
Oleh: Bambang Sukarno Putra, S.TP, M.Si
(Dosen Teknik Pertanian USK)
Di bawah langit Aceh yang cerah, di antara hamparan sawah dan ladang yang menghijau, terhampar harapan bagi jutaan petani dan keluarganya. Aceh, dengan segala kekayaan alam dan potensi lahannya, telah lama menjadi lumbung pangan di ujung barat Indonesia. Namun, di balik keindahan lanskap itu, pertanian Aceh kini sedang berada di persimpangan jalan: antara melanjutkan kebiasaan lama yang kian menipis keuntungannya, atau berani melompat ke arah pertanian berkelanjutan yang lebih menjanjikan masa depan.
Pertanian berkelanjutan bukanlah konsep baru. Bahkan, ia telah menjadi kata kunci dalam perbincangan global tentang masa depan pangan, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Namun, di tanah rencong ini, pertanyaan mendasarnya adalah: sudahkah kita benar-benar memahami makna dan urgensinya? Sudahkah perguruan tinggi, seperti Universitas Syiah Kuala (USK), mengemban peran sentral dalam menggerakkan perubahan menuju pertanian yang lebih lestari dan adil?
Perlu saya akui, selama bertahun-tahun menjadi bagian dari dunia akademik dan turun langsung ke lapangan, saya masih sering menemukan jurang pemisah yang menganga antara pengetahuan, kebijakan, dan praktik di tingkat petani. Banyak petani di Aceh masih terjebak dalam pola pikir “yang penting hari ini panen”, tanpa sempat berpikir panjang tentang akibat dari pestisida berlebih, penggunaan pupuk kimia tanpa kontrol, hingga alih fungsi lahan sawah yang terus merangsek ke pinggiran kota dan desa. Padahal, kerusakan yang diakibatkan tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi akan menjadi beban generasi mendatang.
Lalu, mengapa pertanian berkelanjutan menjadi sangat penting, bahkan mendesak, untuk Aceh?
Pertama, Aceh adalah rumah bagi keanekaragaman hayati dan bentang alam yang menakjubkan. Namun, eksploitasi lahan secara berlebihan tanpa memperhatikan prinsip ekologi telah menyebabkan berkurangnya kesuburan tanah, berkurangnya sumber air bersih, dan meningkatnya ancaman perubahan iklim lokal. Setiap hektare sawah yang berubah menjadi perumahan, setiap ladang yang terpapar pestisida, adalah luka kecil yang perlahan membesar jika tidak segera diobati.
Kedua, pertanian Aceh masih menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Data terbaru menunjukkan, sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbesar di Aceh. Namun, ironisnya, kemiskinan juga banyak berakar di desa-desa pertanian. Kenapa? Karena sistem pertanian yang kita jalankan masih terlalu bergantung pada input eksternal yang mahal, harga jual hasil pertanian yang tidak stabil, dan minimnya sentuhan teknologi tepat guna. Hasilnya, petani hanya jadi penonton dalam permainan harga dan rantai pasok yang panjang.
Di sinilah peran perguruan tinggi seperti USK menjadi sangat krusial. USK, sebagai universitas kebanggaan Aceh, harus berani keluar dari menara gading. Sudah saatnya riset-riset yang dilakukan di laboratorium tidak hanya berakhir menjadi jurnal internasional yang dibaca segelintir akademisi, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata di lapangan. Kita perlu menciptakan inovasi pertanian yang murah, mudah diadopsi, dan ramah lingkungan. Misalnya, pengembangan pupuk organik berbasis limbah lokal, sistem irigasi hemat air, hingga teknologi pascapanen yang meningkatkan nilai tambah produk petani.
Saya mengajak seluruh civitas akademika USK untuk lebih aktif turun ke desa. Bukan sekadar mengadakan penyuluhan setahun sekali, tetapi membangun kemitraan jangka panjang dengan kelompok tani, koperasi, dan pemerintahan desa. Setiap mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) harus dibekali pengetahuan praktis tentang pertanian berkelanjutan, sehingga kehadiran mereka benar-benar meninggalkan jejak perubahan, bukan hanya formalitas pelaksanaan program.
Namun, saya juga sadar, perubahan tidak bisa hanya mengandalkan kampus. Pemerintah daerah harus tegas melindungi lahan pertanian dari alih fungsi yang masif. Selama ini, regulasi tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) seringkali hanya jadi dokumen di rak-rak kantor pemerintahan. Sudah saatnya ada keberanian politik dan komitmen nyata: jangan biarkan sawah-sawah produktif berubah menjadi beton tanpa kendali. Aceh bukan hanya membutuhkan investasi di sektor properti, tetapi juga investasi masa depan berupa kedaulatan pangan.
Selain itu, akses petani terhadap pembiayaan dan pasar juga perlu dibenahi. Selama ini, banyak petani terjebak pada tengkulak karena tidak punya pilihan lain. Pemerintah dan perguruan tinggi harus memfasilitasi terbentuknya koperasi tani modern yang mampu mengelola produksi, distribusi, dan pemasaran secara kolektif. Digitalisasi pertanian juga menjadi keniscayaan. Di era Revolusi Industri 4.0, sudah saatnya petani Aceh akrab dengan aplikasi cuaca, marketplace hasil tani, hingga teknologi drone dan sensor tanah. USK harus menjadi motor penggerak literasi digital di pedesaan.
Ada satu hal yang sering saya tekankan kepada mahasiswa dan rekan-rekan di lapangan: pertanian berkelanjutan bukan berarti kembali ke masa lalu atau anti kemajuan. Ia adalah jalan tengah, perpaduan antara kearifan lokal dan teknologi modern. Kita harus belajar dari sistem tumpang sari nenek moyang yang menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus mengadopsi inovasi baru seperti pertanian presisi, bioteknologi, atau hidroponik. Semua itu harus diarahkan pada satu tujuan: menjaga keberlanjutan produksi pangan, kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan.
Jangan pernah bermimpi Aceh menjadi provinsi maju jika fondasi pertaniannya rapuh. Jangan pula berharap generasi muda tertarik kembali ke desa, jika yang ditawarkan hanyalah kemiskinan dan kerja keras tanpa penghargaan. USK harus menjadi contoh bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berakhir di kelas, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat. Saya membayangkan, suatu hari nanti, mahasiswa pertanian USK menjadi agen perubahan di setiap desa, membawa semangat inovasi, solidaritas, dan cinta tanah air.
Tentu, perjalanan menuju pertanian berkelanjutan di Aceh tidak mudah. Banyak tantangan, mulai dari resistensi budaya, keterbatasan anggaran, hingga tekanan pasar global. Tapi, saya yakin: perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari keberanian bermimpi dan bertindak. Aceh pernah membuktikan kemampuannya bangkit dari keterpurukan. Kini, saatnya kita buktikan Aceh juga bisa menjadi pelopor pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Mari, kita semai harapan itu bersama. Mari, jadikan pertanian berkelanjutan sebagai gerakan bersama, bukan sekadar jargon tanpa makna. Mulai dari kampus, dari desa, dari ladang-ladang yang kita cintai. Karena masa depan Aceh ada di tangan kita, dan hanya pertanian berkelanjutan yang mampu memastikan kita tetap punya harapan untuk hari esok yang lebih baik.

Leave a comment