Banda Aceh, 12 Juli 2025 — Data terbaru yang dikumpulkan dari sejumlah studi global menyebutkan adanya deretan negara dengan rata-rata Intelligence Quotient (IQ) nasional terendah di dunia. Penilaian ini merujuk pada riset terkenal “IQ and the Wealth of Nations” oleh Richard Lynn dan Tatu Vanhanen, yang kemudian diperbarui oleh lembaga statistik internasional World Population Review.
Meski menuai kontroversi, data ini bukan semata untuk menghakimi atau merendahkan negara-negara tertentu, melainkan untuk memberikan gambaran tentang kualitas sistem pendidikan, kondisi gizi, dan kesehatan masyarakat yang secara keseluruhan memengaruhi kemampuan kognitif suatu bangsa.
IQ nasional dihitung sebagai skor rata-rata hasil pengukuran kecerdasan warga suatu negara. Skor ini kerap dijadikan indikator kasar terhadap kapasitas intelektual kolektif dan telah dikaitkan dengan kemajuan ekonomi, kestabilan sosial, hingga kemampuan berinovasi suatu bangsa.
“Skor IQ ini bukan soal siapa yang pintar dan siapa yang bodoh. Tapi ini adalah cermin — tentang bagaimana negara memperlakukan generasi mudanya,” ujar Dr. Lestari Dwi Rahayu, pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia.
Beberapa negara dengan peringkat IQ nasional terendah diketahui berasal dari kawasan Afrika dan Asia Selatan, yang mayoritas menghadapi tantangan gizi buruk, infrastruktur pendidikan yang minim, dan kemiskinan ekstrem. Dalam data yang dirilis World Population Review, negara-negara seperti Sierra Leone, Nepal, dan beberapa wilayah konflik lainnya berada di posisi terbawah.
Indonesia sendiri tidak berada di posisi paling bawah, namun skor IQ rata-rata Indonesia — yang berada di angka 78 hingga 87 (tergantung studi) — tetap berada di bawah rata-rata global. Data ini sejalan dengan hasil tes internasional PISA (Programme for International Student Assessment) yang juga menempatkan Indonesia pada peringkat bawah dalam bidang literasi, matematika, dan sains.
Masalah IQ ini pun bersinggungan langsung dengan isu stunting, yang menurut Bappenas, masih memengaruhi sekitar 21% anak-anak Indonesia per 2024, meski menurun dari angka 27% sebelumnya. Gizi buruk yang berkepanjangan terbukti menurunkan perkembangan otak anak, termasuk kemampuan kognitif jangka panjang.
“Kita perlu berhenti alergi terhadap data seperti ini. Justru data semacam ini yang seharusnya memicu perubahan,” kata Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menegaskan bahwa program Merdeka Belajar saat ini tengah diperkuat untuk menanggulangi ketimpangan kualitas pendidikan dan mendorong pembelajaran kontekstual.
Sejumlah pakar menyarankan agar Indonesia melihat hasil ini sebagai perangkat evaluasi nasional. Peningkatan kualitas guru, distribusi fasilitas pendidikan yang merata, serta program intervensi gizi di masa pertumbuhan anak, menjadi kunci utama untuk mendongkrak potensi intelektual generasi mendatang.
Di tengah wacana bonus demografi, rendahnya skor IQ nasional menjadi tanda peringatan dini. Jika tidak direspons serius, Indonesia bisa kehilangan peluang emas untuk mencetak generasi unggul yang siap bersaing secara global.
#CerdasBersama #IQNasional #MerdekaBelajar #PendidikanUntukSemua #GenerasiEmas2045
Tagline: Data bukan untuk menghina, tapi untuk membangun bangsa.

Leave a comment