Jakarta, 21 Oktober 2025 — Direktorat Kewirausahaan dan Alumni Universitas Syiah Kuala (USK) menghadiri pertemuan Friends of Creative Economy (FCE) Meeting 2025 yang digelar di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, Selasa (21/10). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–16.30 WIB ini menjadi ajang strategis bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat jejaring kolaborasi di sektor ekonomi kreatif global.

USK hadir sebagai salah satu perwakilan universitas mitra Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, menegaskan posisi kampus dalam jejaring strategis pengembangan ekosistem ekonomi kreatif nasional. Delegasi USK terdiri atas Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, M.Sc. (Direktur Direktorat Kewirausahaan dan Alumni USK) dan Hendra Halim, M.E. (Manajer Operasional Inkubator Kewirausahaan USK).

Kehadiran tim USK di FCE 2025 menjadi bagian dari komitmen kampus dalam membangun kolaborasi lintas-sektor antara akademisi, pelaku bisnis, komunitas, lembaga keuangan, pemerintah, dan media. “Isu glokalisasi kebijakan menuntut kampus untuk hadir bukan hanya sebagai penghasil talenta, tetapi juga sebagai policy partner yang menautkan inovasi lokal dengan standar global. Kami membawa pengalaman pendampingan wirausaha mahasiswa USK sekaligus membuka kanal kolaborasi baru bagi UMKM kreatif Aceh untuk naik kelas,” ujar Prof. Rahmat Fadhil di sela-sela sesi diskusi.

FCE merupakan bagian integral dari World Conference on Creative Economy (WCCE) — platform global yang diinisiasi Indonesia sejak 2018. Setelah menorehkan tonggak penting seperti 21 butir Bali Agenda dan penetapan Tahun Internasional Ekonomi Kreatif (PBB, 2021), edisi 2025 mengusung tema “Glocalisation of Creative Economy: Policies, Practices, Partnerships”, yang menyoroti harmonisasi kebijakan global dengan agenda lokal, khususnya bagi negara-negara Global South di tengah tantangan perubahan iklim, unilateralisme, dan dinamika konflik.

Melalui partisipasi di FCE 2025, USK mendorong beberapa agenda utama:

  • Sinkronisasi kebijakan kewirausahaan kreatif kampus dengan kerangka global WCCE dan jejaring Kemenparekraf RI.
  • Kemitraan strategis untuk memperluas akses pasar, pembiayaan kreatif, dan pendampingan bisnis berkelanjutan.
  • Pemberdayaan UMKM kreatif Aceh, melalui penguatan kapasitas, digitalisasi, dan hilirisasi produk agar berdaya saing regional. “Jejaring yang dibangun di FCE akan kami tindaklanjuti ke level program, mulai dari startup clinic, market access matchmaking, hingga skema pembiayaan inklusif bersama mitra. Targetnya, karya kreatif mahasiswa dan UMKM binaan USK dapat menembus pasar yang lebih luas,” tambah Prof. Rahmat.

Sebagai informasi, WCCE merupakan konferensi dua tahunan bertema “Inclusively Creative” yang telah digelar di Bali (2018, 2022), Dubai (2021), dan Tashkent (2024). Setelah fase pengarusutamaan, WCCE kini memasuki tahap implementasi melalui penguatan praktik dan kemitraan lintas-negara.

Partisipasi USK dalam FCE 2025 diharapkan menjadi katalis percepatan integrasi kewirausahaan kreatif dalam roadmap kampus, sekaligus memberi dampak nyata bagi pengembangan talenta muda, UMKM kreatif, dan ekosistem inovasi Aceh.


Leave a comment