“Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan” (QS. Al-Ikhlāṣ:3). Ayat yang begitu singkat ini selalu terdengar dalam lantunan doa umat Islam. Ia mengajarkan kemurnian tauhid, sebuah konsep teologis yang menegaskan bahwa Allah berbeda dari segala sesuatu. Tidak bergantung, tidak membutuhkan pewaris, tidak dibatasi oleh mekanisme biologis, dan tidak bisa diikat oleh sistem makhluk. Tauhid yang murni bukan hanya fondasi agama, tetapi juga sumber inspirasi kehidupan, termasuk dalam pendidikan.

Di sisi lain, dunia akademik kita, khususnya bidang teknik, menghadapi tantangan baru. Kurikulum teknik di Indonesia kini mengacu pada standar yang ditetapkan oleh LAM Teknik (Lembaga Akreditasi Mandiri Teknik). Standar ini menuntut agar lulusan teknik tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis, etika profesi, wawasan global, dan tanggung jawab sosial. Di atas kertas, standar ini tampak teknis: kurikulum harus menyesuaikan dengan capaian pembelajaran, kompetensi mahasiswa harus terukur, dan mutu harus memenuhi standar internasional. Namun, jika dilihat lebih dalam, ada kesamaan nilai yang bisa kita tarik dari QS. Al-Ikhlāṣ:3 ke dalam ranah pendidikan teknik: kemandirian, kemurnian, dan pembebasan dari ketergantungan buta.

Ayat “Lam yalid wa lam yūlad” mengajarkan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, artinya Allah mandiri, tidak membutuhkan penerus untuk eksistensi-Nya. Di sinilah kita bisa merenungkan bagaimana pendidikan teknik di Indonesia harus bergerak. Apakah kita sudah mendidik mahasiswa yang benar-benar mandiri, ataukah kita masih melahirkan lulusan yang hanya “diperanakkan” oleh sistem, terjebak dalam pengulangan kurikulum lama, dan tidak pernah menjadi dirinya sendiri? LAM Teknik menuntut inovasi, tetapi seringkali perguruan tinggi masih meniru kurikulum luar negeri tanpa adaptasi, seperti anak yang hanya “dilahirkan kembali” dari sistem asing. Padahal, semangat tauhid mengajarkan bahwa kemandirian dan orisinalitas adalah kemuliaan.

Jika Allah tidak dilahirkan, maka pendidikan teknik pun seharusnya tidak bergantung secara membabi buta pada warisan kolonial kurikulum yang kerap dipertahankan tanpa kritik. Banyak perguruan tinggi teknik masih mengandalkan pola pikir lama: mahasiswa dijejali teori, tetapi minim ruang untuk kreativitas. Padahal, tantangan industri 5.0 menuntut mahasiswa tidak hanya mengulang teori yang sama, melainkan menciptakan solusi baru. Seperti Allah yang tidak berasal dari siapa pun, mahasiswa teknik seharusnya dididik agar mampu menjadi problem solver yang mandiri, bukan sekadar hasil reproduksi buku teks.

Sebaliknya, jika Allah tidak beranak, maka pendidikan teknik juga seharusnya tidak melahirkan ketergantungan baru yang merusak. Banyak sekali fenomena di kampus teknik di mana mahasiswa dibentuk bukan untuk berpikir kritis, tetapi hanya untuk mengejar nilai, ijazah, dan akreditasi. Kampus melahirkan lulusan, tetapi tidak benar-benar mencetak manusia merdeka. Mereka hanya menjadi bagian dari “rantai produksi” tenaga kerja, tanpa ada ruh kebebasan berpikir. QS. Al-Ikhlāṣ:3 menjadi pengingat bahwa pendidikan yang sejati tidak boleh sekadar menjadi mesin reproduksi, melainkan sarana pembebasan.

Kurikulum teknik berbasis standar LAM Teknik sejatinya berupaya menuju ke sana. LAM Teknik menuntut agar lulusan memiliki kompetensi “independent learners” yang mampu terus belajar sepanjang hayat, bukan hanya berhenti pada ijazah. Standar ini sejalan dengan pesan tauhid: jangan bergantung selain kepada Allah, dan jangan pula mengikat diri pada belenggu sistem yang membatasi kreativitas. Maka, setiap program studi teknik perlu berani mengajarkan mahasiswa bahwa ilmu tidak berhenti pada kelas, tetapi terus berkembang melalui riset, eksperimen, dan inovasi.

