
Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang semakin kompetitif dan penuh tuntutan, kita sering kali berharap—bahkan menuntut—orang lain untuk berbuat baik kepada kita. Kita ingin dipahami, dimengerti, dimudahkan urusan, diberi ruang dan waktu. Kita ingin hidup dalam lingkungan yang suportif, saling menghargai, dan penuh dengan kebaikan. Namun, pernahkah kita bertanya: sudahkah kita sendiri menjadi sumber dari kebaikan yang kita harapkan?
Renungan ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menggugah. Karena sesungguhnya, kebaikan yang sejati tidak dimulai dari meminta, tetapi dari memberi. Kita sering melupakan bahwa kebaikan adalah energi yang bekerja dua arah—apa yang kita pancarkan akan kembali kepada kita. Dalam istilah lain: “The world gives back what you put into it.”
Jangan Menuntut Dunia Menjadi Baik
Kita hidup dalam dunia yang tidak sempurna. Dunia yang sering kali tidak adil, birokratis, dan terkadang bahkan absurd. Kita menyaksikan banyak orang yang baik malah tersingkir, yang jujur malah tersandung aturan, yang sabar malah ditinggalkan. Namun apakah ketidaksempurnaan dunia menjadi pembenaran untuk berhenti berbuat baik?
Banyak di antara kita yang mengatakan: “Saya sudah sabar, tapi lingkungan kerja saya tidak mendukung.” Atau, “Saya ingin jujur, tapi sistemnya korup.” Atau bahkan, “Saya ingin membantu orang lain, tapi siapa yang peduli pada saya?”
Pertanyaannya sederhana namun tajam: Apakah kita hanya akan menjadi baik ketika dunia menjadi baik? Bukankah justru dunia sedang menunggu seseorang untuk memulai?
Berbuat Baik Bukan Karena Ingin Balasan
Dalam konteks keagamaan, banyak sekali ajaran yang menekankan pentingnya ikhlas. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Dan manfaat itu tidak selamanya datang dari ceramah atau harta, tetapi bisa dimulai dari senyum, mendengar keluh kesah, atau memberi maaf.
Sayangnya, kita terlalu sering mengharapkan balasan dari kebaikan kita. Padahal, kebaikan yang menuntut balasan bukanlah kebaikan, tetapi transaksi. Ini yang membuat banyak dari kita kecewa: karena kita berharap dipuji setelah membantu, kita berharap disanjung setelah mengalah.
Padahal, kebaikan sejati adalah ketika kita tetap menolong meski tak dianggap, tetap menegur meski ditolak, tetap berbuat walau tak dibalas.
Kebaikan Tidak Butuh Panggung
Sering kali kita ingin kebaikan kita diketahui. Kita ingin orang tahu bahwa kita jujur, kita adil, kita peduli. Namun pada saat yang sama, kebaikan sejati tidak membutuhkan sorotan. Kebaikan itu bekerja dalam senyap, dalam ruang-ruang kecil yang tidak terlihat kamera dan media sosial.
Seorang guru yang menyisihkan waktunya membantu mahasiswa memahami materi, walau di luar jam kerja. Seorang petugas kebersihan kampus yang tetap menyapu dengan senyum, walau tak pernah mendapat ucapan terima kasih. Seorang dosen yang tetap membimbing skripsi mahasiswa, meski tak masuk dalam SK pembimbing tambahan.
Itulah kebaikan yang tidak meminta. Ia bekerja tanpa panggung, tapi dampaknya luas.
Administrasi, Akademik, dan Birokrasi: Ladang Kebaikan atau Ajang Menuntut?
Dalam dunia kampus, seperti di Universitas Syiah Kuala (USK) atau kampus lainnya, sering kali kita mendengar keluhan tentang birokrasi. Tentang sistem yang kaku, tentang dosen yang kurang perhatian, tentang mahasiswa yang tidak disiplin, atau staf yang kurang responsif.
Namun, kampus bukan mesin produksi gelar. Kampus adalah rumah bersama, tempat para insan akademik tumbuh dalam nilai. Jika kita terus menuntut agar orang lain memperbaiki diri tanpa mulai dari diri sendiri, maka kita sedang menyemai frustrasi.
Daripada meminta sistem menjadi baik, mengapa kita tidak menjadi bagian dari sistem yang memperbaiki?
Daripada mengeluh tentang rapat yang tidak efektif, mengapa tidak menyiapkan ide brilian dan mencatat dengan rapi?
Daripada menyalahkan mahasiswa karena lambat memahami materi, mengapa tidak kita desain metode mengajar yang lebih menyenangkan?
Daripada menyalahkan atasan karena lambat menandatangani dokumen, mengapa tidak kita bantu menyusun berkas lebih sistematis?
Jadilah Kebaikan Itu Sendiri
Dalam dunia kerja, kita tidak bisa menghindari tekanan, ketidakadilan, dan bahkan konflik. Namun, kita bisa memilih menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Tidak perlu menunggu menjadi pejabat untuk berbuat baik. Tidak perlu menjadi rektor untuk memperbaiki kampus. Tidak perlu menjadi peneliti hebat untuk menginspirasi.
Kita hanya perlu menjadi manusia yang sadar: bahwa setiap hal kecil yang kita lakukan—jika dilakukan dengan niat baik—adalah bagian dari perubahan besar.
Kebaikan bukan tentang besar kecilnya aksi, tapi tentang ketulusan yang menyertainya.
Penutup: Jangan Minta, Mulailah
Jika hari ini kamu kecewa karena orang lain tidak baik padamu, mungkin itu saatnya kamu berhenti meminta kebaikan, dan mulai menjadi kebaikan itu sendiri. Karena dunia ini tidak akan pernah sepenuhnya adil, tapi kebaikan yang kamu tanam pasti akan tumbuh di waktu yang tepat.
Seperti kata pepatah Arab: “Lakukan kebaikan, lalu lempar ke laut. Jika ikan tidak mengetahuinya, Tuhan tahu.”
Dan dalam dunia akademik, birokrasi, dan pekerjaan—yang kadang rumit dan penuh ketegangan—kebaikan adalah jalan sunyi yang hanya dipilih oleh mereka yang benar-benar kuat.
#JanganMemintaJadilahKebaikan #RenunganKampus #KebaikanTanpaPamrih

Leave a comment