Banda Aceh – Dalam rangka memperingati Hari Ozon Sedunia, Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar kuliah umum dengan tema “Tingkatkan Aksi Iklim, Ozon Aman”. Acara yang berlangsung pada Jumat, 20 September 2024, di Mini Teater Sekolah Pascasarjana USK ini menghadirkan narasumber internasional, Assoc. Prof. Dr. Jurry Foo dari Universiti Malaysia Sabah, Malaysia. Kuliah umum ini membahas strategi pengelolaan lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat dalam mengatasi isu-isu global, terutama terkait perubahan iklim dan pelestarian ozon.

Acara dimulai pukul 08.30 WIB dan dibuka dengan sambutan dari Direktur Pascasarjana USK, Prof. Dr. Hizir Sofyan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan Isu lingkungan global seperti deforestasi, krisis air, pencemaran mikroplastik, hilangnya keanekaragaman hayati, pemanasan global, dan perubahan iklim semakin mendesak. Emisi gas rumah kaca, terutama CO2, berkontribusi pada peningkatan suhu bumi, dan untuk mengatasinya, diperlukan langkah-langkah seperti pengurangan emisi, penggunaan energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, serta kebijakan lingkungan yang ketat.

Prof. Hizir juga menekankan bahwa dalam menyambut Hari Ozon Sedunia pada 16 September 2024, penting untuk mengevaluasi strategi pengelolaan lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat. Masyarakat dapat berperan menjaga alam melalui upaya kecil yang berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan didukung oleh tiga pilar utama: hubungan sosial, lingkungan, dan ekonomi, ditambah teknologi.

Prof. Ichwana, ST, M.T, selaku Koordinator Program Magister Pengelolaan Lingkungan USK, turut memberikan sambutan. Beliau menyoroti peran akademisi dan peneliti dalam memimpin upaya pelestarian lingkungan serta pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak kerusakan ozon dan perubahan iklim. “Kita harus memperkuat aksi nyata yang melibatkan semua pihak, terutama masyarakat lokal, agar pengelolaan lingkungan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Narasumber utama, Assoc. Prof. Dr. Jurry Foo, memaparkan materi dengan judul “Strategi Pengelolaan Lingkungan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dalam Mengatasi Isu Global”. Dr. Jurry Foo, seorang akademisi dan peneliti dari Universiti Malaysia Sabah, dikenal dengan berbagai kajian terkait etnobotani, pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas, serta inovasi dalam pemberdayaan masyarakat di Sabah, Malaysia.

Dalam kuliah tamunya, Dr. Jurry menguraikan berbagai pendekatan yang telah diterapkan di Sabah melalui sistem Tagal, yaitu pengelolaan ekosistem sungai berbasis komunitas. “Pemberdayaan masyarakat lokal merupakan kunci keberhasilan dalam menjaga ekosistem. Mereka memiliki pengetahuan dan kearifan lokal yang sangat berharga dalam pengelolaan lingkungan,” jelasnya. Beliau juga menekankan bahwa tantangan perubahan iklim memerlukan solusi yang bersifat holistik dan melibatkan semua lapisan masyarakat, mulai dari pemerintahan hingga komunitas lokal.

Assoc. Prof. Dr. Jurry Foo adalah seorang ahli akademik di Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan, Universiti Malaysia Sabah, Kota Kinabalu, Sabah. Beliau memperoleh gelar Doktor Falsafah dalam bidang Alam Sekitar dan Pembangunan dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Sebagai anak jati kelahiran Ranau, Sabah, Dr. Jurry telah banyak melakukan penelitian dalam bidang etnobotani, pengelolaan lingkungan, serta pemberdayaan sumber daya alam berbasis komunitas di Sabah. Karyanya yang paling terkenal adalah *Modul Pengajaran dan Pembelajaran TagaLit* serta *Serunding Kubis*, yang telah diakui di tingkat internasional.

Dr. Jurry juga dianugerahi penghargaan sebagai Penyelidik Terbaik dalam bidang Sains Sosial di Universiti Malaysia Sabah pada tahun 2021. Dengan pengalaman dan prestasinya, beliau terus menjadi tokoh penting dalam penelitian yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal untuk menghadapi tantangan lingkungan global.

Prof. Ichwana kembali menekankan bahwa kuliah umum ini memberikan wawasan yang mendalam mengenai bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat menjadi solusi dalam pengelolaan lingkungan yang lebih efektif. Dengan berbagai pendekatan yang dipaparkan, terutama dari pengalaman Dr. Jurry Foo, diharapkan kolaborasi lintas negara dapat semakin diperkuat untuk mengatasi tantangan lingkungan global seperti perubahan iklim dan kerusakan ozon.

Acara berakhir pukul 10.30 WIB dan diharapkan dapat memotivasi para peserta, terutama kalangan akademisi dan mahasiswa, untuk terus aktif dalam aksi-aksi pelestarian lingkungan yang nyata.

Leave a comment