Beda Level di Hadapan Manusia, Beda di Hadapan Allah: Refleksi Keadilan dan Ketimpangan

Di dunia ini, kita hidup dalam hirarki yang terbentuk oleh manusia. Kita mengenal kelas sosial, status ekonomi, jabatan, dan pengaruh. Seolah-olah kehidupan telah diatur oleh sebuah sistem level yang menentukan siapa yang berhak duduk di depan, siapa yang harus berdiri di belakang, siapa yang layak didengar, dan siapa yang harus diam. Dari CEO yang duduk di puncak gedung perkantoran hingga pedagang kecil yang berjuang di pinggir jalan, kita menyaksikan bagaimana manusia menilai dan memposisikan satu sama lain berdasarkan tolok ukur duniawi. Tetapi apakah hirarki ini berlaku di hadapan Allah?

Di hadapan manusia, kita bisa berada pada level yang berbeda-beda. Ada yang dipuja, dihormati, bahkan ditakuti karena kekuasaan dan kekayaannya. Ada yang dianggap tidak berarti, tidak layak dihargai hanya karena penampilannya sederhana atau pekerjaannya dianggap tidak bergengsi. Ketimpangan ini begitu nyata, mengakar dalam masyarakat, bahkan menggerus nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Namun, seiring kita terpaku pada hierarki buatan manusia, kita sering lupa bahwa pandangan Allah terhadap kita sangat berbeda. Di mata-Nya, status duniawi yang kita kejar mati-matian tak berarti apa-apa.

Level di Mata Manusia: Obsesi yang Menyesatkan

Kita sering melihat bagaimana orang berlomba-lomba menaikkan status sosial mereka. Jabatan tinggi, kekayaan berlimpah, dan popularitas menjadi simbol kesuksesan yang dipuja. Seorang pejabat dihormati karena jabatan dan kuasanya. Mereka yang memiliki kekayaan berlebih dipandang sebagai sosok sukses yang patut dicontoh. Padahal, tidak jarang kekayaan itu diperoleh dengan cara-cara yang penuh tipu daya dan merugikan banyak pihak. Tetapi, siapa peduli? Selama Anda bisa tampil di depan dan mendapatkan pujian, banyak yang tutup mata terhadap keburukan di balik layar.

Ada juga fenomena lain yang tidak kalah ironis. Di lingkungan masyarakat kita, seseorang sering kali diperlakukan berbeda hanya karena tampilan luarnya. Mereka yang berpakaian rapi, berpenampilan mewah, akan dilayani dengan senyum lebar. Sebaliknya, mereka yang datang dengan pakaian sederhana, mungkin hanya dianggap angin lalu. Di sini, jelas bahwa manusia lebih sering menilai dari apa yang terlihat di luar, bukan dari substansi diri seseorang.

Obsesi untuk “naik level” ini tidak berhenti di dunia kerja atau lingkungan sosial. Bahkan dalam pendidikan, kita diajari sejak dini untuk mengejar peringkat, nilai, dan prestasi sebagai tolok ukur keberhasilan. Kita dibentuk untuk berpikir bahwa semakin tinggi posisi kita, semakin bernilai hidup kita. Namun, apakah benar demikian di hadapan Sang Pencipta?

Beda di Mata Allah: Keadilan Sejati

Allah tidak menilai kita dari seberapa besar rumah kita, seberapa banyak harta yang kita miliki, atau seberapa tinggi jabatan kita. Allah tidak terkesan dengan mobil mewah, gelar panjang, atau popularitas. Dalam Islam, Allah menilai manusia berdasarkan ketakwaan dan amal kebaikan yang kita lakukan. Firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa.

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Di sini, terlihat jelas perbedaan antara standar penilaian manusia dan penilaian Allah. Ketika manusia mendewakan penampilan dan status, Allah hanya melihat hati dan niat kita. Ketika manusia menilai dari seberapa banyak yang kita miliki, Allah menilai dari seberapa ikhlas kita memberi. Ketika manusia sibuk mengagungkan prestasi duniawi, Allah lebih menghargai amal kebaikan yang kita lakukan meski kecil dan tersembunyi.

Seorang gelandangan yang tidak memiliki apa-apa di dunia ini, bisa jadi lebih mulia di hadapan Allah karena hatinya yang bersih dan doanya yang tulus. Sebaliknya, seorang konglomerat yang dipuja oleh masyarakat mungkin justru rendah di hadapan Allah karena kesombongan dan ketidakadilannya.

Refleksi: Mengapa Kita Terjebak?

Pertanyaan mendasar yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri adalah: Mengapa kita begitu terobsesi dengan level di hadapan manusia? Jawabannya mungkin terletak pada rasa takut. Takut tidak dihargai, takut tidak dianggap penting, takut tersingkirkan. Ketakutan inilah yang mendorong kita untuk terus berlomba mencapai level tertentu yang dianggap “aman” di mata manusia. Ironisnya, dalam proses itu, kita sering mengabaikan nilai-nilai yang seharusnya kita junjung tinggi. Kita rela mengorbankan prinsip demi mendaki tangga yang sebenarnya tidak membawa kita mendekat kepada Allah.

Kesadaran akan perbedaan penilaian ini seharusnya menjadi bahan renungan. Di akhir hidup kita, semua harta, jabatan, dan status tidak akan ikut masuk ke liang lahat. Yang tersisa hanyalah amal dan ketakwaan yang pernah kita kumpulkan. Namun, mengapa kita masih terjebak dalam ilusi duniawi ini? Karena kita hidup dalam masyarakat yang terus-menerus menilai dan menghakimi berdasarkan standar duniawi. Kita takut jika tidak mengikuti arus, kita akan tenggelam.

Mengubah Sudut Pandang: Mencari Makna yang Sejati

Saatnya kita mengubah sudut pandang. Alih-alih mengejar pengakuan manusia, lebih baik kita fokus pada bagaimana kita bisa lebih dekat kepada Allah. Hidup kita bukanlah tentang siapa yang berada di atas atau di bawah kita dalam hierarki sosial. Hidup adalah tentang bagaimana kita bisa menjalani peran kita dengan niat yang lurus dan amal yang ikhlas.

Bukan berarti kita harus meninggalkan ambisi duniawi sepenuhnya, tetapi pastikan bahwa ambisi itu tidak menguasai kita. Jabatan tinggi dan kekayaan bukanlah dosa, asalkan kita menyadari bahwa semua itu hanyalah titipan yang akan dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kita terjebak dalam pemikiran bahwa semakin tinggi level kita di mata manusia, semakin sukses kita di mata Allah. Itu adalah ilusi yang menyesatkan.

Pada akhirnya, kesadaran bahwa beda level di hadapan manusia tidak berarti beda di hadapan Allah seharusnya membuat kita lebih rendah hati. Keadilan sejati tidak terletak pada bagaimana manusia menilai kita, tetapi pada bagaimana Allah menimbang amal dan ketakwaan kita. Dunia mungkin tidak adil, tetapi Allah selalu adil. Maka, jangan khawatir jika Anda tidak dipandang tinggi oleh manusia. Fokuslah pada bagaimana Anda dipandang oleh Allah.

Setiap langkah, setiap keputusan, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini akan mendekatkan saya kepada Allah atau hanya membuat saya terlihat baik di mata manusia? Jangan sampai kita terjebak dalam level-level semu yang hanya bertahan di dunia, tetapi hampa di akhirat.

Leave a comment