Oleh: Bambang Sukarno Putra, S.TP, M.Si



Petani adalah jantung dari peradaban kita. Mereka menanam makanan yang kita santap setiap hari, namun ironisnya, mereka juga sering menjadi kelompok yang paling tertinggal dalam arus perubahan zaman. Di tengah kemajuan teknologi yang merambah semua lini kehidupan, petani kita—terutama di daerah-daerah seperti Aceh—masih banyak yang memendam kekhawatiran terhadap sesuatu yang seharusnya memberi harapan: inovasi teknologi pertanian.

Saat dunia berbicara tentang revolusi industri 4.0 dan kecerdasan buatan yang digunakan dalam pertanian presisi, sebagian besar petani kita masih bergelut dengan cuaca yang tak menentu, harga pupuk yang melambung, dan hasil panen yang tidak menentu. Masalahnya bukan hanya pada ketidaktahuan, tetapi lebih pada persepsi risiko yang mengakar kuat: ketakutan gagal, ketakutan rugi, dan ketakutan kehilangan pegangan dari praktik-praktik lama yang selama ini menjadi satu-satunya sandaran hidup mereka.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, hanya 25% petani di Indonesia yang telah mengadopsi teknologi pertanian modern. Artinya, tiga dari empat petani masih belum tersentuh inovasi. Ini bukan sekadar angka, melainkan cermin dari kegagalan sistemik dalam menjembatani kemajuan teknologi dengan kenyataan di lapangan. Di Aceh, misalnya, teknologi seperti sistem irigasi otomatis, drone untuk pemantauan lahan, atau sensor tanah masih dianggap sebagai barang mewah, bukan sebagai alat bantu produksi.

Apa yang sebenarnya ditakutkan oleh petani kita?

Mari kita dengarkan suara mereka. Seorang petani di Aceh, Pak Ahmad, yang telah menanam padi secara tradisional selama lebih dari 20 tahun, mengaku bimbang untuk mencoba irigasi pintar. “Kalau gagal, saya bisa kehilangan semuanya,” katanya. Ketakutan ini bukan tanpa alasan. Investasi awal untuk teknologi memang mahal. Sensor tanah bisa mencapai jutaan rupiah, belum lagi drone pertanian yang harganya setara dengan motor bekas. Tanpa jaminan hasil, bagaimana mungkin mereka berani ambil risiko?

Namun, di balik kekhawatiran itu, terdapat cerita-cerita kecil yang membuktikan bahwa perubahan itu mungkin—dan menguntungkan. Di Aceh Besar, beberapa kelompok tani melaporkan peningkatan hasil panen hingga 35% setelah mengadopsi sistem irigasi pintar. Teknologi ini tidak hanya membantu mereka menghemat air, tetapi juga mengatur jadwal penyiraman dengan presisi tinggi. Produktivitas meningkat, biaya operasional menurun.

Studi dari Lembaga Litbang Pertanian menunjukkan bahwa penerapan teknologi bisa meningkatkan hasil pertanian hingga 40%. Tapi teknologi, sebagus apa pun itu, tidak akan berguna jika tidak menyentuh tangan petani yang siap menggunakannya. Dan di sinilah letak persoalan kita: antara teknologi dan petani, terdapat jurang persepsi risiko yang perlu dijembatani dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

Kita tidak bisa menyuruh petani berubah tanpa memahamkan mereka terlebih dahulu. Mereka bukan sekadar objek dari program pembangunan, tetapi subjek yang memiliki pengalaman, budaya, dan cara pandang sendiri terhadap tanah dan musim. Maka, strategi kita tidak bisa hanya berkutat pada subsidi alat atau pelatihan formal yang kaku. Kita perlu masuk ke dalam kehidupan mereka, berdialog dengan bahasa yang mereka pahami, dan membangun kepercayaan secara perlahan.

Lihatlah kelompok tani “Seulanga” di Aceh Timur. Mereka rutin mengadakan pelatihan partisipatif tentang teknologi pertanian, bukan di aula hotel, tetapi di sawah dan kebun. Di sana, petani belajar dari petani lainnya, melihat langsung bagaimana teknologi diterapkan, dan merasakan manfaatnya secara konkret. Bukan teori, melainkan praktik yang nyata.

Hal serupa terjadi di Aceh Barat, di mana mahasiswa pertanian dari Universitas Syiah Kuala mendampingi petani dalam program adopsi teknologi hidroponik. Pendekatan ini bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membangun relasi sosial dan mengikis rasa takut. Petani yang semula skeptis menjadi penasaran, lalu mencoba, dan akhirnya menyebarkan pengalaman baik itu kepada rekan-rekannya.

Tentu saja, biaya tetap menjadi kendala. Teknologi modern tidak murah. Tapi apakah kita pernah benar-benar memikirkan solusi pembiayaan yang berpihak pada petani kecil? Di Bireuen, program pembiayaan mikro terbukti berhasil membantu petani membeli sistem irigasi pintar. Pemerintah daerah bekerja sama dengan koperasi dan lembaga keuangan lokal untuk memberikan pinjaman berbunga rendah. Ini langkah konkret yang perlu direplikasi di daerah lain.

Selain itu, penting untuk mengintegrasikan teknologi dengan praktik tradisional yang sudah lama dipercaya. Teknologi tidak harus menggantikan semuanya, melainkan melengkapi. Misalnya, penggunaan sensor tanah untuk memandu pola tanam tradisional di Aceh Selatan dapat dilakukan tanpa memaksa petani mengubah seluruh cara kerjanya. Hasilnya? Produktivitas meningkat, dan petani tidak merasa teralienasi dari budaya pertanian mereka sendiri.

Di Pidie, keterlibatan tokoh adat dan pemuka masyarakat dalam sosialisasi teknologi pertanian juga menunjukkan hasil menggembirakan. Petani lebih terbuka ketika perubahan disampaikan oleh orang yang mereka hormati dan percaya. Ini menunjukkan bahwa teknologi bisa diterima dengan lebih baik jika disampaikan dalam konteks sosial yang familiar.

Maka, jalan menuju pertanian modern bukanlah jalan tol yang lurus dan cepat, tetapi jalan setapak yang perlu dilalui dengan sabar, penuh dialog, dan pendekatan budaya. Negara harus hadir bukan sebagai pengatur yang jauh, tetapi sebagai mitra yang dekat, yang memahami keresahan dan harapan petani.

Pertanian kita tidak akan bertahan hanya dengan pupuk dan bibit. Ia membutuhkan inovasi yang berpihak, teknologi yang membumi, dan keberanian untuk mengubah persepsi. Ketakutan hanya bisa dikalahkan oleh pemahaman dan pengalaman langsung. Oleh karena itu, mari kita jadikan teknologi bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai alat untuk membebaskan petani dari ketergantungan pada alam dan ketidakpastian harga.

Jika petani adalah tulang punggung bangsa, maka sudah seharusnya kita kuatkan mereka dengan ilmu, alat, dan keberanian. Sebab masa depan pertanian Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi oleh seberapa dalam kita memahami dan mendampingi para petani dalam perjalanan mereka menuju perubahan.

#PertanianModern #InovasiPertanian #TeknologiPertanian #PetaniAceh #KearifanLokal #PertanianBerkelanjutan #PertanianIndonesia #MasaDepanPertanian

Tagline: Mengubah Risiko Menjadi Peluang, Menyemai Harapan di Tanah Petani

Leave a comment