
Aceh, tanah yang dikenal dengan semangat perjuangan yang membara, kini kembali mencatatkan kisah heroik yang tak hanya mengharumkan nama daerah, tetapi juga negara Indonesia secara keseluruhan. Pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto dengan penuh penghormatan memberikan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama kepada salah satu tokoh Aceh yang sangat berjasa, Tengku Nyak Sandang bin Lamudin. Penganugerahan ini bukan hanya sebagai bentuk pengakuan atas pengorbanannya, tetapi juga sebagai simbol penghargaan terhadap kontribusi luar biasa yang dilakukan oleh seorang pria Aceh dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Namun, di balik penganugerahan tersebut, tersimpan pertanyaan besar: apakah penghargaan ini hanya menjadi simbol belaka, ataukah Aceh benar-benar dihargai secara nyata dalam pembangunan negara ini?
Tengku Nyak Sandang, yang kini sudah lanjut usia dan harus menerima penghargaan di atas kursi roda, adalah sosok yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Kisah hidupnya bukan hanya tentang perjuangan fisik melawan penjajah, tetapi juga tentang perjuangan mempertahankan kemandirian Indonesia melalui kontribusi pribadi yang sangat luar biasa. Dalam usia 23 tahun, Nyak Sandang berani mengorbankan tanah dan emasnya untuk membeli pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001. Sebuah tindakan heroik yang menunjukkan betapa besarnya rasa cinta tanah air yang mengalir dalam darahnya. Tidak banyak yang tahu bahwa ia bahkan menjual sepetak tanah seharga Rp 100 di tahun 1950 untuk membeli pesawat tersebut, yang kelak menjadi cikal bakal Garuda Indonesia.
Sebagai anak muda di masa itu, Tengku Nyak Sandang bukan hanya berjuang untuk kemerdekaan, tetapi juga untuk memastikan bahwa Indonesia dapat berdiri sejajar dengan bangsa lain, bukan hanya dalam hal politik, tetapi juga dalam kemandirian transportasi. Dengan pesawat Seulawah, Indonesia bisa mulai menjalin komunikasi dengan dunia luar, membuka jalur perdagangan, dan membangun koneksi internasional yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan ekonomi negara yang baru merdeka. Ini adalah tindakan visioner yang pada masa itu, mungkin belum banyak dipahami oleh banyak orang, tetapi kini kita bisa merasakannya.
Namun, penghargaan yang diterima Nyak Sandang di Istana Negara bukanlah sekadar penegasan atas jasa seorang individu. Di balik itu, ada pertanyaan besar yang perlu kita renungkan bersama: apakah Aceh, yang telah memberikan banyak tokoh pahlawan dan pejuang, benar-benar dihargai secara proporsional? Apakah perjuangan panjang daerah ini diakui dengan cara yang lebih nyata, terutama dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial?
Aceh, sebagai wilayah yang pernah menjadi poros perjuangan kemerdekaan Indonesia, kini menghadapi tantangan besar. Sementara daerah lain berkembang pesat dengan dukungan infrastruktur modern dan investasi yang mengalir deras, Aceh masih berjuang dengan kondisi yang jauh dari ideal. Data BPS 2024 menunjukkan bahwa Aceh masih menjadi salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Meskipun telah banyak program bantuan dari pemerintah pusat, namun kesenjangan antara Aceh dan wilayah lainnya masih sangat terasa. Infrastruktur yang terbatas, akses ke pendidikan yang tidak merata, dan tingkat pengangguran yang tinggi menjadi tantangan besar bagi masyarakat Aceh.
Bukan hanya dalam hal pembangunan ekonomi, tetapi juga dalam dunia politik, Aceh seringkali dianggap sebagai wilayah yang lebih banyak menerima daripada memberi. Isu-isu terkait perdamaian, yang tercapai melalui perjanjian Helsinki, memang membawa kemajuan bagi daerah ini, tetapi masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Konflik yang panjang dan trauma sosial yang diakibatkan oleh perang tidak bisa selesai hanya dengan pemberian dana bantuan atau proyek pembangunan semata. Pembangunan mental dan sosial masyarakat Aceh memerlukan perhatian yang lebih serius dan kebijakan yang lebih berpihak pada mereka yang telah lama berjuang untuk negara ini.
Penganugerahan kepada Tengku Nyak Sandang seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk menilai kembali bagaimana Aceh diperlakukan dalam konteks pembangunan negara. Apakah Aceh, sebagai salah satu daerah yang sangat berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, telah mendapatkan perhatian yang sesuai? Ataukah masih ada kesenjangan besar yang harus dijembatani agar wilayah ini benar-benar setara dengan daerah lain di Indonesia?
Nyak Sandang adalah simbol dari Aceh yang tidak pernah menyerah, yang bahkan mengorbankan harta benda demi masa depan Indonesia. Kini, Aceh membutuhkan lebih dari sekadar penghargaan simbolis. Aceh membutuhkan kebijakan yang berpihak pada kemajuan daerah, yang tidak hanya berbicara soal pembangunan fisik, tetapi juga pemberdayaan masyarakatnya, peningkatan kualitas pendidikan, pemberian akses yang lebih adil terhadap lapangan pekerjaan, dan tentunya, pemerataan pembangunan ekonomi.
Seiring dengan itu, pemerintah juga perlu memperkuat investasi di sektor-sektor yang bisa mendorong ekonomi Aceh, seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata. Potensi Aceh sebagai daerah penghasil minyak dan gas juga harus dimaksimalkan dengan kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat Aceh, bukan hanya pada kepentingan korporasi besar. Dengan demikian, Aceh tidak hanya akan dikenang sebagai tempat kelahiran pahlawan nasional seperti Tengku Nyak Sandang, tetapi juga sebagai daerah yang maju dan sejahtera, di mana warganya dapat menikmati hasil kemerdekaan dengan cara yang lebih adil.
Pernyataan Prabowo yang memberikan penghargaan kepada Nyak Sandang di Istana Negara adalah simbol dari pengakuan terhadap jasa besar yang telah diberikan oleh tokoh Aceh ini. Namun, pengakuan tersebut harus diikuti dengan tindakan nyata, bukan hanya untuk satu individu, tetapi juga untuk seluruh masyarakat Aceh. Sejarah heroik Tengku Nyak Sandang menunjukkan bahwa Aceh telah memberikan lebih dari sekadar pengorbanan fisik dalam memperjuangkan kemerdekaan, tetapi juga dalam mendirikan landasan bagi Indonesia yang lebih mandiri dan berdaulat.
Kini, sudah saatnya Aceh mendapatkan penghargaan yang lebih nyata, berupa perhatian yang serius terhadap pembangunan yang menyeluruh. Pemerintah harus memprioritaskan kesejahteraan Aceh dengan menciptakan kebijakan yang lebih inklusif dan mempercepat pembangunan di sektor-sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah ini. Hanya dengan begitu, penghargaan terhadap Tengku Nyak Sandang dan seluruh pahlawan Aceh lainnya tidak akan sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi menjadi bagian dari masa depan yang lebih cerah bagi seluruh rakyat Aceh.
Sumber berita : https://www.kompas.tv/nasional/613725/kisah-heroik-tengku-nyak-sandang-dari-investor-pesawat-pertama-sampai-buat-prabowo-berlutut

Leave a comment