Dalam lintasan sejarah Nusantara, ada nama yang selalu memancarkan cahaya spiritualitas dan keilmuan yang melampaui zamannya: Hamzah Al Fansuri. Ia bukan hanya seorang penyair, melainkan seorang sufi, seorang guru, dan seorang penanda jalan yang menghubungkan kebijaksanaan Timur Tengah dengan kesadaran masyarakat Melayu di abad ke-16 dan 17. Seperti api kecil yang menyalakan obor, pemikirannya meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah intelektual Islam di Asia Tenggara.

Hamzah Fansuri lahir di Barus, sebuah pelabuhan kuno di pesisir barat Sumatra yang pada masa itu dikenal dunia dengan nama Fansur. Barus menjadi pusat perdagangan kapur barus—komoditas yang diburu pedagang dari Arab, Persia, India, hingga Eropa. Dari Barus pula lahir manusia-manusia yang membuka cakrawala baru bagi dunia Melayu. Hamzah adalah salah satunya. Tahun kelahirannya memang masih menjadi perdebatan, sebagian menyebut abad ke-16, sebagian lain menempatkannya di awal abad ke-17. Namun yang jelas, ia tumbuh dalam suasana keterbukaan budaya, di tengah lalu lintas ilmu pengetahuan, perdagangan, dan spiritualitas.

Ia dikenal sebagai pengembara. Dalam catatan yang bisa ditelusuri dari karya-karyanya, Hamzah pernah menjejakkan kaki ke Arab, Persia, hingga India. Di negeri-negeri itulah ia menyerap pengetahuan tasawuf yang berkembang, terutama ajaran wahdatul wujud yang dipopulerkan oleh Ibn ‘Arabi, sufi besar asal Andalusia. Namun Hamzah tidak hanya menyalin gagasan itu, ia mengolah dan menuturkannya kembali dalam bahasa Melayu dengan simbol-simbol lokal. Maka jadilah ajarannya terasa dekat bagi masyarakat yang masih hidup dalam tradisi puisi, pantun, dan hikayat.

Hamzah Fansuri adalah pelopor puisi sufi berbahasa Melayu. Ia menyampaikan gagasan keruhanian yang tinggi melalui syair yang sederhana namun sarat makna. Salah satu karya terkenalnya adalah Syair Perahu. Syair ini bukan sekadar permainan kata, melainkan sebuah pelajaran hidup. Dalam syair itu, kehidupan diibaratkan sebagai perjalanan mengarungi samudra dengan perahu sebagai kendaraan. Perahu adalah jasad, lautan adalah dunia, dan tujuan adalah Tuhan. “Hai muda kenali dirimu, ialah perahu tamsil tubuhmu,” demikian tulisnya. Sebuah peringatan halus, bahwa manusia seharusnya mengenali dirinya sebelum ia terhanyut oleh gelombang dunia.

Selain Syair Perahu, Hamzah juga menulis Syair Dagang, Syair Burung Pingai, serta sejumlah karya prosa seperti Asrar al-‘Arifin dan Sharab al-‘Ashiqin. Di dalamnya, ia membicarakan cinta Ilahi, perjalanan ruhani, serta pentingnya ma’rifatullah—pengenalan terhadap Allah—sebagai inti dari hidup. Hamzah menekankan bahwa hakikat tertinggi manusia adalah mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya, hingga lenyap rasa “aku” yang palsu. Bagi Hamzah, hidup tanpa mengenal Allah hanyalah kesia-siaan belaka, seperti perahu yang karam di tengah lautan tanpa arah.

Namun sejarah tidak pernah berjalan mulus. Pemikiran Hamzah Fansuri tentang wahdatul wujud menuai kontroversi. Di Aceh, pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636) dan penerusnya, muncul ulama besar bernama Nuruddin ar-Raniri. Ar-Raniri memandang ajaran Hamzah sebagai sesat karena dianggap mengaburkan batas antara Tuhan dan makhluk. Ia bahkan memerintahkan untuk membakar karya-karya Hamzah dan murid-muridnya. Perdebatan itu menjadi salah satu polemik intelektual paling besar di dunia Melayu.

Namun, seperti api yang tidak padam meski ditiup angin, pemikiran Hamzah tetap hidup. Ia diwarisi secara diam-diam oleh murid-muridnya, lalu menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Bahkan hingga hari ini, syair-syairnya masih diajarkan di pesantren, dibaca dalam pengajian, dan dikaji di ruang-ruang akademik. Inilah bukti bahwa kebenaran tidak pernah bisa dimusnahkan sepenuhnya.

Jika kita melihat dari sisi sejarah, Hamzah Fansuri adalah simbol pertemuan antara Islam universal dengan kearifan lokal. Ia menunjukkan bahwa agama bukan hanya sekadar ritual, melainkan perjalanan batin yang mendalam. Ia juga memberi teladan bagaimana ilmu dari Timur Tengah bisa diterjemahkan dalam bahasa dan simbol Nusantara, sehingga masyarakat bisa merasakannya dengan hati, bukan sekadar akal.

Dari sisi sastra, Hamzah adalah pelopor. Sebelum ia menulis, bahasa Melayu jarang digunakan sebagai medium filsafat dan tasawuf. Ia membuktikan bahwa bahasa Melayu mampu mengungkap gagasan besar. Maka tidak berlebihan jika banyak ahli menyebutnya sebagai bapak sastra sufi Melayu. Tanpa Hamzah, mungkin kita tidak akan mengenal tradisi syair sufi yang indah itu.