Kita perlu bertanya secara provokatif: apakah lulusan teknik kita sudah benar-benar menjadi mandiri, ataukah hanya menjadi “fotokopi” dari sistem luar negeri? Apakah mereka mampu menciptakan teknologi sesuai konteks lokal, ataukah hanya menjadi pengguna yang bergantung pada impor alat dan mesin dari negara lain? Fenomena ketergantungan ini nyata. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa lebih dari 70% mesin industri di Indonesia masih diimpor. Bahkan dalam hal energi, kita masih banyak mengandalkan teknologi luar. Padahal, negeri ini punya ribuan lulusan teknik setiap tahun. Apakah ini tidak ironi?

Ayat “Lam yalid wa lam yūlad” seharusnya menjadi cambuk untuk mengubah pola pikir pendidikan teknik: jangan hanya melahirkan teknisi yang bergantung pada teknologi luar, tetapi ciptakan insinyur yang mandiri, berani merancang, berinovasi, dan menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan bangsa. Jika Garuda Indonesia dulu lahir dari kontribusi rakyat Aceh yang rela menjual tanahnya untuk membeli pesawat Seulawah, kini seharusnya pendidikan teknik melahirkan generasi yang rela berkeringat demi menciptakan pesawat-pesawat buatan bangsa sendiri.

Lebih jauh lagi, ada aspek etis yang bisa kita tarik. QS. Al-Ikhlāṣ:3 menolak segala bentuk “antropomorfisme” — menyamakan Tuhan dengan manusia. Dalam konteks pendidikan teknik, ini bisa ditafsirkan sebagai peringatan agar kita tidak terjebak dalam “teknomorfisme” — menyamakan manusia dengan mesin. Di era digital, mahasiswa teknik sering dibentuk hanya sebagai “komponen produksi”, diukur nilainya dengan angka, diakreditasi dengan standar, tanpa dihargai sisi kemanusiaannya. Padahal, teknologi harus selalu berorientasi pada manusia, bukan sebaliknya. LAM Teknik sebenarnya memberi ruang untuk itu, dengan menekankan aspek etika, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial. Maka, jika kurikulum teknik diisi dengan ruh tauhid, ia akan melahirkan insinyur yang tidak hanya pintar menghitung, tetapi juga sadar akan nilai kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan.

Ayat “Lam yalid wa lam yūlad” juga mengajarkan kemandirian absolut. Pesan ini relevan ketika kita membicarakan sustainability (keberlanjutan), salah satu isu penting yang kini juga masuk dalam akreditasi LAM Teknik. Allah tidak bergantung pada siapa pun, dan semestinya pendidikan teknik melatih mahasiswa untuk tidak menciptakan teknologi yang menimbulkan ketergantungan baru pada alam secara berlebihan. Isu energi terbarukan, efisiensi energi, dan teknologi hijau seharusnya menjadi inti kurikulum teknik. Karena apa artinya akreditasi A jika lulusannya hanya melahirkan proyek yang merusak bumi? Tauhid mengajarkan keseimbangan, dan pendidikan teknik harus menjadikannya nilai inti.

Dengan demikian, QS. Al-Ikhlāṣ:3 bukan sekadar kalimat teologis, melainkan juga prinsip filosofis yang bisa menjadi pondasi kurikulum teknik. Pendidikan teknik di Indonesia yang kini mengacu pada LAM Teknik akan lebih bermakna jika tidak hanya memenuhi angka-angka standar, tetapi juga diisi dengan nilai tauhid: melahirkan lulusan mandiri, tidak bergantung, kreatif, dan beretika. Tauhid mengajarkan kebebasan dari belenggu, sementara akreditasi memberi kerangka. Jika keduanya disatukan, kita bisa mencetak insinyur-insinyur yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Penutupnya, kita harus berani mengatakan bahwa akreditasi tanpa ruh tauhid hanya akan menghasilkan lulusan yang kering nilai. Sebaliknya, tauhid tanpa implementasi kurikulum modern akan membuat pendidikan terjebak pada retorika. QS. Al-Ikhlāṣ:3 dan standar LAM Teknik harus berjalan beriringan: satu memberi makna, yang lain memberi struktur. Jika itu tercapai, maka kita akan punya generasi insinyur Indonesia yang tidak hanya pandai menghitung angka, tetapi juga mampu menata kehidupan bangsa sesuai dengan nilai keesaan Tuhan.

Leave a comment