
Di bawah terik matahari yang kian menyengat, kita sering hanya merasakan panas di kulit. Tetapi, tahukah kita bahwa panas yang sama juga mengubah cara tumbuhan hidup, bernapas, bahkan tumbuh? Fenomena itu dalam bahasa ilmiah disebut plant thermomorphogenesis—kemampuan tumbuhan mengubah bentuk, struktur, dan pertumbuhannya sebagai respons terhadap suhu lingkungan.
Global warming bukan sekadar istilah yang sering didengungkan di ruang konferensi internasional, melainkan realitas sehari-hari yang kita alami: musim kemarau yang lebih panjang, banjir bandang yang datang tiba-tiba, hingga cuaca ekstrem yang sulit diprediksi. Dan dalam diam, tumbuhan—sumber pangan, oksigen, dan kehidupan kita—juga berjuang keras menghadapi perubahan itu.
Membaca Bahasa Sunyi Tumbuhan
Plant thermomorphogenesis adalah sebuah konsep yang mengajarkan kita bahwa tumbuhan tidaklah pasif. Mereka tidak hanya berdiri menanti air hujan, tetapi aktif menyesuaikan diri. Misalnya, pada suhu tinggi, batang tanaman bisa memanjang lebih cepat, daun menjadi lebih tipis dan melebar untuk melepaskan panas, sementara arah pertumbuhan bisa bergeser untuk mencari posisi yang lebih teduh.
Sains menemukan bahwa mekanisme ini dikendalikan oleh gen, hormon tumbuhan, dan sensor suhu di dalam sel. Hormon seperti auxin memainkan peran penting dalam mengatur pertumbuhan batang saat suhu meningkat. Bahkan, riset di Martin Luther University Halle-Wittenberg, Jerman—yang menjadi salah satu pusat kajian Prof. Dr. Marcel Quint, narasumber dalam sebuah forum internasional—telah membuktikan bagaimana sinyal molekuler mengatur perubahan bentuk tanaman ketika suhu berubah.
Artinya, tumbuhan sedang mengirim pesan kepada kita: mereka pun beradaptasi. Tetapi sejauh mana adaptasi itu bisa menyelamatkan mereka—dan kita—di tengah pemanasan global yang semakin cepat?
Global Warming: Dari Angka ke Kenyataan
Data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 2023 menunjukkan bahwa suhu rata-rata global telah meningkat 1,1°C dibandingkan era pra-industri. Jika tren emisi karbon tidak ditekan, suhu bisa melonjak hingga 1,5°C pada dekade 2030-an. Bagi manusia, angka ini mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi tumbuhan, setiap sepersepuluh derajat adalah pukulan serius.
Di Indonesia, data BMKG (2024) mencatat suhu rata-rata meningkat 0,3–0,4°C setiap dekade. Dampaknya terlihat jelas: El Niño 2023 membuat lahan pertanian di Jawa hingga Nusa Tenggara kering kerontang, produksi padi turun hingga 5%, dan harga beras melonjak di pasar. Ironisnya, pada saat bersamaan, banjir bandang melanda beberapa wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Kalimantan. Tumbuhan terjebak dalam paradoks: terlalu panas di satu sisi, terlalu basah di sisi lain.
Aceh, tanah yang kaya sumber daya alam, juga tidak lepas dari dampak ini. Sawah-sawah di Pidie dan Aceh Besar menghadapi risiko gagal panen akibat musim kemarau panjang, sementara petani kopi Gayo di dataran tinggi mengeluhkan perubahan pola bunga kopi karena suhu malam yang kian tidak stabil.
Ketika Pertumbuhan Terganggu, Pangan Jadi Taruhan
Mengapa kita harus peduli dengan plant thermomorphogenesis? Karena tumbuhan bukan hanya penghias lanskap, melainkan fondasi kehidupan.
Bayangkan padi, jagung, kedelai, atau sayuran yang setiap hari kita konsumsi. Semua itu sensitif terhadap suhu. Studi oleh International Rice Research Institute (IRRI) menunjukkan bahwa peningkatan suhu 1°C saja bisa menurunkan hasil panen padi hingga 10%. Artinya, jika global warming terus berlanjut, ancaman kekurangan pangan bukan lagi prediksi, melainkan kenyataan yang sedang mengetuk pintu.
Kita sudah melihat gejalanya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat produksi padi Indonesia turun sekitar 3% akibat musim kering panjang, meskipun secara resmi kita masih diklaim surplus. Di sisi lain, harga beras tetap naik—suatu anomali yang menekan dapur rakyat kecil. Jika adaptasi tanaman tidak didukung oleh inovasi manusia, apa yang terjadi beberapa dekade ke depan?
Ada keindahan yang bisa kita petik dari bagaimana tumbuhan merespons panas. Saat daun menggulung untuk mengurangi penguapan, ia seakan berkata: aku berhemat agar bisa bertahan. Saat batang memanjang di suhu tinggi, ia seakan berkata: aku mencari cahaya baru agar hidupku berlanjut.
