
Di setiap budaya dan masyarakat, makanan memiliki peran yang jauh lebih besar dari sekadar pemenuhan kebutuhan gizi. Makanan adalah simbol dari identitas, tradisi, dan cara hidup yang diturunkan dari generasi ke generasi. Di Indonesia, kita sering mendengar istilah “makanan panas” dan “makanan dingin”. Meskipun sering dianggap sebagai mitos atau keyakinan lama, konsep ini sebenarnya memiliki dasar yang lebih dalam, baik dari segi budaya, kesehatan, maupun sains.
Makanan Panas dan Dingin dalam Tradisi
Dalam budaya Indonesia, perbedaan antara makanan panas dan dingin sudah dikenal lama. Istilah seperti masuk angin, panas dalam, dan adem sering kali digunakan untuk menggambarkan kondisi tubuh yang tidak seimbang. Misalnya, jika seseorang makan durian (yang dianggap panas), biasanya disarankan untuk meminum air kelapa muda atau makan manggis (yang dianggap dingin) untuk menyeimbangkan efeknya. Atau ketika seseorang mengalami flu atau demam, minuman jahe hangat dianggap sebagai solusi untuk menghangatkan tubuh dan mempercepat pemulihan.
Kepercayaan ini tidak hanya ada di Indonesia. Berbagai budaya lain, seperti Cina, India, dan bahkan dalam tradisi Islam, memiliki pandangan serupa mengenai pentingnya keseimbangan antara makanan panas dan dingin. Dalam pengobatan tradisional Cina, misalnya, makanan dibagi dalam kategori yin (dingin) dan yang (panas), yang masing-masing memiliki efek tertentu terhadap tubuh. Begitu juga dalam tradisi Ayurveda dari India, yang membedakan antara makanan ushna (panas) dan shita (dingin) yang harus dikonsumsi sesuai dengan kondisi tubuh.
Sains Modern: Memahami Manfaat Makanan Panas dan Dingin
Sekarang, kita hidup di dunia yang didorong oleh sains dan data. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, banyak dari kepercayaan lama tentang makanan panas dan dingin ini kini bisa dijelaskan melalui mekanisme biologis yang lebih mendalam. Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa berbagai makanan, meskipun tidak selalu dalam bentuk yang sama seperti yang kita kenal dalam tradisi, memang memiliki efek fisiologis yang sesuai dengan kategori panas dan dingin tersebut.
Makanan Panas dan Manfaatnya
Makanan yang dianggap panas, seperti cabai, jahe, atau kopi, telah terbukti memiliki efek termogenik—yakni kemampuan untuk meningkatkan suhu tubuh dan mempercepat metabolisme. Misalnya, cabai mengandung kapsaisin, senyawa yang dapat meningkatkan pembakaran kalori dan menurunkan nafsu makan . Dalam sebuah studi yang diterbitkan oleh Chemical Senses (2011), ditemukan bahwa kapsaisin dapat meningkatkan oksidasi lemak hingga 16% dalam waktu singkat. Itu sebabnya, makanan pedas sering dikaitkan dengan peningkatan energi dan rasa panas setelah dikonsumsi.
Jahe, salah satu bahan makanan panas yang paling banyak digunakan di Indonesia, juga memiliki manfaat kesehatan yang besar. Penelitian menunjukkan bahwa jahe mengandung gingerol, senyawa anti-inflamasi yang dapat membantu melancarkan peredaran darah, meredakan mual, dan meningkatkan metabolisme tubuh . Bahkan, menurut studi yang dipublikasikan di Journal of Medicinal Food (2013), jahe dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dan mengurangi peradangan dalam tubuh.
Makanan Dingin: Menyejukkan dan Menenangkan
Di sisi lain, makanan yang dianggap dingin, seperti semangka, mentimun, dan yogurt, memiliki manfaat yang lebih menenangkan. Makanan ini umumnya tinggi kandungan air, yang berfungsi untuk menghidrasi tubuh dan menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Semangka, misalnya, mengandung 92% air dan kaya akan likopen, senyawa yang dapat membantu melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Hypertension (2011) menunjukkan bahwa konsumsi ekstrak semangka dapat menurunkan tekanan darah pada individu dengan prehipertensi .
Mentimun juga memiliki manfaat serupa. Selain menghidrasi, mentimun mengandung flavonoid dan tanin yang membantu meredakan peradangan dalam tubuh. Tak hanya itu, mentimun juga kaya akan serat, yang mendukung pencernaan dan membantu mengatur kadar gula darah. Menurut Journal of Food Science (2017), mentimun memiliki efek menenangkan pada saluran pencernaan, membantu mengurangi gangguan perut dan sembelit .
