Banda Aceh, 8–9 Oktober 2025 – Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Fakultas Pertanian kembali menegaskan peran globalnya dalam dunia akademik dan inovasi pertanian dengan sukses menyelenggarakan The 7th International Conference on Agriculture and Bio-Industry (ICAGRI) 2025, yang mengusung tema “Advancing Global Agricultural Innovations, Sustainability, and Food Security.”

Konferensi internasional ini dibuka secara resmi oleh Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan, IPU, didampingi Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Ir. Sugianto, M.Sc., Ph.D., serta Ketua Panitia, Laila Wijaya, S.P., M.Env.Plan., Ph.D. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa ICAGRI merupakan momentum strategis bagi USK untuk memperkuat kontribusi ilmiah terhadap isu pangan global.
“ICAGRI adalah bukti nyata bahwa Aceh tidak hanya kaya secara budaya, tetapi juga menjadi pusat inovasi pertanian global,” ujar Prof. Marwan.

Kegiatan hari pertama diwarnai dengan cultural performance seperti Tari Ranup Lampuan dan Ratoh Jaroe yang memperlihatkan harmoni antara budaya dan ilmu pengetahuan. Empat keynote speakers dari universitas terkemuka dunia turut hadir: Prof. Muhammad Farooq (Oman), Prof. Shawn Laffan (Australia), Asst. Prof. Rattapon Saengrayap (Thailand), dan Prof. Atsushi Yoshimoto (Jepang), membahas topik strategis mulai dari bioteknologi, efisiensi sumber daya, hingga pertanian berbasis data.

Sebanyak 10 ruang paralel menggelar lebih dari 120 presentasi penelitian dari peneliti nasional dan internasional. Topik yang dibahas sangat beragam, mulai dari bioteknologi, tanah dan konservasi air, agroforestri, peternakan berkelanjutan, hingga digitalisasi pertanian.

Penelitian inovatif dari dosen dan mahasiswa USK turut mencuri perhatian. Misalnya, penelitian Dr. Rita Hayati tentang teknologi non-destructive infrared untuk menjaga kualitas bawang merah, serta kajian Prof. Sugianto tentang perubahan tutupan lahan di sub-DAS Krueng Seulimuem. Peneliti muda dari berbagai universitas juga aktif berpartisipasi, mencerminkan semangat regenerasi ilmuwan di bidang pertanian.

Selain memperkaya literasi akademik, ICAGRI juga berperan sebagai katalis bagi kolaborasi industri dan universitas. Beberapa hasil riset diarahkan menuju hilirisasi produk, seperti inovasi bioplastik berbahan rumput laut dan pengembangan biochar untuk perbaikan tanah pasca tambang.
“Setiap penelitian yang dibahas di ICAGRI harus memiliki impact langsung terhadap masyarakat dan industri pertanian. Ini bukan sekadar forum ilmiah, tapi juga wadah untuk membentuk solusi konkret,” tegas Prof. Sugianto.

Kegiatan ditutup dengan pengumuman best presenters dan penyerahan penghargaan kepada para pembicara. Hari kedua diisi dengan city tour memperkenalkan keindahan Banda Aceh kepada peserta internasional.

Dengan keberhasilan pelaksanaan ICAGRI 2025, USK menegaskan posisinya sebagai salah satu universitas terdepan dalam membangun kolaborasi riset global, memperkuat kedaulatan pangan, dan menciptakan masa depan pertanian yang berkelanjutan bagi dunia.

Leave a comment