
Banda Aceh, 3 September 2024 – Program Magister Pengelolaan Lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh resmi menjalin kerjasama dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam sebuah langkah strategis untuk melestarikan ekosistem gambut dan budaya lokal di Aceh. Kolaborasi ini mencakup bidang konservasi ekosistem gambut, pelestarian budaya, dan kearifan lokal, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat Aceh.
Konservasi ekosistem gambut dan pelestarian budaya bukanlah tugas yang bisa diselesaikan sendirian; diperlukan kerjasama dari berbagai sektor untuk mencapainya. Dr. Harry Nuriman, M.Si dalam pemaparannya menekankan pentingnya memiliki roadmap yang efisien dan alokasi sumber daya manusia yang tepat untuk pelaksanaan di lapangan. Salah satu inovasi yang dibawanya adalah jejaring DPMG (Desa Mandiri Peduli Gambut) https://www.dmpg.org, sebuah dashboard evaluasi dan monitoring yang menampilkan profil desa serta responden untuk mengidentifikasi potensi desa. Selain itu, Khazanah.net, sebuah platform yang melibatkan UMKM untuk melestarikan potensi khas daerah, juga menjadi sorotan. Sebagai alumni LEMHANNAS RI, Dr. Harry membagikan pengalamannya melalui Ekspedisi Malipir yang melibatkan mahasiswa dalam menjaga tepian tanah air, menggarisbawahi bahwa pelestarian lingkungan memerlukan partisipasi aktif dari semua pihak, terutama generasi muda.

Dr. Mhd. Ikhsan Sulaiman, S.TP., M.Sc., Wakil Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana USK, dalam sambutannya menyampaikan bahwa program ini sangat penting dalam meningkatkan produktivitas lahan gambut dengan menerapkan metode yang ramah lingkungan. “Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan hasil pertanian di lahan gambut sekaligus melestarikan kearifan lokal yang ada di Aceh,” ujarnya.
Dr. Nia Kurniasih, M.Hum. juga menyoroti dua poin penting dalam pengelolaan lingkungan, yakni keberlanjutan ekosistem (sustainability) dan ketahanan budaya (cultural resilience). Menurutnya, keberlanjutan dan pelestarian budaya adalah fondasi utama dalam menjaga warisan budaya Indonesia, terutama di Aceh yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal.
Dr. Harry Nuriman, M.Si. menjelaskan tentang pentingnya sinergi dari berbagai sektor dalam konservasi ekosistem gambut dan pelestarian budaya. Ia memaparkan tiga poin utama dalam upayanya, yakni penguatan jejaring Desa Mandiri Peduli Gambut (DPMG), pelestarian budaya melalui Khazanah.net, dan keterlibatan mahasiswa dalam Ekspedisi Malipir. “Ekspedisi ini bertujuan untuk melibatkan mahasiswa dalam kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat di sekitar lahan gambut,” ungkapnya.
Prof. Dr. Ichwana, S.T., M.P., Koordinator Magister Pengelolaan Lingkungan USK, menyampaikan apresiasi atas inisiatif kerjasama ini. Dalam pemaparannya, Prof. Ichwana menyampaikan secara khusus pada Ekosistem Gambut yang tidak layak segera untuk dilakukan pemulihan pada tingkat Tatanan Komponen, Rewetting, Rehabilitasi, Revegetasi hingga Revetalisasi Masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Beberapa contoh kegiatan yang pernah ditangani oleh akademisi USK juga ditampilkan dan diiskusikan ditambah saran dari Prof. Dr. Ashabul Anhar yang memberi masukan untuk web dmpg dan Pak Yusya Abubakar (Ketua unit pengembangan Sekolah Pascasarjana) juga menyampaikan saran untuk pandangan dan rencana strategis untuk pemberdayaan masyarakat disekitaran lahan gambut.
Koordinator Magister Pengelolaan Lingkungan Koordinator Magister Pengelolaan Lingkungan Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ichwana, S.T, M. P dalam sambutan menanggapi dan menyampaikan apresiasi kepada Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin S.Si., M.Tech yang telah membuka Kerjasama dan pertemuan dengan tim Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Terimakasih kepada seluruh pihak telah berhadir dan berkontribusi untuk mengevaluasi dan memperkuat strategi pengelolaan lahan gambut jangka panjang sebagai penyediaan bahan pangan terutama di Provinsi Aceh.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Aceh/mewakili, Almuzina Kamar. Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Satu Pintu dan Tenaga Kerja Aceh/mewakil, Faisal Azwar. Departemen Teknik Pertanian, Dr. Ir. Syahrul, M. Sc, Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian, Ir. Ali M. Muslih, S. Hut, M. Si, Dinas Lingkungan Hidup Kota Banda Aceh, dan berbagai Dosen serta Pemerintahan Banda Aceh.

Acara ini juga ditandai dengan penandatanganan Implementation of Agreement (IoA) antara USK dan ITB, serta penyerahan cendera mata dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB kepada Magister Pengelolaan Lingkungan USK. Beberapa tokoh dari instansi pemerintahan Aceh juga turut hadir, termasuk Kepala Dinas Pariwisata Aceh, Almuzina Kamar, dan Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Satu Pintu, dan Tenaga Kerja Aceh, Faisal Azwar.
Pertemuan ini diakhiri dengan sesi diskusi dan musyawarah yang dipandu oleh Cut Nur Nabilah Fildzah, mahasiswi Magister Pengelolaan Lingkungan USK. Diskusi ini membahas kondisi dan potensi lapangan, serta berbagai strategi yang dapat diterapkan untuk menjaga kelestarian ekosistem gambut dan warisan budaya di Aceh.
Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya melestarikan lingkungan dan budaya Aceh. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen USK dan ITB dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan kekayaan budaya Indonesia, khususnya di Provinsi Aceh.

Leave a comment