain agar tak “terluka” di jalan akademik yang keras ini.
Sayangnya, di kehidupan kampus kita sering terlalu sibuk mencari pasangan, teman sekelompok, atau kelompok eksklusif, hingga lupa bahwa tidak semua hal harus berpasangan. Tidak semua yang “sendiri” itu kehilangan, dan tidak semua yang “berdua” itu saling memahami. Seperti sandal-sandal itu, ada yang tampak berpasangan tapi beda ukuran. Ada yang satu besar satu kecil, tapi tetap berjalan bersama.
Sandal yang tak berpasangan mungkin terlihat tidak berguna, tapi siapa tahu pasangannya sedang dipakai menolong orang lain di luar sana. Di kampus, bisa jadi ada teman yang terlihat “terasing”, tapi sebenarnya sedang berjuang keras di balik layar untuk kebaikan yang lebih luas. Ia mungkin tak punya banyak teman, tapi punya banyak makna.
Toilet kampus itu seperti ruang refleksi kecil. Di sanalah segala ego, status, dan kesibukan ditanggalkan sejenak. Semua orang masuk dengan tujuan yang sama: membersihkan diri. Tak ada profesor, tak ada mahasiswa; hanya manusia. Dan di depan pintu itu, sandal-sandal sederhana mengingatkan kita bahwa sebelum melangkah lebih jauh, kadang kita harus berani melepas sejenak — apa pun yang kita kenakan, apa pun yang kita banggakan.
Mungkin hidup di kampus ini tidak selalu seimbang. Ada yang berjalan beriringan, ada yang tertinggal. Ada yang namanya selalu disebut, ada yang bahkan tak dikenali. Tapi, seperti sandal yang sabar menunggu di depan pintu, setiap orang tetap punya tempatnya masing-masing — meski sederhana, meski tak terlihat.
Renungan dari barisan sandal ini mengajarkan satu hal: jangan menilai dari siapa yang bersanding denganmu, tapi dari arah langkah yang kamu tuju. Karena dalam perjalanan ilmu, yang penting bukan siapa di sampingmu, tapi apakah langkahmu menuju kebaikan atau tidak.
Sandal yang berpasangan memang tampak lebih lengkap, tapi sandal yang sendiri pun tetap berguna. Karena dalam hidup — terutama di dunia kampus — bukan selalu tentang berdua, tapi tentang berani melangkah, meski sendirian.
#RenunganKampus #LangkahKecilMaknaBesar #SandalDanHidup

Leave a comment