BAMBANG SUKARNO PUTRA, ST.P, M.Si
BANDA ACEH, 9 MARET 2024
Di era kemajuan teknologi yang tak terelakkan, automasi pertanian telah menjadi salah satu topik yang hangat diperbincangkan di kalangan komunitas tani Indonesia. Dikenal dengan kecanggihannya dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas, automasi pertanian kini telah merambah desa-desa, menjanjikan masa depan pertanian yang lebih cerah. Namun, di balik gemerlap janji teknologi, terselip kekhawatiran tentang dampaknya terhadap hubungan sosial di komunitas tani. Artikel ini mencoba menggali lebih dalam tentang dinamika tersebut, berdasarkan data dan fakta yang ada, untuk menawarkan perspektif yang lebih seimbang.
Transformasi yang Diusung Automasi
Automasi pertanian, yang meliputi penggunaan drone untuk pemetaan dan penyemprotan, sistem irigasi otomatis, hingga robot panen, telah terbukti meningkatkan produktivitas lahan. Data dari Kementerian Pertanian RI menunjukkan bahwa penggunaan teknologi automasi dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 30% dan produktivitas tanaman hingga 20%. Ini adalah kabar baik bagi Indonesia, negara agraris yang tengah berupaya meningkatkan swasembada pangan.
Dampak terhadap Hubungan Sosial
Namun, ada sisi lain dari penggunaan teknologi ini yang perlu diperhatikan, yaitu dampaknya terhadap hubungan sosial dalam komunitas tani. Secara tradisional, pertanian di Indonesia tidak hanya merupakan aktivitas ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Gotong royong dalam bercocok tanam atau panen adalah salah satu bentuk interaksi sosial yang memperkuat kebersamaan dan solidaritas sosial di pedesaan.
Pengenalan automasi pertanian memang mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja fisik, yang bisa berarti pengurangan kesempatan bagi interaksi sosial tersebut. Sebuah studi oleh Universitas Gadjah Mada pada tahun 2022 menunjukkan bahwa di beberapa komunitas tani, penggunaan mesin panen otomatis mengurangi jumlah hari kerja bersama hingga 50%, yang berpotensi mengurangi interaksi antaranggota komunitas.
Mencari Keseimbangan
Namun, harus diakui bahwa automasi juga membuka peluang baru untuk interaksi sosial. Workshop dan pelatihan tentang penggunaan dan pemeliharaan teknologi pertanian baru menjadi momen-momen baru untuk berkumpul dan berbagi pengetahuan. Di sisi lain, penghematan waktu dan tenaga yang diberikan oleh automasi dapat digunakan untuk kegiatan sosial dalam komunitas, seperti pertemuan komunitas atau kegiatan edukasi bersama.
Lebih jauh, automasi pertanian dapat menjadi katalisator untuk solidaritas komunitas dalam bentuk baru. Contohnya, inisiatif bersama dalam pengelolaan dan pemeliharaan peralatan teknologi, atau kerja sama dalam pemasaran hasil pertanian melalui platform digital, yang semakin menguatkan keterkaitan sosial dan ekonomi antaranggota komunitas.
Kesimpulan: Antara Efisiensi dan Kebersamaan
Dengan demikian, sementara automasi pertanian membawa perubahan pada dinamika hubungan sosial di komunitas tani, tidak selalu berarti perubahan tersebut negatif. Kuncinya adalah bagaimana komunitas tani dan pemangku kebijakan dapat menavigasi transformasi ini dengan bijak, memastikan bahwa sambil mengejar efisiensi dan produktivitas, kekompakan sosial dan kebersamaan tidak tergerus.
Pentingnya pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek teknologi, sosial, dan budaya dalam pengembangan pertanian masa depan Indonesia tidak bisa lebih ditekankan lagi. Dialog antara petani, pembuat kebijakan, dan ahli teknologi harus terus digalakkan untuk menciptakan ekosistem pertanian yang tidak hanya canggih dan produktif, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.
“Membangun Pertanian Masa Depan: Saatnya Menyelaraskan Teknologi dan Kebersamaan.”**
Pada akhirnya, pertanian modern di Indonesia harus mampu menghadirkan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pelestarian nilai-nilai sosial yang telah lama menjadi fondasi komunitas tani. Melalui pemahaman yang mendalam dan kolaborasi yang erat, kita bisa menciptakan masa depan pertanian yang tidak hanya efisien dan produktif tetapi juga hangat dan inklusif.
#TeknologiPertanian #KomunitasTani #AutomasiPertanian #SolidaritasSosial

Leave a comment