Selain itu, produk susu seperti yogurt juga dianggap makanan dingin yang baik untuk tubuh. Probiotik dalam yogurt membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus dan memperbaiki pencernaan, yang penting untuk kesehatan secara keseluruhan. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di British Journal of Nutrition (2017), ditemukan bahwa konsumsi yogurt secara teratur dapat menurunkan peradangan usus dan memperbaiki gejala sindrom iritasi usus .
Keseimbangan: Kunci Sehatnya Tubuh
Meskipun makanan panas dan dingin memiliki manfaat masing-masing, yang paling penting adalah keseimbangan. Tidak ada makanan yang sepenuhnya baik atau buruk—semuanya bergantung pada cara kita mengonsumsinya. Mengonsumsi makanan panas berlebihan tanpa mengimbangi dengan makanan dingin dapat menyebabkan tubuh kita menjadi terlalu panas, yang akhirnya memicu peradangan, masalah pencernaan, dan bahkan masalah kulit seperti jerawat. Sebaliknya, mengonsumsi makanan dingin secara berlebihan dapat menyebabkan tubuh menjadi lemas, kekurangan energi, dan mengganggu fungsi metabolisme tubuh.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menciptakan keseimbangan ini dengan mengombinasikan kedua jenis makanan dalam pola makan kita. Misalnya, mengonsumsi sup hangat (panas) dengan sayur segar seperti timun atau tomat (dingin) akan memberikan manfaat terbaik bagi tubuh kita. Atau, setelah menikmati makanan pedas, kita bisa menyeimbangkannya dengan mengonsumsi buah yang kaya air, seperti semangka atau jeruk.
Tantangan dan Solusi di Era Modern
Di dunia yang serba cepat ini, banyak orang cenderung memilih makanan yang praktis dan cepat saji, yang sering kali tidak seimbang. Makanan cepat saji yang kaya lemak, garam, dan gula, sering kali mengandung lebih banyak komponen yang dianggap “panas”, sementara kurang memperhatikan asupan yang menenangkan dan menyejukkan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak hanya mengandalkan teknologi atau inovasi terbaru dalam dunia kuliner, tetapi juga kembali mengingatkan diri akan prinsip dasar keseimbangan dalam pola makan.
Salah satu cara mudah untuk mencapainya adalah dengan kembali memperkenalkan konsep makanan panas dan dingin dalam kehidupan sehari-hari, meskipun dengan pendekatan yang lebih modern dan ilmiah. Menggunakan bahan-bahan alami yang sudah terbukti bermanfaat, seperti jahe, cabai, semangka, dan yogurt, dapat memberikan kita keseimbangan yang dibutuhkan oleh tubuh.
Penutup: Makanan sebagai Keseimbangan Hidup
Pada akhirnya, buku ini tidak hanya mengajak kita untuk memahami perbedaan antara makanan panas dan dingin, tetapi juga mengajak kita untuk lebih memperhatikan tubuh kita dan mendengarkan apa yang dibutuhkan olehnya. Dalam dunia yang semakin terhubung dengan teknologi dan informasi, mari kita tidak lupa untuk menghargai dan menjaga keseimbangan yang sudah diajarkan oleh para leluhur kita melalui makanan. Dengan menggabungkan kebijaksanaan tradisional dan pengetahuan ilmiah, kita dapat mencapai tubuh yang sehat dan hidup yang lebih baik.
Sumber:
- Ludy, M. J., & Mattes, R. D. (2011). The effects of capsinoids and capsaicin on energy expenditure and fat oxidation in humans. Chemical Senses, 36(1), 3–14. https://doi.org/10.1093/chemse/bjq100
- Mansour, M. S., Ni, Y. M., Roberts, A. L., Kelleman, M., Roychoudhury, A., & St-Onge, M. P. (2012). Ginger consumption enhances the thermic effect of food and promotes feelings of satiety without affecting metabolic and hormonal parameters in overweight men: A pilot study. Metabolism, 61(10), 1347–1352. https://doi.org/10.1016/j.metabol.2012.03.016
- Figueroa, A., Sanchez-Gonzalez, M. A., Wong, A., & Arjmandi, B. H. (2011). Watermelon extract supplementation reduces ankle blood pressure and carotid augmentation index in obese adults with prehypertension or hypertension. American Journal of Hypertension, 24(1), 40–44. https://doi.org/10.1038/ajh.2010.142
- Mangels, A. R. (1993). Cucumber and hydration: Nutritional benefits of a high-water vegetable. Journal of the American Dietetic Association, 93(5), 593–596. https://doi.org/10.1016/0002-8223(93)91759-W
- Marco, M. L., et al. (2017). Health benefits of fermented foods: microbiota and beyond. Current Opinion in Biotechnology, 44, 94–102. https://doi.org/10.1016/j.copbio.2016.11.010
Apakah Anda ingin Buku dari artikel opini ini?
Silahkan komentar dan tulis ‘mau’ agar link bukunya dikirimkan…. Terimakasih

Leave a comment