Program Wirausaha Merdeka Universitas Syiah Kuala (WMK USK) 2024 kembali menghadirkan sesi inspiratif melalui Sharing Session #5, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Immersion untuk memperdalam wawasan kewirausahaan mahasiswa. Kali ini, sesi yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 16 November 2024, menghadirkan narasumber spesial, Loretta Thamrin, CEO dan Founder Kodipest dan SIM Go Kong.

Mengusung tema “Educational and Telecommunication Business”, Loretta berbagi pandangan mendalam tentang bisnis global, membahas secara rinci tentang peluang, keterampilan, pola pikir, dan tantangan yang dihadapi dalam menghadapi dunia bisnis global yang terus berkembang.

Acara yang berlangsung pukul 09.00-10.30 WIB ini diawali dengan sambutan dari Direktur Direktorat Prestasi dan Kewirausahaan Universitas Syiah Kuala, Dr. Ir. Rahmat Fadhil, M.Sc. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Loretta atas kesediaannya berbagi ilmu meskipun jadwalnya yang sangat padat.

“Kesempatan seperti ini sangat berharga bagi mahasiswa kami. Saya berharap ilmu yang diberikan narasumber dapat memperkaya wawasan dan meningkatkan keterampilan para peserta, sehingga mereka siap menghadapi tantangan bisnis global yang semakin kompetitif,” ujar Dr. Rahmat Fadhil.

Acara ini dipandu oleh moderator Hendra Halim, M.E., yang juga merupakan Manajer Operasional Inkubator Kewirausahaan USK dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK. Dengan pengalamannya di dunia pendidikan dan kewirausahaan, Hendra memandu diskusi dengan apik, menggali wawasan Loretta secara mendalam sambil menjaga keterlibatan peserta selama sesi berlangsung.

Loretta memulai sesi dengan berbagi perjalanan bisnisnya sebagai pendiri dua perusahaan yang sukses, Kodipest dan SIM Go Kong. Ia menekankan pentingnya membaca peluang di sektor bisnis global, terutama di bidang pendidikan dan telekomunikasi.

Loretta menjelaskan bahwa dunia bisnis saat ini sangat terbuka untuk berbagai inovasi, terutama di era digitalisasi yang terus berkembang pesat. Dalam sektor pendidikan, misalnya, ada peluang besar untuk menciptakan solusi berbasis teknologi yang dapat menjangkau masyarakat luas, seperti platform belajar daring atau alat bantu belajar berbasis AI. Di bidang telekomunikasi, Loretta menyoroti peran konektivitas yang semakin menjadi kebutuhan utama di seluruh dunia.

“Bisnis global tidak hanya berbicara tentang menjual produk ke luar negeri, tetapi juga tentang bagaimana kita menciptakan solusi yang relevan secara universal. Pahami kebutuhan pasar dan sesuaikan inovasi dengan budaya serta karakteristik konsumen,” jelasnya.

Loretta menggarisbawahi bahwa keterampilan teknis saja tidak cukup untuk bersaing di pasar global. Ia menekankan pentingnya keterampilan lunak (soft skills), seperti komunikasi antarbudaya, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi.

“Pola pikir adalah kunci utama. Untuk sukses di bisnis global, Anda harus berpikir besar dan berani menghadapi kegagalan. Jangan takut untuk belajar dari kesalahan, karena dari situlah kita tumbuh,” ungkapnya. Loretta juga mendorong mahasiswa untuk terus memperbarui keterampilan mereka, seperti menguasai teknologi terbaru, memahami data analitik, dan memperluas jaringan internasional.

Meskipun peluang terbuka lebar, Loretta tidak mengabaikan tantangan yang ada. Ia menyebutkan beberapa kendala utama, seperti perbedaan budaya, regulasi internasional, dan persaingan yang ketat. Namun, menurutnya, tantangan ini bisa diatasi dengan riset pasar yang mendalam dan kemitraan strategis.

“Dalam bisnis global, tantangan adalah bagian dari proses. Jangan melihatnya sebagai hambatan, tetapi sebagai peluang untuk menemukan solusi yang lebih inovatif,” tambahnya.

Sesi ini berlangsung dengan sangat interaktif, di mana mahasiswa WMK USK aktif mengajukan pertanyaan kepada Loretta. Beberapa pertanyaan menarik mencakup bagaimana menghadapi persaingan global di era digital, cara membangun merek lokal yang mampu bersaing di pasar internasional, hingga tips untuk memulai bisnis di sektor teknologi dengan modal terbatas.

Loretta menjawab setiap pertanyaan dengan penuh semangat, memberikan contoh nyata dari pengalamannya sendiri. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

“Mulailah dengan apa yang Anda miliki. Jangan terlalu fokus pada keterbatasan, tetapi fokuslah pada potensi dan peluang yang bisa Anda maksimalkan,” kata Loretta kepada peserta.

Menutup sesi, Loretta memberikan pesan motivasi kepada para peserta. Ia percaya bahwa mahasiswa USK memiliki potensi besar untuk menjadi pengusaha sukses, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga global.

“Saya melihat semangat besar dari kalian semua. Teruslah belajar, jangan takut mencoba, dan bangunlah bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat,” tuturnya.

Sharing Session #5 ini menjadi momen berharga bagi peserta WMK USK 2024 untuk mendapatkan wawasan langsung dari praktisi bisnis global. Dengan tema yang relevan dan narasumber yang inspiratif, sesi ini tidak hanya membuka wawasan baru tetapi juga memotivasi mahasiswa untuk berani mengejar mimpi besar di dunia bisnis.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Rahmat Fadhil, sesi ini diharapkan dapat memberikan bekal keterampilan dan pola pikir yang lebih matang bagi mahasiswa, sehingga mereka mampu menjadi agen perubahan yang inovatif dan kompetitif di kancah global.

Kegiatan ini adalah bukti nyata komitmen USK dalam mendukung pengembangan kewirausahaan mahasiswa melalui program Wirausaha Merdeka, sejalan dengan visi USK sebagai universitas unggul di tingkat internasional.

Leave a comment