Banda Aceh, 13 Oktober 2025 – Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Departemen Ilmu Tanah menyelenggarakan Kuliah Tamu Internasional bertema “Geospatial Technology for Sustainable Agriculture: International Collaboration in Addressing Climate Change” pada Senin, 13 Oktober 2025. Kegiatan ini berlangsung di Multi Purpose Room (MPR) Fakultas Pertanian USK dan dihadiri oleh dosen, mahasiswa, serta perwakilan dari berbagai departemen di lingkungan fakultas.

Acara menghadirkan narasumber internasional, Paolo Manunta, Ph.D, seorang Senior Digital Technology Specialist (Earth Observation) dari Climate Change and Sustainable Development Department, Asian Development Bank (ADB) yang dipandu oleh Prof. Dr. Ir. Darusman, M.Sc., yang memiliki bidang keahlian: Fisika Tanah; Pengelolaan Air . Dalam pemaparannya, Paolo Manunta menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi geospasial dalam mendukung sistem pertanian berkelanjutan di tengah ancaman perubahan iklim global.

Menurutnya, teknologi citra satelit dan sistem informasi geografis (GIS) kini menjadi alat penting dalam memetakan perubahan tutupan lahan, mengelola sumber daya air, serta memantau kesehatan tanah dan tanaman. “Pertanian masa depan tidak hanya bergantung pada pupuk atau varietas unggul, tetapi juga pada data. Teknologi geospasial memberikan data yang presisi untuk membuat keputusan yang cepat dan akurat,” ujarnya dalam presentasi yang disambut antusias oleh peserta.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Pertanian USK, Prof. Ir. Sugianto, M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Departemen Ilmu Tanah yang telah menghadirkan kuliah tamu berskala internasional ini.

“Isu perubahan iklim adalah tantangan global yang harus dijawab dengan kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin ilmu. Fakultas Pertanian USK terus berkomitmen untuk menghadirkan kegiatan akademik yang memperluas wawasan mahasiswa dan dosen dalam menghadapi tantangan pangan dan lingkungan di masa depan,” ujar Prof. Sugianto.

Beliau juga menekankan pentingnya knowledge transfer antara lembaga internasional seperti ADB dengan institusi pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya dalam penerapan teknologi digital untuk sistem pertanian berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Departemen Ilmu Tanah USK, Dr. Ir. Fikrinda, M.Si., menyampaikan bahwa kuliah tamu ini merupakan bagian dari upaya Departemen Ilmu Tanah untuk meningkatkan literasi digital dan kemampuan analisis spasial bagi mahasiswa serta dosen di lingkungan Fakultas Pertanian.

“Kami ingin mahasiswa Ilmu Tanah dan bidang pertanian lainnya tidak hanya memahami aspek teknis di lapangan, tetapi juga mampu membaca dan menginterpretasi data spasial yang menjadi dasar perencanaan pertanian modern,” tutur Dr. Fikrinda.

Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan membuka peluang kolaborasi penelitian antara USK dan lembaga-lembaga internasional, terutama dalam bidang mitigasi perubahan iklim dan pengelolaan lahan berkelanjutan.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai departemen di Fakultas Pertanian USK, termasuk Departemen Agroteknologi, Agribisnis, Teknik Pertanian, Teknologi Hasil Pertanian, Proteksi Tanaman, Peternakan, Kehutanan, serta program magister dan diploma. Setiap departemen diminta mengirimkan dua perwakilan peserta, baik dosen maupun mahasiswa.

Koordinator kegiatan, Yaumil Khairiyah, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa kuliah tamu ini tidak hanya memperkaya pengetahuan peserta tentang teknologi geospasial, tetapi juga memperkuat jejaring akademik internasional USK. “Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa pertanian USK memiliki pemahaman global dan keterampilan digital yang relevan untuk masa depan,” jelasnya.

Dalam sesi tanya jawab, peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar implementasi teknologi penginderaan jauh di sektor pertanian Aceh, terutama dalam pengelolaan lahan gambut dan pemantauan dampak kekeringan. Paolo Manunta menegaskan bahwa kolaborasi lokal sangat penting agar teknologi ini benar-benar bermanfaat di lapangan.

“Data satelit tidak akan berguna tanpa interpretasi dan validasi di tingkat lokal. Akademisi seperti USK memiliki peran kunci untuk menjembatani teknologi global dengan realitas di lapangan,” pungkasnya.

Kegiatan kuliah tamu ini menegaskan posisi Fakultas Pertanian USK sebagai lembaga pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global dan komitmen terhadap pertanian berkelanjutan. Melalui sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi internasional, diharapkan USK dapat terus berkontribusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga ketahanan pangan nasional.

“Dengan ilmu dan kolaborasi global, pertanian berkelanjutan bukan sekadar cita-cita, tetapi keniscayaan.”

Leave a comment