Tim Mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil mengembangkan produk inovatif berupa scrub perpaduan kalsium oksida dari cangkang tiram dan minyak nilam fraksi ringan yang diberi nama “Scruber”. Tim mahasiswa tersebut terdiri atas Muhammad Ghufran (Ilmu Kelautan 21), Rizky Rayhan Prasetyo (Ilmu Hukum 21), Ismail Husein (Ilmu Kelautan 21), Maghfirah (Ilmu Kelautan 21), dan Dila Puspita Sari Simbolon (Ilmu Hukum 21). Tim ini dibimbing dan dimentori langsung oleh Dr Vicky Prajaputra M.Si, dosen dari Prodi Ilmu Kelautan FKP USK.
Produk Scruber dikembangkan sebagai respon terhadap dua permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat, yaitu penumpukan limbah cangkang tiram di Desa Alue Naga dan sulitnya petani Aceh memasarkan minyak nilam mentah yang mereka hasilkan. Awalnya, ide Scruber ini hanya berupa gagasan tanpa realisasi. Namun, semangat dan dedikasi tim untuk merealisasikan ide tersebut mendorong tim mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), yang akhirnya memberi kesempatan bagi tim untuk mengembangkan Scruber dari konsep menjadi produk. Alhamdulillah, tim berhasil lolos pendanaan P2MW dan memulai pengembangan produk scruber, sehingga produk scruber mulai tumbuh secara perlahan.
Pengembangan produk Scruber dimulai dengan persiapan produksi kalsium oksida dari cangkang tiram. Scruber memanfaatkan potensi cangkang tiram yang kaya akan kalsium karbonat (CaCO3) hingga 96%, yang melalui proses kalsinasi pada suhu tinggi diubah menjadi kalsium oksida (CaO). CaO dalam produk Scruber telah diteliti bebas dari kandungan logam berat dan memiliki manfaat unggul sebagai bahan abrasif yang efektif dalam mengangkat sel kulit mati dan merangsang regenerasi kulit. Sementara itu, minyak nilam fraksi ringan yang ditambahkan ke dalam produk ini juga memberikan berbagai manfaat tambahan. Minyak nilam terkenal akan sifat antibakteri, antijamur, antioksidan, serta kemampuan antiaging, yang menjadikannya sangat bermanfaat dalam merawat dan melindungi kulit.
“Besar harapan kami agar SCRUBER menjadi solusi atas dua masalah utama di Aceh, yaitu menumpuknya limbah cangkang tiram serta sulitnya petani nilam memasarkan minyak nilam mentah yang mereka hasilkan,” ungkap Muhammad Ghufran, ketua tim SCRUBER. Dosen Pendamping sekaligus mentor dari Tim Scruber, Dr Vicky Prajaputra, menambahkan bahwa selain Scruber juga ada beberapa produk lain yang telah dihasilkan oleh tim mahasiswa dari Program Studi Ilmu Kelautan, seperti kolagen dari tulang tuna, masker wajah anti acne, serum anti aging berbahan kolagen tulang tuna, lotion anti nyamuk, dan hand moisturizer dari kombinasi gelatin kulit tuna dan minyak nilam. Selain itu, tim scruber telah berhasil mendapat bantuan pembiayaan paten formulasi pembuatan produk dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
SCRUBER mulai diproduksi sejak Februari 2024 di laboratorium Atsiri Research Center USK yang telah bersertifikat BPOM, sehingga kualitas dan keamanan produknya lebih terjamin. Bahan baku utamanya, yaitu kalsium oksida hasil kalsinasi dari cangkang tiram yang diambil dari pesisir pantai Alue Naga, sementara minyak nilam fraksi ringan dihasilkan melalui proses destilasi molekuler dari minyak nilam mentah yang dipasok oleh petani lokal. Produk inovasi ini berhasil membawa tim Scruber ke level nasional, diundang ke KMI Expo XV yang akan berlangsung pada 25-27 Oktober 2024 di Universitas Halu Oleo, Kendari. KMI Expo merupakan ajang penting bagi para wirausahawan muda untuk memamerkan produk mereka dan berkompetisi di tingkat nasional. “Lolosnya tim kami ke KMI Expo XV 2024 adalah pencapaian besar. Ini tidak hanya membuktikan kualitas produk Scruber, tetapi juga menjadi langkah penting dalam mendukung petani nilam Aceh dan memanfaatkan limbah cangkang tiram yang melimpah,” ujar Muhammad Ghufran, ketua tim Scruber.
Sementara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., menyampaikan bahwa dengan inovasi ini, kita berharap produk wirausaha mahasiswa dengan nama SCRUBER dapat memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan perekonomian petani nilam Aceh. “Semoga produk ini menjadi salah satu produk yang dapat memenangkan juara pada KMI Expo nantinya,” sebut Prof Mustanir yang turut didampingi oleh Kepala Bagian Kewirausahaan USK, Dr. Evi Ramadhani, S.Si., M.Si.
https://drive.google.com/file/d/1KHON8BVt2vjFcWyH6hB-DeXDLbcz9pf0/view?usp=drivesdk

Leave a comment