Bukankah ini pelajaran berharga bagi kita manusia? Bahwa dalam menghadapi krisis, kita pun harus belajar beradaptasi, berhemat, dan mencari jalan baru. Namun, ada batasnya. Jika suhu bumi naik terlalu cepat, adaptasi tumbuhan bisa kewalahan. Begitu pula kita, manusia, yang tak bisa terus bersembunyi di balik pendingin ruangan sambil mengabaikan krisis iklim.
Dari Laboratorium ke Lumbung
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Di sinilah ilmu dan kebijakan harus bertemu.
Pertama, riset tentang plant thermomorphogenesis harus terus diperkuat. Pengetahuan tentang gen dan mekanisme adaptasi suhu bisa menjadi kunci untuk menciptakan varietas tanaman yang lebih tahan panas. Indonesia harus berani berinvestasi dalam bioteknologi dan bekerja sama dengan pusat riset internasional.
Kedua, sistem pertanian harus berubah. Pola tanam yang rigid harus diganti dengan sistem adaptif. Misalnya, di Aceh, petani bisa mengadopsi teknologi irigasi tetes, memanfaatkan embung desa, atau menanam varietas lokal yang lebih tahan panas. Diversifikasi pangan juga penting—tidak hanya bergantung pada padi, tetapi juga memperkuat sorgum, jagung, atau sagu.
Ketiga, kebijakan pemerintah tidak boleh berhenti pada jargon surplus beras. Stabilitas harga pangan hanya bisa dicapai jika produksi benar-benar stabil, bukan sekadar angka di laporan. Pemerintah harus hadir mendampingi petani dengan subsidi pupuk yang tepat sasaran, akses teknologi ramah iklim, dan pasar yang adil.
Keempat, peran masyarakat juga penting. Mengurangi jejak karbon dalam kehidupan sehari-hari adalah kontribusi nyata: hemat energi, kurangi sampah plastik, dan dukung produk lokal. Setiap tindakan kecil adalah bentuk solidaritas dengan tumbuhan yang sedang berjuang menghadapi panas.
Renungan untuk Generasi Mendatang
Di forum akademik internasional, tema tentang plant thermomorphogenesis bukan sekadar wacana ilmiah. Ia adalah alarm yang berbunyi keras: bumi sedang panas, tumbuhan sedang berubah, dan kita harus bertindak.
Kita harus jujur: pertarungan melawan global warming adalah pertarungan untuk mempertahankan nasi di piring, sayur di meja makan, dan kopi di cangkir pagi kita. Bukan hanya isu ekologis, melainkan juga isu kesejahteraan, budaya, bahkan identitas.
Bayangkan anak-anak Aceh, Jawa, Papua, dan seluruh pelosok negeri. Apakah mereka akan tumbuh dengan pangan cukup, ataukah harus menghadapi masa depan di mana makanan menjadi barang mewah karena tumbuhan tak lagi mampu beradaptasi?
Penutup: Belajar dari Tumbuhan
Plant thermomorphogenesis memberi kita cermin. Tumbuhan diam, tetapi sebenarnya sangat vokal dalam memberi pesan. Mereka berkata: kami beradaptasi, tapi kami butuh kalian untuk ikut menjaga bumi.
Sebagai manusia, kita memiliki akal, teknologi, dan kebijakan. Tidak ada alasan untuk membiarkan tumbuhan berjuang sendirian. Mari jadikan forum akademik ini bukan sekadar diskusi, tetapi momentum untuk bergerak: dari laboratorium ke ladang, dari ruang kelas ke ruang kebijakan, dari individu ke komunitas global.
Karena pada akhirnya, menjaga tumbuhan berarti menjaga diri kita sendiri. Dan setiap daun yang menggulung di tengah panas adalah doa sunyi yang menunggu jawaban dari kita semua.

Daftar Referensi
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Indonesia 2024. Jakarta: BPS.
BMKG. (2024). Laporan tahunan iklim Indonesia 2024. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. https://www.bmkg.go.id
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II, and III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. IPCC. https://www.ipcc.ch
International Rice Research Institute (IRRI). (2019). Climate change and rice production. IRRI Publications.
Martin Luther University Halle-Wittenberg. (2022). Research on plant thermomorphogenesis and crop adaptation to climate change. Halle, Germany.
Pérez, P., & Quint, M. (2017). Plants under heat stress: A molecular and physiological perspective. Current Opinion in Plant Biology, 45, 210–217. https://doi.org/10.1016/j.pbi.2017.03.002
Quint, M., Delker, C., Franklin, K. A., Wigge, P. A., Halliday, K. J., & van Zanten, M. (2016). Molecular and genetic control of plant thermomorphogenesis. Nature Plants, 2(11), 15190. https://doi.org/10.1038/nplants.2015.190
SSGI (Survei Status Gizi Indonesia). (2022). Laporan Nasional Status Gizi Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
World Bank. (2023). Indonesia Economic Prospects: Investing in Nutrition for a Better Future. World Bank Group.

Leave a comment