Oleh: Bambang Sukarno Putra, S.TP, M.Si

Banda Aceh, 12 Maret  2024

Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, Revolusi Hijau telah menjadi istilah yang tidak asing lagi di kalangan praktisi dan pemerhati pertanian. Langkah ini dianggap sebagai solusi terobosan untuk mengatasi masalah kelaparan dan ketahanan pangan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun, di balik kemajuan tersebut, terdapat pula isu krusial yang seringkali terlupakan, yaitu kesenjangan akses terhadap pangan yang masih menjadi bayang-bayang bagi sebagian masyarakat kita. 

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sekitar 22,9 juta penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan, dengan akses terhadap pangan yang memadai menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi. Di sisi lain, Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan bahwa produksi pangan pokok seperti beras, jagung, dan kedelai mengalami surplus. Ironisnya, surplus produksi ini belum mampu mengatasi kesenjangan akses pangan yang terjadi di beberapa daerah. Revolusi Hijau 2.0 yang kini digaungkan merupakan jawaban atas tantangan tersebut. Inisiatif ini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi melalui penggunaan varietas tanaman unggul, mekanisasi pertanian, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, tetapi juga menitikberatkan pada distribusi dan aksesibilitas pangan bagi seluruh lapisan masyarakat. 

Pertanyaannya, bagaimana Revolusi Hijau 2.0 ini dapat diimplementasikan di Indonesia untuk mengatasi kesenjangan akses terhadap pangan?

Pertama, peningkatan infrastruktur menjadi kunci utama. Infrastruktur yang memadai akan memperlancar distribusi pangan dari produsen ke konsumen, khususnya di daerah terpencil dan terisolasi. Program-program pemerintah seperti pembangunan jalan desa, jembatan, dan fasilitas penyimpanan pangan harus terus diperkuat dan diperluas cakupannya. 

Kedua, penerapan teknologi pertanian modern perlu diintegrasikan lebih luas lagi. Penggunaan sistem irigasi pintar, drone untuk pemetaan lahan, dan aplikasi digital untuk pemantauan hama dan penyakit tanaman dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Akan tetapi, teknologi ini harus diimbangi dengan pelatihan dan pendampingan bagi petani agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. 

Ketiga, diversifikasi produk pangan. Ketergantungan pada satu atau dua jenis komoditas pangan utama seperti beras harus dikurangi. Masyarakat perlu diberdayakan untuk mengembangkan dan mengonsumsi alternatif pangan lokal yang tidak kalah bernutrisi, seperti sorgum, ubi jalar, dan millet. Diversifikasi ini tidak hanya akan meningkatkan ketahanan pangan namun juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani. 

Keempat, memperkuat sistem asuransi pertanian. Risiko gagal panen dan fluktuasi harga komoditas seringkali menjadi pukulan berat bagi petani. Sistem asuransi pertanian yang kuat dan inklusif dapat memberikan jaminan dan keamanan bagi petani untuk terus berproduksi, bahkan dalam kondisi yang tidak menentu. 

Kelima, mempromosikan konsumsi pangan berkelanjutan. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pola konsumsi pangan yang berkelanjutan dan diversifikasi konsumsi dapat menurunkan tekanan terhadap beberapa jenis pangan pokok yang saat ini terus meningkat permintaannya. 

Terakhir, penguatan koperasi dan lembaga petani. Organisasi petani dan koperasi yang kuat dapat meningkatkan daya tawar petani, memperluas akses terhadap pasar, dan meminimalisir peran tengkulak yang seringkali merugikan petani. 

Revolusi Hijau 2.0 di Indonesia harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat luas. Sinergi dan kolaborasi antarsektor menjadi kunci untuk mencapai tujuan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan. 

Di tengah perjuangan ini, kita harus selalu ingat bahwa tujuan akhir dari semua upaya tersebut bukan hanya mencapai swasembada pangan, tetapi lebih dari itu, adalah untuk memastikan bahwa setiap warga negara memiliki akses yang setara terhadap pangan yang cukup, bergizi, dan aman. Hanya dengan cara inilah kita dapat benar-benar mengatasi kesenjangan akses terhadap pangan di Indonesia. 

Mari kita dukung Revolusi Hijau 2.0 dengan semangat baru dan pendekatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Karena hanya dengan bekerja bersama, kita dapat menciptakan Indonesia yang lebih hijau dan bebas dari kelaparan.

#RevolusiHijau #KetahananPangan #AksesPangan #PertanianBerkelanjutan #InovasiPertanian #DiversifikasiPangan #AsuransiPertanian #KonsumsiBerkelanjutan #KoperasiPetani

Leave a comment