
Banda Aceh, 10 Juli 2025 — Sebanyak 32 dosen Universitas Syiah Kuala (USK) berperan aktif sebagai pengajar dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Batch 3 yang dilaksanakan di Rindam Iskandar Muda, Aceh, dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 1.195 orang. Dari total dosen tersebut, 26 orang berasal dari Fakultas Pertanian USK, sementara 6 orang dosen dari Fakultas Kelautan dan Perikanan.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk kombinasi materi teori dan praktik, dengan model pembelajaran intensif selama beberapa hari. Dr. Muhammad Idkham, S.TP., M.Si. didapuk sebagai Ketua Tim USK untuk SPPI Batch 3, sementara Prof. Dr. Ir. Hairul Basri, M.Sc., Wakil Dekan I Fakultas Pertanian, hadir mewakili Dekan dan turut aktif dalam pelaksanaan lapangan, khususnya di klaster pertanian.
Dalam simulasi pelaksanaan di lapangan, tim dosen dari klaster pertanian mengisi sesi praktik yang digelar pada Rabu, 9 Juli 2025, dengan membimbing ratusan peserta dari 3 kompi. Materi yang disampaikan mencakup praktik pengelolaan pertanian berkelanjutan, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta penguatan ketahanan pangan berbasis desa, dalam hal ini yang dipraktekkan adalah hodroponik sederhana yangg bisa dipraktekkan oleh peserta SPPI.

“Program ini menjadi kesempatan penting untuk membentuk agen-agen pembangunan yang tidak hanya memiliki bekal akademik, tetapi juga mampu menggerakkan masyarakat di tingkat akar rumput,” ungkap Dr. Idkham.
Sementara itu, Prof. Hairul Basri menegaskan bahwa keterlibatan dosen pertanian USK dalam program SPPI merupakan bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. “Kita ingin lulusan SPPI menjadi lokomotif perubahan di sektor pertanian dan desa, serta mampu menghadapi tantangan pangan dan lingkungan ke depan,” ujarnya.
SPPI Batch 3 sendiri dirancang oleh pemerintah sebagai program strategis dalam mencetak pemuda-pemudi sarjana untuk menjadi penggerak pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Dengan keterlibatan aktif para akademisi dari USK, khususnya dari klaster pertanian, program ini diharapkan menjadi motor penggerak pembangunan daerah berbasis kearifan lokal.
Selain memberikan materi, para dosen juga memfasilitasi diskusi dan praktik lapangan untuk meningkatkan pemahaman peserta terhadap berbagai tantangan dan solusi nyata dalam pengembangan sektor pertanian nasional. Program ini turut memperkuat peran USK dalam mendukung pembangunan pertanian yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di Aceh dan Indonesia.

Leave a comment