Oleh: Bambang Sukarno Putra, S.TP, M.Si

bambangtp@usk.ac.id Banda Aceh, 18 Agustus  2024

Setiap bulan Agustus, kita diingatkan akan perjuangan panjang para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia. Namun, di tengah gegap gempita perayaan 17 Agustus, satu pertanyaan mendasar kerap terabaikan: setelah 79 tahun merdeka, apakah kita benar-benar bebas? Atau jangan-jangan kita masih terbelenggu, kali ini oleh rantai yang tidak kasat mata—yaitu ketidakadilan, ketimpangan sosial, dan korupsi yang mendarah daging?

Artikel yang diangkat oleh Detik.com berjudul “Kemerdekaan dan Harapan: Indonesia Baru” mengusung narasi optimisme tentang masa depan Indonesia. Namun, optimisme ini perlu dikritisi. Di balik harapan akan “Indonesia baru” yang lebih sejahtera dan adil, ada kenyataan pahit yang sering kali kita tutup mata. Harapan ini kerap menjadi wacana retoris belaka tanpa landasan konkret. Apakah benar ada “Indonesia baru” yang siap kita sambut? Atau hanya ilusi indah yang dijajakan oleh segelintir elit untuk meredam keresahan publik?

Merdeka, tapi dari Apa?

Kemerdekaan sejati seharusnya berarti terbebas dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Namun, di Indonesia, kemerdekaan masih tampak seperti label kosong yang dipajang di etalase demokrasi. Faktanya, kita masih bergulat dengan masalah-masalah mendasar yang seharusnya sudah teratasi sejak lama. Pendidikan yang tidak merata, layanan kesehatan yang timpang, hingga angka kemiskinan yang masih tinggi menjadi bukti bahwa kita belum benar-benar merdeka. Apalagi, ketika ketimpangan ekonomi makin menganga, dengan sebagian kecil orang menguasai kekayaan nasional, sementara jutaan rakyat hidup dalam garis kemiskinan.

Sebagai bangsa, kita harus kritis dalam menakar makna “kemerdekaan” yang selama ini kita rayakan. Apakah kita sudah merdeka dari praktik oligarki yang semakin menggurita? Apakah kita benar-benar bebas dari cengkeraman korupsi yang terus menggerogoti sendi-sendi pemerintahan dan ekonomi? Ini adalah ironi dalam perjalanan panjang kemerdekaan kita. Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata justru dipermainkan oleh elit-elit politik yang lebih sibuk mengamankan kepentingan pribadi daripada memikirkan kesejahteraan rakyat.

Harapan Palsu di Tengah Politik Transaksional

Optimisme yang ditiupkan oleh gagasan “Indonesia baru” sering kali tidak sejalan dengan realitas politik di lapangan. Setiap kali menjelang pemilu, kita mendengar janji-janji manis tentang perubahan, reformasi, dan perbaikan. Namun, setelah pesta demokrasi selesai, yang tersisa hanya kekecewaan dan ketidakpuasan. Politik transaksional yang menjadi ciri khas pemilihan umum di Indonesia membuat harapan akan perbaikan menjadi nyaris mustahil terwujud.

Banyak dari kita yang telah lelah menjadi penonton setia dari drama politik yang berulang-ulang, di mana janji-janji tinggal janji dan perubahan yang diharapkan hanyalah fatamorgana. Harapan tentang “Indonesia baru” sering kali dipermainkan oleh elite yang tahu betul bagaimana memainkan sentimen rakyat untuk meraih kekuasaan. Setelah kekuasaan diraih, harapan itu perlahan sirna, tergantikan oleh realitas pragmatisme politik yang mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan rakyat.

Ketimpangan Sosial yang Kian Nyata

Ketika kita berbicara tentang harapan akan “Indonesia baru”, kita juga harus bertanya: siapa yang sebenarnya menikmati kemerdekaan ini? Rakyat kecil yang berjuang dari pagi hingga malam hanya untuk sekadar bertahan hidup, atau mereka yang duduk nyaman di puncak piramida sosial? Ketimpangan yang terus mengakar menjadi tembok besar yang menghalangi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Harapan tanpa usaha nyata untuk mengatasi ketimpangan hanya akan melahirkan generasi yang apatis. Mereka yang merasa bahwa harapan hanya milik mereka yang beruntung terlahir di keluarga kaya atau berkuasa. Bagaimana mungkin kita berharap pada Indonesia baru jika keadilan yang seharusnya menjadi hak semua orang masih dirampas oleh segelintir orang? Kemerdekaan yang sejati bukan hanya soal terbebas dari penjajahan asing, tetapi juga soal terciptanya keadilan sosial dan ekonomi yang merata.

Peran Generasi Muda: Antara Idealisme dan Pragmatisme

Generasi muda sering kali diandalkan sebagai agen perubahan dalam mewujudkan harapan akan Indonesia baru. Namun, apakah mereka benar-benar memiliki ruang untuk bergerak bebas dan independen? Di satu sisi, ada idealisme yang menggebu, keinginan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Namun, di sisi lain, sistem yang korup dan penuh intrik politik sering kali memaksa mereka untuk menyerah pada pragmatisme.

Ketika sistem terus-menerus menekan idealisme generasi muda, harapan akan perubahan semakin redup. Banyak dari mereka yang akhirnya terjerat dalam pusaran sistem yang sama, menjadi bagian dari masalah alih-alih solusi. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang Indonesia baru jika generasi penerus bangsa justru dilumpuhkan oleh sistem yang korup?

Indonesia Baru: Antara Cita-Cita dan Realitas

Pada akhirnya, gagasan tentang “Indonesia baru” yang penuh harapan akan terus menjadi wacana yang indah, tetapi kosong, jika tidak diiringi dengan upaya konkret dan perubahan sistemik. Kita tidak bisa terus-menerus terbuai oleh narasi optimisme tanpa keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit. Harapan tanpa aksi adalah ilusi. Jika kita ingin Indonesia yang benar-benar baru, kita harus mulai dengan mengubah pola pikir kita sendiri dan menuntut perubahan dari akar.

Setiap generasi punya tugasnya masing-masing dalam melanjutkan perjuangan kemerdekaan. Generasi kita, tugasnya bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah asing, tetapi mengangkat suara melawan ketidakadilan dan ketimpangan. Merdeka bukan hanya soal kebebasan dari penjajahan fisik, tetapi juga dari penjajahan pikiran dan ketidakadilan yang masih merajalela. Kita harus berani menuntut lebih dari sekadar janji-janji kosong dan memegang teguh cita-cita kemerdekaan yang sejati.

Kesimpulan: Menggugat Narasi Kemerdekaan dan Harapan

Jika kita serius dengan harapan akan Indonesia baru, kita harus berani menggugat narasi kemerdekaan yang selama ini kita agung-agungkan. Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, tetapi titik awal menuju masyarakat yang adil dan makmur. Setiap warga negara harus kritis dalam melihat realitas sosial, ekonomi, dan politik yang ada. Kita tidak boleh lagi menjadi penonton pasif yang hanya puas dengan upacara bendera dan kembang api setiap Agustus. Kita harus menuntut perubahan nyata yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya segelintir elit.

Indonesia baru yang diharapkan tidak akan terwujud jika kita terus-menerus menutup mata terhadap masalah yang ada. Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap rakyat merasa mendapatkan haknya, ketika setiap suara didengar, dan ketika keadilan benar-benar ditegakkan. Mari kita wujudkan harapan itu, bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan aksi nyata dan keberanian untuk menggugat status quo.

#HarapanIndonesia #KemerdekaanSejati #IndonesiaBaru

Leave a comment