
Aceh, dengan kekayaan alamnya yang melimpah, kembali menjadi sorotan dalam dunia industri dengan potensi besar dari komoditas nilam. Pada 21 Agustus 2025, sebuah langkah penting diambil dengan adanya Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan—pemerintah, industri, lembaga keuangan, hingga petani—untuk memperkuat ekosistem digital rantai pasok minyak nilam Aceh. Dengan dukungan dari International Labour Organization (ILO) dan melalui program PROMISE II Impact, acara ini bertujuan untuk menghubungkan seluruh aktor dalam ekosistem digital melalui platform yang bernama MyNilam.
Namun, di balik optimisme dan antusiasme tersebut, ada beberapa pertanyaan besar yang harus kita jawab sebagai bangsa, sebagai pelaku industri, dan tentunya sebagai petani nilam: apakah transformasi digital ini akan benar-benar memberikan dampak yang merata, ataukah akan semakin memperlebar jurang ketimpangan antara petani dengan para pemangku kepentingan lainnya? Apakah dengan digitalisasi, kita bisa mengubah wajah industri nilam Aceh yang selama ini terjebak dalam stagnasi menjadi industri yang berdaya saing global?
Tahun 2025 bisa jadi menjadi titik balik bagi industri minyak nilam Aceh. Digitalisasi yang digagas oleh ARC USK dan ILO melalui MyNilam diharapkan mampu memperbaiki rantai pasok, mengoptimalkan produksi, serta membuka peluang besar untuk hilirisasi dan ekspor. Namun, untuk mencapainya, kita harus melihat lebih dalam apa yang sebenarnya dibutuhkan petani, serta apa yang selama ini menjadi kendala besar dalam sektor ini.
Surplus Nilam Aceh dan Tantangan yang Belum Terselesaikan
Nilam Aceh telah lama dikenal di pasar dunia sebagai bahan baku minyak atsiri yang penting, terutama untuk industri parfum. Namun, meskipun potensi besar ini, banyak petani nilam yang masih terjerat dalam sistem yang tidak menguntungkan. Keterbatasan akses ke pasar, rendahnya harga jual, dan ketergantungan pada prosedur yang tidak efisien seringkali menghambat mereka untuk meningkatkan produksi secara optimal.
Salah satu faktor penting yang selama ini menjadi masalah adalah kurangnya transparansi dan kejelasan dalam rantai pasok. Dalam banyak kasus, petani harus berhadapan dengan tengkulak yang mengambil sebagian besar keuntungan dari hasil produksi mereka. Di sisi lain, pembeli besar di pasar internasional sering kali kesulitan dalam melacak sumber bahan baku mereka, yang bisa berimbas pada kepercayaan pasar. Oleh karena itu, implementasi sistem digital seperti MyNilam sangat penting untuk mengatasi permasalahan ini.
Platform MyNilam bertujuan untuk menciptakan traceability, di mana setiap tahapan dalam rantai pasok dapat dipantau dengan jelas, dari petani hingga konsumen akhir. Data yang tercatat dalam platform ini akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi produksi, kualitas, dan volume yang diproduksi di tiap daerah, serta memberi kesempatan pada petani untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas produk mereka. Dengan adanya sistem yang lebih transparan, petani dapat lebih mudah mengakses pasar yang lebih luas dan harga yang lebih kompetitif.
Ketimpangan Teknologi: Tantangan Besar dalam Implementasi Digital
Namun, sebuah pertanyaan penting muncul: seberapa siapkah petani untuk menyongsong revolusi digital ini? Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi masih menjadi tantangan besar, khususnya di daerah-daerah pedesaan tempat sebagian besar petani nilam tinggal. Alwi, salah seorang petani nilam dari Panga Aceh Jaya, mengungkapkan kekhawatirannya tentang kesenjangan digital yang mungkin akan terjadi. Banyak petani yang masih belum memiliki pemahaman tentang bagaimana cara menggunakan aplikasi atau platform digital untuk meningkatkan hasil produksi mereka. Tanpa adanya pendampingan yang intensif, mereka berisiko tertinggal dalam era digital ini.