Lebih jauh lagi, Hamzah Fansuri mengajarkan kepada kita bahwa ilmu tidak boleh berhenti di kepala, tetapi harus turun ke hati dan diwujudkan dalam perilaku. Dalam syair-syairnya, ia berulang kali menegaskan pentingnya hidup sederhana, menjauhi kerakusan dunia, dan selalu ingat pada Tuhan. Ia mengkritik orang yang sibuk mengejar dunia namun melupakan jiwa. Kritik itu terasa abadi, bahkan relevan di zaman modern yang penuh kesibukan dan hiruk pikuk ini.

Kita bisa merenung, betapa hari ini manusia sering kali kehilangan perahu dirinya. Banyak yang hanyut oleh arus materialisme, teknologi, dan persaingan tanpa henti, hingga lupa pada tujuan utama hidup. Padahal, syair Hamzah sudah sejak ratusan tahun lalu mengingatkan: “Kalau perahu sudah rusak, alamat tubuhmu kelak akan rusak pula.”

Opini saya, Hamzah Fansuri adalah seorang pembaharu yang berani. Ia menulis di saat kebanyakan orang masih melihat ilmu agama sebagai dogma yang beku. Ia menghidupkannya dengan bahasa puitis yang menyentuh. Ia tidak takut pada kritik dan penolakan, karena ia yakin bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Inilah yang membuat Hamzah berbeda: keberaniannya menyalakan api pencerahan dalam gelapnya zaman.

Hikmah yang bisa kita petik dari Hamzah adalah bahwa ilmu harus selalu membumi. Tidak cukup kita membaca kitab-kitab besar jika tidak bisa menyampaikannya dalam bahasa yang dipahami masyarakat. Hamzah mengajarkan, bahasa lokal bisa menjadi kendaraan suci untuk mengungkapkan cinta pada Tuhan. Ia juga mengingatkan, bahwa keindahan bukan hanya milik seni, tetapi juga milik agama. Syairnya adalah doa yang ditulis dengan tinta cinta.

Kini, ketika dunia Melayu sudah terhubung dengan dunia global, kita semakin menyadari pentingnya jejak Hamzah. Ia telah menanamkan benih intelektual yang membuat Islam di Nusantara tumbuh dengan wajah ramah, penuh simbol, penuh cinta. Tanpa Hamzah, barangkali tradisi sufi di Nusantara tidak akan sekuat ini.

Mengenang Hamzah Fansuri bukan sekadar membaca sejarah, melainkan membaca diri kita sendiri. Ia lahir dari Barus, sebuah kota kecil yang dahulu menjadi pusat dunia, namun kini sepi. Dari situ kita belajar, bahwa kebesaran tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan, melainkan dari tempat yang sederhana. Dan dari situ pula kita diingatkan, bahwa suara hati seorang penyair bisa lebih abadi daripada suara pedang para raja.

Akhirnya, Hamzah Fansuri adalah cermin. Ia mengajak kita menatap ke dalam, mengenal diri, dan menyadari bahwa tujuan akhir manusia adalah kembali kepada Sang Pencipta. Dunia hanyalah lautan, tubuh hanyalah perahu, sementara jiwa adalah penumpang yang harus tiba di dermaga abadi. Jika perahu bocor, penumpang akan karam. Tetapi jika perahu dirawat dengan iman dan takwa, maka ia akan sampai dengan selamat.

Warisan Hamzah bukan hanya syair yang indah, tetapi juga hikmah yang menembus zaman: bahwa hidup harus dipahami sebagai perjalanan menuju Tuhan. Sejarah boleh berganti, kerajaan boleh runtuh, buku boleh dibakar, tetapi kata-kata yang lahir dari cinta akan selalu menemukan jalannya. Hamzah Fansuri sudah membuktikannya. Dan tugas kita hari ini adalah meneruskan api itu, menjaga agar syair-syairnya tetap hidup, dan menghidupkannya kembali dalam kehidupan sehari-hari.

Syair Perahu – Hamzah Fansuri

Hai muda kenali dirimu,
Ialah perahu tamsil tubuhmu;
Tiadalah berapa lama hidupmu,
Ke akhirat juga kekal diammu.

Perahumu perahu terlalu indah,
Kayunya terbuat kayu cendana;
Belahnya pula dengan beladau indah,
Diikat dengan rotan yang raja.

Dayungnya dibuat dari kayu meranti,
Layar dipasang kain sutera putih;
Tali-temali dengan benang murni,
Tiang serdadu berdiri teguh.

Jika demikian perahumu sudah,
Lautan dunia terlalu luas;
Angin ribut ombak yang deras,
Tiada berapa dapatlah puas.

Hai muda arif budiman,
Hasilkan bekal dengan iman;
Perahumu itu kerjakan,
Ke laut dunia engkau turunkan.

Apabila sudah engkau perahukan,
Lautan dalam engkau jalankan;
Dayungmu itu jangan lepaskan,
Supaya perahumu jangan tenggelamkan.

Kalau demikian engkau beroleh bahagia,
Perahu selamat ke pantai sejahtera;
Janganlah lupa akan yang esa,
Di laut dunia terlalu bahaya.

Leave a comment