
Dalam sebuah langkah strategis yang menandai era baru kerja sama internasional, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, dan Menteri Pertanian Yordania, Khaled Musa Al Henefat, telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperkuat kolaborasi di sektor pertanian. Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto, di Amman, Yordania, pada 14 April 2025. Momen ini menjadi penegasan komitmen kedua negara dalam mendukung ketahanan pangan dan pengembangan teknologi pertanian bersama.
Menanam Harapan di Tengah Tantangan Global
Dunia saat ini menghadapi tantangan besar: perubahan iklim, ketegangan geopolitik, krisis air, dan dampak pandemi yang masih terasa. Indonesia dan Yordania, walaupun berbeda dalam konteks geografis dan budaya, memiliki kesamaan dalam kegelisahan terhadap masa depan pertanian mereka. Keduanya menyadari bahwa tantangan global hanya bisa dijawab dengan kolaborasi global pula.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Yordania memiliki teknologi pertanian yang canggih, dan Indonesia berkomitmen untuk belajar serta bertukar pengalaman. Sebaliknya, Yordania juga tertarik menggali praktik baik dari sistem pertanian di Indonesia yang kaya akan biodiversitas dan kearifan lokal.
Dari Meja Diplomasi ke Ladang Petani
MoU ini mencakup pertukaran pengetahuan, riset, teknologi pertanian, hingga peningkatan kapasitas petani dan tenaga ahli. Inilah bentuk kerja sama yang menyentuh akar rumput. Ia bukan sekadar kesepakatan elit, tapi jembatan konkret yang menghubungkan laboratorium dengan ladang, seminar internasional dengan sawah rakyat.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa kerja sama ini sangat strategis, terutama dalam menyongsong tantangan masa depan seperti perubahan iklim, ketergantungan impor, dan regenerasi petani muda. (Sumber: Tabloid Sinar Tani)
Teknologi sebagai Pilar Ketahanan Pangan
Salah satu fokus utama dari MoU ini adalah pengembangan dan alih teknologi pertanian. Indonesia, dengan potensi lahan pertanian yang luas, sangat memerlukan teknologi yang adaptif terhadap kondisi lokal, seperti teknologi pengairan presisi, pemupukan cerdas, hingga drone pertanian.
Yordania sendiri merupakan negara dengan keterbatasan lahan dan air, namun mampu mengembangkan teknologi pertanian efisien, seperti hidroponik skala industri dan irigasi tetes. Dari mereka, kita bisa belajar banyak. Dari kita, mereka bisa mendapatkan pasar dan mitra pertanian tropis yang kuat.
Kolaborasi ini juga dapat mendukung upaya Indonesia mengoptimalkan lahan-lahan potensial seperti lahan rawa dan gambut yang selama ini kurang terkelola. Menurut data Kementerian Pertanian, Indonesia memiliki sekitar 10 juta hektare lahan rawa yang bisa dioptimalkan sebagai sumber pangan masa depan.
Pasar Baru, Komoditas Unggulan
Nilai perdagangan komoditas pertanian antara Indonesia dan Yordania saat ini sekitar USD 26 juta—angka yang kecil dibandingkan potensi yang ada. Melalui kerja sama ini, Indonesia bisa memperluas pasar untuk produk seperti kopi, kakao, minyak sawit mentah, buah tropis, dan produk peternakan. Sebaliknya, Indonesia juga bisa belajar dari pendekatan ekspor hortikultura dan pengolahan hasil pertanian yang sudah dimodernisasi di Yordania.
Pendidikan dan Regenerasi Petani
Kerja sama ini tidak hanya menyasar sektor komoditas dan teknologi, tapi juga pembangunan kapasitas manusia. Pelatihan, program magang, hingga penelitian bersama akan menjadi jembatan peningkatan mutu SDM pertanian kedua negara.
Perlu kita akui bahwa regenerasi petani Indonesia masih menjadi PR besar. Petani muda enggan turun ke sawah karena keterbatasan akses teknologi, pasar, dan dukungan kebijakan. Maka, diplomasi pertanian seperti ini bisa menjadi batu loncatan menuju pertanian yang lebih menarik, modern, dan menjanjikan secara ekonomi.
Langkah Menuju Pertanian Berkelanjutan
Diplomasi pertanian Indonesia-Yordania adalah bagian dari strategi besar menuju sistem pangan berkelanjutan. Kita tidak hanya bicara ketahanan pangan, tapi juga tentang keadilan, keberlanjutan, dan daya saing global. Ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin kedua: mengakhiri kelaparan dan mencapai ketahanan pangan.
Dengan kerja sama seperti ini, kita bisa menciptakan sistem pangan yang tidak hanya memenuhi perut manusia, tetapi juga memuliakan bumi tempat ia tumbuh.
Penutup: Semai Kolaborasi, Tuai Masa Depan
Sebagai dosen, dan pakar pertanian modern, saya menyambut kerja sama ini dengan optimisme yang terukur. Kita tidak lagi berada dalam zaman pertanian yang tertutup. Kita hidup di era pertanian kolaboratif—di mana benih ditanam bukan hanya di tanah, tapi juga dalam relasi antarbangsa.
Nota kesepahaman ini bukanlah akhir dari sebuah diplomasi, melainkan awal dari sebuah revolusi hijau yang lintas negara. Mari kita jaga semangatnya, kawal implementasinya, dan tanamkan harapan bahwa dengan kolaborasi, pertanian Indonesia bisa berdiri tegak sebagai pemimpin pangan di masa depan.

Leave a comment