Pendampingan yang dimaksud tidak hanya berupa pelatihan teknis tentang bagaimana menggunakan aplikasi, tetapi juga mengenai bagaimana petani bisa memahami data digital yang dikumpulkan dalam platform ini. Jika MyNilam ingin berhasil, maka pendampingan intensif yang disediakan harus dapat mengatasi kesenjangan ini, memberi akses kepada petani untuk memanfaatkan teknologi dengan baik, dan tidak membiarkan mereka tertinggal dalam proses transformasi ini.
Kolaborasi: Kunci Utama untuk Keberlanjutan
Kunci dari keberhasilan digitalisasi industri nilam Aceh adalah kolaborasi antara berbagai pihak. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, dan universitas harus bekerja sama untuk menciptakan ekosistem yang mendukung petani dan memastikan keberlanjutan program ini. Dukungannya bukan hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi juga dalam penyediaan infrastruktur yang diperlukan agar MyNilam dapat diakses dengan mudah oleh petani di seluruh Aceh.
Pemerintah daerah Aceh, melalui Tomi Mukhtar selaku Juru Bicara Pemko Banda Aceh, sudah menyatakan komitmennya untuk mendukung hilirisasi dan promosi minyak nilam Aceh, terutama dengan menjadikan Banda Aceh sebagai Kota Parfum. Sementara itu, Muparrih dari Kanwil Bea Cukai Aceh menegaskan kesiapan Bea Cukai dalam memfasilitasi ekspor dengan menyederhanakan prosedur. Hal ini menunjukkan adanya sinergi yang baik antara pemerintah dan sektor swasta untuk memperkuat daya saing ekspor.
Namun, sinergi ini harus diperkuat lebih lanjut dengan kebijakan yang jelas dan terkoordinasi antara seluruh pemangku kepentingan. Hal ini menjadi penting agar digitalisasi rantai pasok nilam tidak hanya menjadi program musiman yang menguntungkan pihak tertentu saja, tetapi bisa menguntungkan seluruh ekosistem, termasuk petani.
Membangun Kepercayaan Global dengan Sistem Digital yang Kuat
Sebagai produsen utama nilam di dunia, Aceh berpotensi besar untuk memanfaatkan tren global yang mengedepankan keberlanjutan dan traceability dalam rantai pasok. Konsumen di pasar internasional kini semakin peduli terhadap keberlanjutan produksi dan jejak karbon yang ditinggalkan oleh produk yang mereka konsumsi. Dengan MyNilam, Aceh bisa menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memproduksi minyak nilam berkualitas tinggi, tetapi juga bertanggung jawab dalam setiap tahap proses produksi.
Namun, untuk mencapainya, Aceh harus memastikan bahwa platform ini bisa diakses oleh semua pelaku industri, mulai dari petani, koperasi, hingga perusahaan besar. Hanya dengan ekosistem digital yang inklusif dan terintegrasi, kepercayaan pasar internasional bisa terbentuk, dan nilai tambah yang diperoleh dapat merata hingga ke petani.
Penutup
Digitalisasi industri minyak nilam Aceh memang membawa harapan besar bagi masa depan sektor pertanian dan ekonomi daerah. Namun, tanpa dukungan penuh terhadap infrastruktur, kebijakan yang tepat, serta pendampingan yang memadai, potensi ini bisa saja menjadi peluang yang terlewatkan. Jika seluruh pihak bekerja bersama, memastikan inklusi digital untuk petani dan memperkuat kolaborasi antar sektor, maka MyNilam dapat menjadi platform yang mengubah wajah industri minyak nilam Aceh dan membawa kesejahteraan bagi petani.
Transformasi digital ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang memberdayakan petani Aceh, menghubungkan mereka dengan pasar global, dan mengubah masa depan industri minyak nilam menjadi lebih berkelanjutan dan berdaya saing. Seperti yang disampaikan oleh Elsa Rozani dari Biro Perekonomian, penguatan ekosistem digital nilam perlu diselaraskan dengan kebijakan pembangunan ekonomi daerah untuk menjamin keberlanjutannya. Ini adalah tantangan besar, tetapi juga peluang besar yang harus kita ambil bersama.
Link berita:

Leave a comment